Oleh: hudzai | 9 Januari 2009

Lakum Diinukum

LAKUM DINUKUM WALIYADIN

Iftitah.

Di negeri ini, fakta tentang adanya kekerasan, intoleransi, atau sesuatu yang bersifat diskriminatif bukan lagi hal yang tabu. Dalam lingkup keagamaan, kita pernah menyaksikan beberapa tragedi berdarah seperti konflik agama di Ambon, Poso, peledakan rumah tempat ibadah dan lain sebagainya. Tentu saja, hal ini membuat para cindekiawan bahkan politisi untuk berfikir keras mencari solusi perdamaian yang tepat, hingga pada akhirnya muncul ide untuk merumuskan sebauh keyakikan (i’tiqad) baru yang kita kenal dengan istilah “toleransi”. Dalam hal ini toleransi itu ditujukan kepada adanya keberagaman agama, dan kultur kepercayaan.

Disinilah, gagasan toleransi kemudian memunculkan sebuah keharusan untuk mengimani adanya perbedaan antara agama, bahkan lebih dari pada itu keharusan untuk membenarkannya, serta berusaha bersikap saling terbuka seluas-luasnya. Sebenarnya, istilah toleransi ini jika dirujuk pada awal kemunculannya adalah murni made in Barat, dibawah situasi dan kondisi politis, sosial dan kebudayaannya sendiri. Oleh karena itu sangatlah sulit untuk dicari padanannya dalam bahasa Arab yang menunjukkan arti toleransi dalam bahasa Inggris tersebut. Dalam kamus Al Muhît, misalnya disebutakan istilah toleransi dengan kata “tasâmuh” yang artinya; “jûd wa karam watasâhul” (sekap pemurah, penderma dan gampangan, dari kedua belah pihak atas dasar saling interaksi timbal balik) (Lihat. Al Fairûz Abâdî, AL Qâmûs Al Muhît, Juz. I, hal. 229). Sementara Barat menginginkan definisi toleransi yang jauh berbeda yaitu; “to endure without protest” (menahan perasaan tanpa protes) yang mana didalam bahasa inggris kata ini mengandung arti kekuasaan yang kuat untuk menahan perasaan secara sepihak terhadap orang yang berbeda-beda dan kesabaran terhadap mereka (Lihat. Encyclopedia of Relegion and Ethic, Vol. XIII, hal. 360). Jadi hal itu menunjukkan bahwa dalam tradisi Timur, toleransi tidak sedikitpun bermaksud masuk kedalam wilayah kayakinan sebagaimana yang diinginkan Barat (saat ini).

Di Indonesia, gagasan toleransi berujung pada keharusan kita untuk bersikap terbuka (inklusif), bahkan dalam wilayah keyakinan sekalipun. Hal itu dapat kita lihat dengan merujuk pada kasus-kasus seperti do’a bersama dengan pemeluk agama lain, pada acara dan peringatan hari-hari besar keagamaan, atau ikut bersama-sama merayakannya. Ironisnya, dalam hal ini pemeintahpun malah ikut mendukung. Dengan demikian, keharusan lain yang mesti dijalankan oleh para pemeluk agama, di Indonesia ini baik sadar ataupun tidak sadar adalah keikutsertaan untuk menjalankan misi “Pluralisme Agama” dalam konteks kemajemukan.

Memahami Pluralitas dan Pluralisme Agama.

Kesalah pahaman para penganjur faham toleransi antar agama adalah karena ketidak cermatan dalam mendudukkan masalah keberagaman dan perbedaan antar agama itu sendiri. Mereka mencampur adukkan makna pluralitas dengan Pluralisme Agama dalam kasus yang sama. Hal itu ditunjukkan dengan tuduhan mereka yang menilai Islam sebagai satu-satunya agama yang tidak dapat bersikap toleran terhadap agama lain. Sesungguhnya, didalam Islam kita mengenal keberagaman dan perbedaan agama (Pluralitas Agama) sebagai sunatullah yang dikehendaki sendiri oleh Allah ‘Azza Wajalla (QS. Hud :118-119 dan QS. Al Ma’idah : 48). Sebagaimana juga, Allah menghendaki pluralitas (keberagaman) dalam vegetasi (sayuran) dan buah-buahan (QS. Al An’am: 99), dalam hewan dan binatang (QS. Al Shura: 11), dan dalam semua jenis mahluk (QS. Al Zukhruf: 13), bahkan dalam tingat prestasi manusia dalam melaksanakan kewajibannya di dunia (QS. Ar Rum: 22). Jadi, keberagaman dan perbedaan itu merupakan ciri khas dari ciptaan Allah yang penuh hikmah. Bahkan para mufassirin (ahli tafsyir) seperti Al Hasan dan ‘Atha’ menjelaskan bahwa, “Justeru karena perbedaan itulah Allah menciptakan mereka” (Lihat. Al Qurthubi, Al Jâmi’ li Ahkâm Al Qur’ân, Juz IX, hal. 114-115).

Demikian pula yang ditegaskan oleh ketua Dewan Dakwah Indonesia yang pertama Bapak Muhammad Natsir bahwa, “Dalam surah Ali Imran: 48, al Qur’an menegaskan bahwa jika Allah hendak mempersatukan ummat manusia dalam satu kepercayaan saja, maka itu bukanlah soal yang sulit bagi Allah untuk melakukannya…. Tetapi Allah hendak menguji siapakah diantara mereka yang lebih baik amalnya (liyabluwakum fî mâ âtâkum) guna kepentingan manusia dan kemanusiaan.” (Capita Selecta, Jilid III, hal. 257). Dan untuk keberagaman ini, khususnya keberagaman agama, Islam menawaran solusi dengan cara cukup mengakui identitas dan perbedaan dalam masalah prinsip keyakinan (akidah) masing-masing agama tanpa harus ikut membenarkan keyakinan tersebut.

Hal ini berbeda jelas dengan kasus Pluralisme Agama. Dimana ia adalah faham yang mewajibkan untuk mengakui kebenaran setiap agama tanpa adanya keunggulan masing-masing agama. Itu semua dimaksudkan agar pada akhirnya nanti, doktrin-doktrin tentang masing-masing agama dapat di rubah dan disesuaikan dengan tuntutan kondisi zaman setempat, dengan harapan terwujudnya kedamaian. Sepintas ide ini sepertinya menjanjikan maslahat, manun sesungguhnya ia adalah sebuah padangan hidup yang sengaja di masukkan Barat untuk mengahancurkan elemen-elemen agama itu itu sendiri. Disinilah, kritik terhadap Pluralisme Agama menjadi bersifat wajib. Sebab Pluralisme bukanlah bebas nilai, ia bahkan murni lahir dari tradisi berfikir Barat melalui munculnya kasus liberalisme (yang komposisi utamanya adalah kebebasan, toleransi, persamaan dan keberagaman juga pluralisme) dalam tubuh gereja katolik, yaitu pada era Renaisance Eropa (abad.18.M).

Dalam faktanya, jelas tidak mungkin bagi kita umat Islam untuk menyamaan nilai dan pandangan hidup setiap agama. Hal itu disebabkan masing-masing agama memiliki sumber untuk menentukan kebenaran menurut sumbernya. Kebenaran dalam Islam bersumber dari Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Demikian pula dengan agama yang lainya dimana Tuhan mereka masing-masing menjadi sentral kebenaran. Dalam hal ini, tidak mungkin untuk menyamakan Dewa Siwa, Dewa Brahmana, Dewa Wisnu, Yesus, Yahwe dengan keEsaan Allah ‘Azza Wajalla dalam konsep tauhidnya yang khas. Faktanya, dalam banyak ayat al Qur’an, Islam justeru mengkritik penyelewengan-penyelewengan yang telah dilakukan oleh penganut agama lain seperti Yahudi dan Nashrani karena telah membuat bid’ah yang besar dalam risalah kenabian (QS. Al Baqarah:42,64,75,79.dll)

Pluralisme Agama: Sebuah Ancaman

Dalam sejarah kekhilafahan Islam, Islam benar-benar tampil sebagai sebuah tatanan negara yang dinilai paling toleran. Sebab didalam Islam, hak ahlu dizmmah (orang kafir yang berada didalam perlindungan Islam) mendapatkan tempat yang layak dalam mengekspresikan kehidupan mereka. Mereka bebas menjalankan ibadah sesuai keyakinan mereka, berdakwah, menyelenggarakan hari raya, membuat peradilan (sidang hukum) sendiri, mendirikan tempat ibadah, merenovasinya dan lain-lain. (Lihat. Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim, Kitâbul Kharâj, hal. 154-159). Untuk itulah Marcel Boisard kemudian memuji kebaikan dalam sistem Islam ini dengan ungkapan, “Here is one of the most remarkable contributions of Islam” (ini merupakan sumbangan Islam yang sangat besar bagi peletakan konsep modern yang universal) (lihat, Humanism in Islam, hal. 124-125).

Akan tetapi, tentunya ada batasan-batasan yang didalam Islam dinilai sebagai sesuatu yang tsubût (tetap tidak berubah) dan qath’i (jelas) sebagai koridor keimanan. Baik itu dalam ruang lingkup akidah maupun ibadah yang bersifat mahdhoh. Sebab, ketika seseorang telah mengikrarkan diri masuk kedalam Islam, ia mesti sadar bahwa keislaman yang dimaksudkan itu adalah mengandung dua makna penting; Inqiyâd atau taslîm (tunduk patuh terhadap hukum Syari’at), dan al ikhlâs (ketauhidan yang benar) (lihat. Ibnu Taimiyah, Syadzaratul Balataini, hal. 432 ). Artinya, ketundukan yang berdasarkan pada ketauhidan yang benar merupakan pokok keIslaman seseorang yang tidak menghendaki ketundukan pada agama, illah, atau millah yang lain, serta tidak juga menjadikan mereka sebagai bagian dari ajaran Islam.

Kasus yang dapat dijadikan contoh adalah sebuah riwayat ketika diturunkannya surah Al Kâfirûn kepada Rasulullah saw di Makkah. Surah ini berkenaan dengan keinginan orang-orang kafir Makkah untuk menawarkan konsep ibadah mahdhah dengan menyembah sesembahan mereka masing-masing setahun secara bergiliran dengan maskud misi toleransi. (As Syaukani, Tathul Qadhir, Jilid V, hal. 627) Akan tetapi Allah dengan ketegasanNya memerintahkan kepada Rasulullah saw untuk bersikap jelas pada aspek ini. Firman Allah yang berbunyi lâ a’budu mâ ta’budûn (aku tidak menyembah apa yang kamu sembah), dan lakum dînukum walî yadîni (untukmu agamamu dan untukku agamaku), merupakan kunci bahwa Islam sama sekai tidak menghendaki toleransi keyakinan yang berujung kepada tercemarnya ketauhidan yang tulus kepada Allah ‘Azza Wajalla. Dalam hal ini Ibnu Katsir menjelaskan bahwa, surah ini (al kâfirûn) merupakan surah yang menyatakan berlepas diri dari perbuatan yang dilakukan oleh orang musrik. Dan keharusan berbuat ikhlas (dalam tauhid) kepada Allah semata. Meskipun surah ini terjadi dalam konteks orang-orang kafir dimasa Raulullah, akan tetapi ia ditujukan untuk semua orang kafir dimuka bumi ini (Al Qur’anul ‘Adzim, jilid IV, hal. 511-522).

Disinilah, kita melihat bahwa pluralisme Agama sebagai ancaman terhadap kekokohan akidah ummat. Seharusnya kita bertanya, apakah atas dasar toleransi, kita harus memakan daging babi atau meminum minuman keras saat terjadi hubungan interaksi antar agama lain dalam kehdupan sehari-hari?.Demikian pula halnya dalam konteks ibadah. Kasus mengucapkan selamat natal dalam rangka menghormati umat nasrani misalnya, secara lebih dalam harus kita fahamai sebagai loyalitas yang tidak benar serta tidak dicontohkan oleh Rasul terbaik sepanjang zaman, Muhammad saw. Sebab bukankah Rasulullah juga pernah hidup berdampingan dengan kaum nasrani tanpa harus merayakan kebersamaan agama mereka dengan ucapan selamat atau doa-doa?.

Sesungguhnya dalam aspek yang lain umat Islam bisa saja menunjukkan sikap interaksi dengan baik yaitu pada hubungan yang bersifat mu’amalah duniawi. Sebagaimana yang telah dicontohkan dalam sejarah keemasan Islam masa silam. Dalam hal ini, cukup penting kiranya mengutip pendapat Dr. Muhammad Legenhausen yang benyak melontarkan kritik terhadap paham pluralisme agama dengan mengatakan, “The key to tolerance is not the removal or relativisation of disagreement, but the willingness to accept genuine disagreement” (kunci untuk tolerasni bukanlah membuang atau menjadikan relativ ketidakkesepakatan, tetapi justeru kemauan untuk menerima ketidaksepakatan yang alami) (Lihat. Muhammad Legenhausen, Misgiving about the Religious Pluralisms of Seyyed Hossein Nasr and John Hick, hal. 120)

Imam Al Khotob


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: