Oleh: hudzai | 2 Februari 2009

Cermin Da’i; Ilmu dan Akhlaq

02051CERMIN DA’I; KEKUATAN ILMU DAN AKHLAK

Iftitah
Kata akhlaq disebutkan oleh Allah di dalam al Qur’an pada surah Al Qalam ayat ke 4 untuk merujuk kepada kepribadian agung Muhammad Rasulullah. Allah berfirman;

“Dan Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Para mufassir seperti Al Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat di atas menjelaskan kedudukan Nabi sebagai bentuk miniatur al Qur’an di mana Nabi memerintahkan dan melarang sesuatu, beramal atau meninggalkan sesuatu perkara, mengikuti wahyu al Qur’an. Ibnu Katsir kemudian menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh banyak jalur salah satunya dari sahabat Qatadah radhiyallâhuanhu yang bertanya kepada Ummul Mukmini A’isyah tentang akhlak Nabi. ‘Aisyah menjawab pertanyaan itu dengan ungkapan; “Sesungguhnya Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an.” Dalam penafsiran Ibnu Abbas radhiyallâhu’anhu, sebagaimana yang disebutkan Imam Al Qurthubi rahimahullah bahwa yang dimaksud dengan khuluq al adzhîm dalam ayat di atas adalah; dîn al adzhîm (yaitu; Islam). Artinya, ayat di atas sesungguhnya menunjukkan bahwa Rasulullah benar-benar hidup dengan akhlaq Islami.

Dalam catatan Ensiklopedi Umum, kata akhlak disepadankan dengan kata moral. Padahal, kata moral itu sendiri didefinisikan didalamnya sebagai; sebuah tata tertib tingkah laku yang dianggap baik dan luhur dalam suatu lingkungan atau masyarakat. Melalui pengertian ini, anggapan baik suatu masyarakat tentang moralitas jelas tidak sama, karena yang menjadi patokan adalah anggapan masyarakat. Bukan ketentuan baku yang mengikat semua manusia. Sementara itu, kata akhlaq di dalam bahasa Arab merupakan bentuk jama’ dari kata khuluq yang artinya; kebiasaan, perangai, tabi’at, dan agama. Ia merupakan tingkah laku yang lahir dari manusia sejara alami, tidak dibuat-buat dan telah manjadi kebiasaan. Definisi akhlak di dalam Islam sebagaimana merujuk kepada hadits Aisyah dan firman Allah diatas menjelaskan pandangan Islam tentang tata aturan tingkah laku yang bersumber kepada al Qur’an dan apa yang dicontohkan oleh Nabi (sunnah) atau; “akhlaq Islam”.

Da’i: Urgensi Ilmu dan Akhlak
Dalam pribadi seorang da’i baik bagi mereka yang sedang dalam proses pembentukan maupun mereka yang telah terjun ke lapangan, tidaklah dapat melepaskan dirinya dari dua bekal utama yaitu; ilmu dan akhlak. Kedua-duanya menjadi amunisi bagi da’i dalam aktifitasnya. Ayat yang mendasari kekuatan ilmu (hujjah) di dalam da’wah ada dalam surah Yusuf ayat 108.

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”.

Setidaknya ada tiga hal pokok yang dapat digaris bawahi dalam ayat ini, kaitannya dengan tugas da’wah. Pertama, da’wah harus berdasarkan manhaj yang benar (hâdzihi sabîlî), kedua, seruan da’wah seluruhnya terfokus hanya kepada Allah (ilallâh), dan ketiga, semua itu harus berdasarkan pada ilmu yaqin atau hujjah yang kuat (basyîrah). Sedangkan ayat-ayat yang memerintahkan seseorang untuk berakhlaq mulia adalah ayat-ayat yang berbicara dalam konteks berbuat baik (ihsan), sebab berbuat ihsan merupakan salah satu bentuk akhlaq mulia. Ayat-ayat tersebut berlaku secara umum bagi kaum muslimin baik ia da’i maupun mad’u, sebagaimana Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullâh ketika mejelaskan hadits (وَ خَالِقِ النّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ) menjelaskannya dengan ayat-ayat tentang ihsan dan taqwa (QS Ali Imran: 133134). Karena ilmu dan akhlaq merupakan syari’at Allah yang agung, maka seorang da’i berkewajiban untuk senantiasa berusaha berpegang teguh dengannya. Perkara ini menjadi begitu penting karena da’i memikul amanah yang berat sebagai pewaris risalah da’wah. Allâhuyarham Dr. M. Natsir didalam bukunya “Fiqhud Da’wah” berpesan; “Ummat Islam adalah pendukung amanah, untuk meneruskan Risalah dengan da’wah; baik sebagai umat kepada umat-umat yang lain, ataupun selaku perseorangan ditempat manapun mereka berada, menurut kemampuan masing-masing.” Dari pernyataan ini, memang pada asalnya seorang muslim dituntut untuk berda’wah sesuai dengan kemampuannya, akan tetapi selaku kader da’i tentunya tuntutan itu jauh lebih besar dirasakan dan amanah yang dipikul juga jauh lebih berat untuk diemban.
Imam Al Bukhari di didalam shaihnya membuat satu kumpulan hadits tentang ilmu dalam bab tersendiri ya’ni Kitâb al ‘Ilmi. Untuk menunjukkan hujjah hadits-hadits tersebut Al Bukhari memulainya dengan menyebutkan dua ayat al Qur’an (surah Al Mujadalah: 11 dan Tâhâ: 114). Beliau menempatkan dalam urutan pertama hadits tentang “amanah”, kaitannya dengan kredibelitas seseorang dalam memikul amanah tersebut. Hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah ra itu menceritakan pernah suatu ketika di dalam majelis Rasulullah, tiba-tiba Nabi ditanya oleh seseorang; “Kapan kiamat tiba ?.” Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat sebagian sahabat yang membersamai Nabi tanpak tidak menyukai sipenanya. Maka Rasulullahpun bertanya; “Siapa yang bertanya tentang kiamat tadi ?” seseorang kemudian menjawab; “Saya ya Rasulullah” maka beliau menjawab; “Apa bila anamah telah hilang, maka tunggulah tibanya kiamat.” Orang tadi bertanya lagi; “Bagimana (bentuk) hilangnya ?” Nabi menjawab; “Apabila suatu perkara dipikulkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat itu.”
Pengarang kitab ‘Aunul Bâri li Halli Adillati al Bukhâri Al ‘Alamah shadiq Hasan Khan rahimahullâh (W. 1307 H) menjelaskan bahwa makna al amru (perkara) di dalam lafadz hadits di atas berma’na; al amru muta’allaq bid dîn (perkara yang berkaitan tentang agama), seperti Khalifah, Mufti atau Qadhi atau semisalnya. Artinya, jika tempat-tempat tersebut diduduki bukan oleh pakarnya, maka itulah yang dimaksud dengan hilangnya amanah atau menempatkan sesuatu bukan kepada ahlinya, yang merupakan tanda dekatnya akhir zaman. Hadits lainnya yang memberikan kolerasi tentang fenomena ilmu agama di akhir zaman adalah sabda Nabi;

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَلْتَمِسَ الْعِلْمَ عِنْدَ الْأَصَاغِرِ
Artinya : “Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah diambilnya ilmu dari al-ashoghir (orang yang bodoh atau ahli bid’ah)”. (Syaikh Albani di dalam Silsilah Ahâdits Ash-Shahîhah, No: 695)
Yang dimaskud Ilmu didalam hadits ini adalah ilmu tentang agama (ad dîn). Oleh karenanya Al Imâm Muhammad bin Sirin rahimahullâh seorang tabi’in yang mulia memberikan tanbih bahwa: “Ilmu ini adalah agama itu sendiri. Maka lihatlah darimana kamu mengambil ilmu tersebut” dan dari ucapan beliau juga : “Dahulu para salaf (sahabat) tidak pernah bertanya tentang isnad tapi ketika terjadi fitnah, mereka bertanya: Siapa guru-gurumu ? Jika guru tersebut dari ahli sunnah maka diambil haditsnya tapi jika dari ahli bid’ah maka ditolak haditsnya.”

Panduan Akhlak bagi penuntut ilmu
Agar amanah da’wah ini dapat diemban dengan baik oleh kader da’wah yang sedang menjalani proses thalabul ‘ilmi, maka nasihat para ulama tentang akhlaq bagi penuntut ilmu sangat baik untuk dijadikan pedoman. Kami mencoba mensarikan dari sejumlah pandangan para ulama seperti; Syaikh Ibnu Baaz rahimahullâh, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullâh, Dr. Shalih As Suhaimi, Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr rahimahullâh, dan lain-lainnya. Semoga bermanfaat;

1. Ikhlas. Dalam sebuah hadits juga disebutkan; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan Ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi maka ia tidak mendapatkan harumnya surga pada hari kiamat.” [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Ahmad (II/338), Abu Dawud (3664), Ibnu Majah (252), al-Hakim (I/85), Ibnu Hibban (78) dan lainnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]. Syaikh Abdullah Ibnu Baaz rahimahullah berkata; ”Wajib bagi setiap da’i untuk mengikhlaskan diri kepada Alloh Azza wa Jalla, bukan karena keinginan untuk riya’ (pamer supaya dilihat orang) dan sum’ah (pamer supaya didengar orang) dan bukan pula untuk mendapatkan pujian dan sanjungan manusia. Hanya saja ia berdakwah kepada Allah untuk mengharap wajah Allah Jalla wa ’Ala semata, sebagaimana firman Alloh Subhanahu :

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ
”Katakanlah: Inilah jalanku, Aku menyeru hanya kepada Alloh.”

2. Mengawali dengan Memdalami Aqidah . Dr. Shalih As Suhaimi mengatakan, wajib bagi penuntut ilmu untuk memulai mendalami masalah aqidah, dan menda’wahkan aqidah sebagai permualaan sebelum yang lain. Maka benarlah perkataan Al Imâm Ibnu Qayyim Al Jauziyah sebagimana dijelaskan dalam kitabnya; Madârij as Sâlikîn dimana beliau mengatakan; “Tauhid adalah yang pertamakali diucapkan seseorang ketika pertama kali masuk ke dalam Islam dan yang terakhir kali sesaat sebelum meninggalkan dunia… tauhid adalah awal segala perkara dan akhir dari segalanya.”
3. Menghiasi diri dengan Berakhlaq Mulia. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata; ”Seorang da’i haruslah berperangai dengan akhlak yang mulia, dimana ilmunya tampak terefleksikan di dalam aqidah, ibadah, perilaku dan semua jalan hidupnya, sehingga ia dapat menjalankan peran sebagai seorang da’i di jalan Allah. Adapun apabila ia dalam keadaan sebaliknya, maka sesungguhnya dakwahnya akan gagal, sekiranya sukses maka kesuksesannya sedikit.” Beberapa pesan Rasulullah berikut ini adalah penguatnya;
(1) Rasulullah bersabda; ”Kaum mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaqnya paling baik diantara mereka, dan yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.” (HR. At Tirmidzi, No. 1162. Lafadz awalnya diriwayatkan oleh Abu Daud, No. 4682, Ahmad (Jilid II, hal. 250, 472), Al Hakim (Jilid I, hal. 3) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu. Berkata At Tirmidzi; hasan shahih)
(3) Rasulullah juga bersabda; ”Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat melainkan akhlaq yang baik…” (HR. At Tirmidzi, No. 2002, Abu Daud, No. 4799, Ahmad (Jilid VII, hal. 446,448) dari sahabat Abu Darda radhiyallâhu’anhu. Berkata At Tirmidzi; hadits ini hasan shahih)
(2) Rasulullah bersabda; ”Sesungguhnya di antara yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat mejelisnya dariku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya di antara kalian.” (HR. At Tirmidzi, No. 2018 dari sahabat Jabir radhiyallâhu’anhu Berkata At Tirmidzi; hadits hasan)
4. Tidak larut dalam Ta’asub golongan. Dr. Shalih As Suhaimi berkata, bahwa penuntut ilmu tidak boleh larut dalam kelompok-kelompok yang ada. Ikatan yang terjalin hanya kepada Allah dan bukan pada yang lain. Wala’ hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Syaikh Ibnu Baaz juga mengatakan; “Merupakan kewajiban bagi setiap da’i islam untuk berdakwah menyeru kepada Islam secara keseluruhan dan tidak memecah belah manusia, tidak menjadi orang yang fanatik (muta’ashshib) kepada madzhab tertentu, atau kabilah tertentu, atau fanatik kepada syaikhnya, atau kepada pemimpinnya, atau selainnya. Namun yang wajib baginya adalah menjadikan tujuannya adalah untuk menetapkan kebenaran dan menjelaskannya, menjadikan manusia lurus berada di atas kebenaran, walaupun menyelisihi pendapat Fulan atau Fulan atau Fulan.
5. Menyibukkan waktu dengan ilmu. Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr berkata; ”Hendaklah ia (penuntut ilmu) menyibukan dirinya dengan mencari ilmu yang bermanafaat dari pada ia sibuk melakukan celaan dan tahziran, dan giat serta bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu tersebut supaya ia mendapat faedah dan memberikan faedah.” Rasulullah shallallahu’alaihi wassallam bersabda, “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu dengan keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” [Hadits Shahih diriwayatkan oleh : al-Bukhari (6412), at-Tirmidzi (2304), Ibnu Majah (4170), Ahmad (I/258, 344), ad-Darimi (II/297), al-Hakim (IV/306) dan lainnya dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu]
6. Menghiasi diri dengan taqwa dan menjauhi maksiat. Bagi Imam As Syafi’i rahimahullâh. Ilmu adalah cahaya. Ia melukiskan dalam ba’it sya’irnya yang terkenal setelah pengaduannya kepada Imam Waki’ ;

شَكَوْتُ إِلَي وَكِيْعِ سُوْءَ حِفْظِيْ فَأَرْشَدَنِي إِلَي تَرْكِ الْمَعَاصِي

وَأَخْبَرَنِيْ بِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ وَنُوْرُ اللهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

7. Sabar dalam proses belajar dan Syukur akan ilmu yang telah didapatkan. Seorang penuntut ilmu wajib bersabar atas segala keterbatasan yang menimpa dirinya, baik dalam bentuk harta, fasilitas, tugas-tugas dan lain sebagainya seraya tetap semaksimal mungkin untuk mengusahakannnya seraya bersyukur atas ni’mat yang diberikan, hingga Allah akan selalu menambahkannya. Salah satu bentuk akhlak ini adalah senantiasa berdo’a agar ditambahkan ilmu oleh Allah, karena sesungguhnya Rasulullah tidak pernah diperintahkan Allah untuk meminta tambahan atas sesuatu selain meminta agar ditambahkan ilmu. Allah berfirman;

”Dan Katakanlah (Muhammad): “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114)

Dan dalam setelah selesai shalat subuh Nabi juga sering berdo’a dengan do’a ini;
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mo-hon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amal yang diteri-ma.” ( HR. Ibnu Majah dan ahli hadits yang lain. Lihat kitab Shahih Ibnu Majah 1/152 dan Majma’uz Zawaaid 10/111.)

———— Wallâhu A’lam Bishawab ———–
Daftar Pustaka

1. Abil Hida’ isma’il bin Katsir Al Quraisy, Tafsîr al Qur’an al Adzhîm, Beirut: Maktabah Al Ashriyyah, 2000,
2. Abi Abdillah Muhamamd bin Ahmad Al Anshari al Qurthubi, Al jâmi’ al Ahkâm al Qur’ân, Mesir: Dâr Al Kitab Al Arabi li at Thaba’ah wa an Nashr, 1967
3. Ag. Pringgodigdo (Ed.), Ensiklopedi Umum, Yogyakarta: Yayasan Kanisius, 1977
4. At Thahir Ahmad Az Zawi, Tartîb al Qâmûs al Muhîth ‘ala Tharîqah al Misbâh al Munîr wa Asâs al balâghah, Riyadh: Dâr Alam al Kutub, 1996
5. Abdul Aziz Dahlan (Ed.), Ensiklopedi Hukum Islam, “Akhlaq”, Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 1999
6. Abi Abdillah Abdirrahman bin Nashir bin Abdillah bin Nahsir As Sa’di, Taysîr al Karîm ar Rahmân fî Tafsir Kalam al Mannân, Beirut: Dâr Ihyâ’ at Turats al ‘Araby, 1999
7. Muhammad Uwais An Nadawi, Tafsîr al Qayyim li Ibn al Qayyim, tahqiq, Muhammad Hamid al Fata, Beirut: Lajnah At Turats Al ‘Araby,ttp
8. Ibnu Rajab Al Hanbali, Jâmi’ al ‘Ulûm wa al Hikam fî Syarhi Khamsîn Hadîtsan min Jawâmi’ al Kalam, tahqiq. Sya’im al Arnauth, Beirut: Mu’assasah Ar Risalah, 1998
9. M. Natsir, Fiqhud Da’wah, Jakarta: Media Da’wah, 2000
10. Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, Shahîh al Bukhâri, Riyadh: Dâr as Salâm, 1997
11. Alamah Shadiq Hasan Khan Al Bukhari, ‘Aunul Bâri li Halli Adillati al Bukhâri, Suria: Dar Ar Rasyîd, 1984
12. Lihat Muqqaddimah Shahîh Muslim dalam bab Ann al Isnâd Min ad Dîn. Al Imâm Muslim An naisabûry, Shahîh Muslim, (Thoba’ah Mumtâzah Muqâranah ma’a “iddah at Thaba’ah), Riyadh: Dâr As Salâm , 1998
13. Syaikh Abdul Aziz bin Abdillan Ibnu Baaz, Ad Da’wah Ilallâh wa Akhlâq ad Du’ah, Eebook Da’wah, Maktabah Abu Salma, 2007
14. Ibnu Qayyim, Madârijus Sâlikîn baina Manâzil Iyyâka Na’budu wa Iyyâka Nasta’în. Beirut: Dâr Al jîl, 1991
15. Ebook Fiqh Da’wah, Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin, Zâd ad Da’iyah
16. Abdul Musin Al Abbad Al Badr, Rifqan Ahl as Sunnah bi Ahl As Sunnah, PDF: Maktabah Abu Salma Al Atsari, 2007
17. Abi Abdillah Muhammad bin Idris As Syafi’I, Dîwân al Imâm Asy Syafi’I, tahqiq. Yusuf As Syaikh Muhammad Al Biqa’I, Makkah: Dâr al Fikr, 1977


Responses

  1. Subhaanallaah.
    Artikelnya hebat.
    Semoga bermanfaat sebagaimana mestinya. Aamiin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: