Oleh: hudzai | 7 Januari 2009

Idiologi Republika

IDEOLOGI SURAT KABAR REPUBLIKA :
Studi Analisa Laporan Republika Tentang Konflik SARA di Maluku

I. Pendahuluan
Republika sebagai surat kabar yang pada awal pendiriannya didukung penuh oleh ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) melalui PT. Abdi Bangsa mempunyai keterikatan ideologis dengan kelompok – kelompok Islam yang menjadi sokoguru berdirinya ICMI. Tetapi apakah hal tersebut menjamin Republika akan mempunyai corak yang cenderung memihak kelompok – kelompok Islam juga.

Melalui kasus peristiwa konflik agama Maluku, kita dapat melihat corak atau pola pelaporan Republika apabila terkait dengan isu sensitif seperti perang antar agama. Karena di lain pihak, Republika harus tetap menjaga nilai – nilai profesionalisme sebuah kode etik kewartawanan disamping pula harus mengatur strategi dengan keadaan pasar (ideologi pengiklan, ideologi pembaca dll). Dimensi – dimensi antara nilai – nilai idealisme dan pragmatisme nampaknya harus Republika hadapi agar tetap bertahan di dalam sistem persaingan bebas / kapitalisme. Melalui penelitian ini, kita dapat melihat kecenderungan mana yang lebih dijadikan acuan Republika dalam hal peristiwa konflik Maluku.

Konflik agama di Maluku terjadi pada tanggal 19 Januari 1999 terjadi ketika Indonesia bersiap untuk melaksanakan Pemilu yang dianggap sebagai Pemilu bersejarah dalam kehidupan berbangsa setelah kemerdekaan, dikarenakan terjadi transisi penguasa dari rejim otoriter kepada rejim demokrasi. Peristiwa Maluku pula merupakan antiklimaks dari hubungan pemeluk agama yang selama ini diseragamkan dalam satu ideologi yaitu ideologi pancasila oleh rejim Suharto ketika berkuasa.

Peristiwa Maluku mempamerkan tragedi kemanusian yang paling banyak memakan nyawa dalam sejarah konflik sipil di Indonesia. Konflik inipun mempunyai latar belakang konflik antara pemeluk agama yang cukup kuat yaitu antara pemeluk agama Islam dan pemeluk agama Kristen di Maluku. Konflik ini dianggap sebagai cikal bakal keretakan hubungan antara pemeluk agama Islam dan pemeluk agama Kristen di Indonesia yang selama ini mempunyai hubungan yang serba dipenuhi dengan rasa curiga dan tarik menarik terutamanya dalam isu kenegaraan dan politik (seperti isu negara Islam, kristenisasi dll.)

Selain konflik yang terjadi dilapangan, surat kabar sebagai media yang memberitakan peristiwa yang terjadi akan mempunyai pengaruh yang saling terkait baik pemberitaan surat kabar mempengaruhi konflik yang terjadi maupun konflik yang terjadi mempengaruhi corak dan pola pemberitaan surat kabar tersebut. Tetapi surat kabar merupakan institusi kepentingan maupun bisnis, setiap surat kabar secara tidak langsung mempunyai kepentingan ideologis maupun ekonomis. Oleh sebab itu, adalah hal yang menantang apabila sebuah penelitian dilakukan terhadap surat kabar yang pada awal pendiriannya dipengaruhi oleh kepentingan ideologis kelompok tertentu seperti Republika yang kelahirannya dibidani oleh ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia).

II. Kerangka Teori

Media massa dan konflik, merupakan dua entitas yang saling berkait, di mana media massa menjadi wadah yang tidak langsung antara pihak yang bertikai maupun bagi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan akan konflik. Tetapi media massa tidaklah saluran yang pasif, di mana media massa mempunyai tafsiran-tafsiran dan bingkai tersendiri dalam melihat terjadinya konflik, walau bagaimanapun, media massa bertindak berdasarkan konteks sosial dan budaya yang dikembangkan di dalam masyarakat (Arno, 1984).
Media massa tidaklah mempunyai kekuasaan penuh dan bebas dalam struktur sosial masyarakat. Media massa lebih cenderung mencerminkan kekuasaan dan ideologi dari institusi dominan ataupun kelompok / kelas sosial dominan dalam masyarakat (institusi agama, ekonomi, politik, budaya dll.) (Morley, 1981; Hall, 1980, 1982; Curran, 1990). Adakalanya media lebih berperan sebagai “Anjing Penjaga” kepada kepentingan yang berkuasa dan nilai-nilai utama (mainstream values) di dalam masyarakat daripada berfungsi sebagai “Watch Dogs” (Olien et al., 1989). Dengan demikian, laporan surat kabar akan cenderung pada nilai-nilai dominan di dalam masyarakat dan kepentingan yang berkuasa. Kecenderungan ideologi ini tidak tampak eksplisit dalam isi media, tetapi berada didalam hal yang implisit dalam isi media atau berita media (Curran et al., 1982).

Dalam hal ini, Altschull (1984) menyatakan bahwa isi media massa merefleksikan ideologi dari pihak yang membiayai media massa tersebut. Media massa merupakan institusi bisnis, mereka dikendalikan oleh logika ekonomi maupun politik. Oleh karena itu, sebagai konsekuensinya, media massa bertindak sesuai logika tersebut dan disyaki sebagai bias terhadap ideologi dan kepentingan ekonomi dan politik dari pihak yang mempunyai kontrol atas media massa (Golding dan Murdock, 1991). Oleh karena itu, wartawan dalam melaporkan satu berita misalnya tentang konflik agama, tidak mempunyai otoritas yang independen dan pada akhirnya mereka harus bersepakat terhadap kebijakan – kebijakan media yang telah ditentukan oleh pemilik modal atau mereka akan diberhentikan dari pekerjaan sebagai wartawan. (Milliband dalam Franklin, 1997) .

III. Metodologi

Metode sebuah penelitian biasanya disesuaikan dengan permasalahan yang akan diteliti. Permasalahan pada penelitian ini mengenai kecenderungan surat kabar dalam memihak salah satu pihak yang sedang konflik dan juga melihat sejauh mana tingkat keberpihakan tersebut. Maka penulis merasa perlu untuk menggunakan dua pendekatan yang berbeda dalam menjawab soalan penelitian yaitu pendekatan metode kualitatif dan kuantitatif Penggunaan kedua pendekatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan jawaban penelitian yang lebih bersifat menyeluruh. Dimana kelemahan pendekatan kualitatif diharapkan dapat ditutupi oleh pendekatan kuantitatif, begitu pula sebaliknya.

Pendekatan kualitatif pada dasarnya dapat mengungkap permasalahan yang bersifat halus dan tersembunyi sedangkan pendekatan kuantitatif berfungsi sebaliknya yaitu dapat memaparkan permasalahan bersifat nyata dan kelihatan jelas. Dalam penelitian komunikasi, kedua-dua pendekatan ini mempunyai berbagai Maretam jenis tergantung kepada objek yang akan dianalisa. Karena dalam penelitian ini menggunakan surat kabar sebagai objek analisanya maka metode kuantitatif yang dianggap paling sesuai adalah analisa isi (Content Analysis) sedangkan untuk pendekatan kualitatif menggunakan analisa wacana kritikal (Critical Discourse Analysis).

Harus diakui bahwa dalam ilmu-ilmu sosial hingga saat ini pendekatan obyektif lebih dominan daripada pendekatan subyektif seperti dikatakan Noeng Muhajir, pendekatam kuantitatif (yang sering menggunakan statistik ini) seolah-olah lebih bergengsi daripada pendekatan kualitatif terlebih lagi mengingat kenyataan bahwa sebagian calon ilmuan menggunakan pendekatan kualitatif, karena mereka tidak menguasai teknik-teknik analisis satatistik, namun pendekatan subyektif (kualitatif) sebenarnya terus berkembang, dan para penganutnya bertambah, termasuk di Indonesia. Di Barat penggunaan metodologi ini lebih signifikan lagi sejak akhir tahun 1970-an. Sayangnya, seperti biasa, Indonesia selalu ketinggalan. Barat tampaknya sudah “muak” dengan perdebatan pendekatan kuantitatif vs.pendekatan kuantitatif, tetapi kita di Indonesia masih saja mempermasalahkannya.

A. Analisa Wacana Kritikal (Critical Discourse Analysis).

Di dalam analisa teks ini terdapat analisa yang melihat pihak mana yang direpresentasikan lebih dominan. Selain untuk melihat pihak mana yang lebih direpresentasikan dalam sebuah laporan atau peliputan berita maka analisa representasi di dalam teks berita dapat digunakan bagi tujuan ini. Dalam penelitian ini, penulis akan mencoba menjawab permasalahan penelitian dengan melihat pihak mana yang lebih direpresentasikan di dalam laporan berita konflik oleh surat kabar Republika sehingga dapat dilihat kecenderungan corak laporan surat kabar Republika dalam laporan konflik di Maluku. Dan untuk ini analisa terhadap bahasa menjadi penting, karena beragamnya makna, situasi dan persepsi terhadap bahasa, kata dalam memaknai realitas, perasaan dll, maka dapat dinyatakan bahwa bahasa kata-kata bersifat kontekstual.

B. Analisa Isi (Content Analysis)

Selain penggunaan metode analisis wacana yang telah disebutkan di atas, penulis juga menggunakan metode analisa isi (Content Analysis) yang bercorak kuantitatif. Analisa isi kuantitatif ini digunakan hanya untuk mendukung analisa wacana yang telah dilakukan. Sehingga fokus utama dalam penelitian ini adalah analisa wacana, tetapi untuk melihat corak atau pola kecenderungan daripada hasil analisa wacana pada nantinya, maka diperlukan pengukuran kuantitatif daripada hasil temuan dalam analisa wacana tersebut.

IV. Hasil dan Analisis Temuan

Untuk dapat melihat secara jelas tingkat keberpihakkan pelaporan surat kabar Republika dalam konflik agama di Maluku maka penulis menganalisa aspek pelaku terjadinya kerusuhan atau konflik di Maluku, atau subyek daripada terjadinya kerusuhan, Republika seringkali menggunakan identitas yang tidak mengarahkan kepada kedua belah pihak yang sedang berkonflik. Tetapi penggunaan kata-kata yang mengungkapkan pelaku konflik digeneralisasi dan cenderung menyembunyikan identitas pelaku kerusuhan tersebut. Kita dapat melihat daripada beberapa kalimat berita Republika di bawah ini :

…..sedikitnya 18 unit rumah dibakar massa…… (15 Februari 1999)
beberapa rumah di Karangpanjang serta daerah Batumerah dibakar massa (15 Februari 1999).

sekelompok orang, termasuk beberapa di antaranya diduga oknum polisii kemarin sekitar pukul 05.00 WIT menyerang kawasan Ahuru, kodya Ambon (2 Maret 1999).

pertikaian berdarah antarkelompok yang menjurus SARA (29 Juli 1999).

….. dan ratusan rumah penduduk musnah dibakar massa (29 Juli 1999).

Kerusuhan di Ambon makin mencekam setelah terjadi penembakan oleh sesama warga sipil (11 Agustus 1999).

Dari kutipan–kutipan di atas ini kita dapat melihat pemilihan kata dalam memaparkan pelaku kerusuhan yang banyak dengan menggunakan kata-kata seperti “massa”, “warga sipil”, “mereka”, dan “kelompok”. Penggunaan kata “massa” menjadikan identitas pelaku kerusuhan tidak nampak jelas dan oleh itu tidak tampak pelaku yang terorganisir karena “massa” di sini dapat melambangkan kumpulan orang banyak yang terdiri dari berbagai jenis latar belakang. Pelaku kerusuhan yang dilambangkan sebagai “massa” mereduksi identitas pelaku tanpa mengarahkan pihak mana yang memulai terjadinya kerusuhan atau konflik.

Kita dapat melihat daripada tabel di bawah ini, di mana sebanyak 42.7 % daripada peliputan pelaku kerusuhan atau konflik di Maluku tidak menggunakan identitas yang jelas atau tanpa identitas sama sekali.

Tabel : Identitas Pelaku Kerusuhan / Konflik/ Penyerangan (Subyek/Aktor)
Identitas Pelaku Jumlah Kata Persentase
Umat / Kelompok/ Pihak Islam-Muslim-Putih
2
1 %
Umat / Kelompok / Pihak Nasrani – Kristen – Merah
24
11.7 %
Militer / Polisi (Aparat) 41 19.9 %
Tanpa Identitas (Seperti Massa, Warga Sipil, Masyarakat, Kelompok Tak Dikenal dll.)

88

42.7 %
Identitas Non-Agama / Nama Desa / Nama Orang
51
24.8 %

Bila kita bandingkan penyebutan pelaku kerusuhan antara pihak Islam dan Kristen, maka terdapat perbedaan yang cukup signifikan, yaitu antara 1 persen dengan 11.7 persen, di mana penyebutan pelaku kerusuhan dari Islam diikuti dengan sanggahan dari sumber itu sendiri. Walaupun ada pertanda kelompok Islam melakukan penyerangan terlebih dahulu (subjek kerusuhan) maka indikasi–indikasi ini biasanya dibantah melalui komentar–komentar saksi dari kelompok–kelompok Islam yang dikutip oleh Republika seperti teks berita di bawah ini :

“Kami menyesalkan pemutarbalikan fakta terjadinya kerusuhan. Media massa memberitakan bahwa penyerangan dilakukan oleh penduduk Pelauw yang beragama Islam itu. Padahal faktanya tidak seperti itu…..” (16 Februari 1999).

“Malik sekaligus membantah kelompok Putih (Muslim – Red) juga menggunakan senjata api dalam kerusuhan” (11 Agustus 1999).

Dari kedua teks berita di bawah ini kita dapat melihat bahwa Republika mengkutip kepada komentar–komentar yang menyanggah citra negatif (seperti melakukan penyerangan atau menggunakan senjata api) daripada kelompok–kelompok Islam. Tetapi sanggahan aktivitas negatif yang dilakukan oleh kelompok Islam cenderung diletakkan melalui sumber–sumber kutipan langsung daripada bersumber dari kesimpulam atau tulisan wartawan Republika sendiri. Sedangkan sanggahan atau pembelaan terhadap tindakan penyerangan yang dilakukan oleh kelompok Kristen tidak pernah dikutip oleh Republika..

Kita juga dapat melihat dari tabel di atas sebanyak 24.8 % daripada laporan tentang pelaku kerusuhan yang dilaporkan menggunakan identitas yang tidak dikaitkan dengan status agama. Walaupun cara pelaporan pelaku kerusuhan yang tidak menyebutkan status identitas agama terkesan netral, tetapi bila pembaca mengaitkan dengan teks sebelumnya, maka seringkali identitas bukan-agama tersebut sebenarnya juga identitas agama yang tampak tersirat. Republika menggunakan identitas bukan-agama yang biasanya menggunakan status asal desa pelaku kerusuhan atau konflik seperti teks berita di bawah ini :

“Beberapa warga sebenarnya sudah curiga, mencegah agar Fauzan tak diangkut dengan mobil angkot (Mini Bus-Pen.) milik warga Kudamati, yang mayoritas Kristen” (27 Desember 1999).

“Kampung yang dihuni warga Muslim itu diserang dan dibakar massa dari Kudamati” (28 Desember 1999).

Pada dua teks berita di atas ini penulis mengutip dua kalimat daripada laporan berita kerusuhan yang berbeda tanggalnya, teks berita yang pertama terbit pada 27 Desember 1999 dan teks berita kedua terbit keesokan harinya. Apabila pembaca membaca surat kabar Republika berturut-turut, maka teks berita yang terbit pada 28 Desember 1999 dengan menyebutkan pelaku kerusuhan berasal dari “massa dari Kudamati”, maka pembaca dapat mengkaitkan dengan teks berita yang terbit sebelumnya dan akan menimbulkan tafsiran bahwa pelaku kerusuhan tersebut adalah berasal dari pihak Kristen karena pada teks berita pada 27 Desember 1999, Republika menunjukkan demografi desa Kudamati dengan menyebutkan “….warga Kudamati, yang mayoritas Kristen”.

Republika juga kadangkala tidak menyebutkan demografi berdasarkan status agama warga sebuah desa yang melakukan kerusuhan tetapi hanya menyebutkan nama desa asal perusuh tersebut saja seperti :
…..sekumpulan orang dari Desa Tawiri Kecamatan Baguala menyerang warga Muslim yang bermukim di Desa Laha” (2 September 1999).

… puluhan massa yang datang menyerang dengan menggunakan motor laut itu diduga keras berasal dari Pulau UT, sebelah Utara Pulau Kei Kecil. (21 Juni 1999).

Tetapi bila pembaca mengetahui demografi desa-desa di Maluku, maka setiap desa mempunyai batas pemisah berdasarkan agama, seperti Desa Laha atau Batumerah dikenali sebagai desa yang berpenduduk mayoritas Islam dan desa Tawiri, Pulau UT dan Mardika berpenduduk mayoritas beragama Kristen. Hal ini juga dapat dikatakan Republika mengarahkan pembacanya dengan menunjukkan komposisi agama mayoritas di suatu desa yang seterusnya menggunakan nama desa tersebut untuk menunjukkan identitas pelaku. Hal ini berkonsekuensi Republika mengarahkan pembaca bahwa suatu desa mempunyai identitas yang berkaitan dengan agama Islam atau Kristen, yang seterusnya pasti dapat dikenali berdasarkan identitas agama (intertextuality).

Dari sumber kutipan di atas, kita dapat melihat kecenderungan Republika kepada dua sumber utama yaitu pihak pemerintah dan pihak Islam / kelompok Islam. Sedangkan suara – suara dari pihak atau kelompok Kristen hampir sama sekali tidak terdengar.

V. Kesimpulan.

Hal yang sangat jelas dalam temuan di atas baik melalui analisa wacana maupun analisa isi adalah sangat kentaranya Republika mendukung posisi kelompok Islam dengan sama sekali tidak pernah melaporkan pihak Islam sebagai pemicu kerusuhan atau konflik dan simpati yang cukup besar apabila jatuh korban dari pihak Muslim. Walaupun pada data kuantitatif ditemukan bahwa pelaporan pelaku konflik lebih banyak tidak menggunakan identitas agama atau tanpa identitas sama sekali, hal ini bukan bermakna bahwa Republika mencoba untuk terkesan netral dalam laporannya, karena selain hal yang tampak (presence), kita juga perlu melihat hal yang tak tampak dalam analisa ini (unpresence) yaitu hampir tidak adanya laporan yang mengaitkan pelaku kerusuhan atau konflik kepada pihak atau kelompok Islam di Maluku. Begitu pula apabila hal ini kita kaitkan dengan korban yang jatuh di dalam kerusuhan atau konflik tersebut, dimana hampir tidak adanya laporan korban yang berasal dari pihak Kristen. Selain itu pula sumber kutipan dalam artikel – artikel berita yang ada, hampir kesemuanya di dominasi oleh pihak daripada pemerintah dengan militer dan polisinya serta kelompok-kelompok Islam. Sedangkan kutipan sumber berita yang berasal daripada pihak Kristen hampir tidak pernah dikutip.

Dari penemuan di atas, yaitu kuatnya posisi Republika dalam menyokong kelompok Islam dalam konflik yang terjadi di Maluku sebenarnya menunjukkan posisi ideologi surat kabar Republika yang masih sangat mengaitkan dirinya sebagai surat kabar komunitas Islam. Sorotan yang lebih tajam kepada korban daripada pihak Islam dan sumber kutipan yang cenderung berasal daripada pihak –pihak Islam dibandingkan pihak Kristen menimbulkan pertanyaan apakah Republika berlaku adil dalam pelaporan atau peliputan atas pihak yang sedang berkonflik atau dalam istilah lain, Republika tidak melakukan apa yang disebut dalam kode etik jurnalis sebagai “cover both sides”.

Keengganan Republika melaporkan korban yang jatuh dari pihak Kristen boleh ditafsirkan bahwa Republika telah memposisikan dirinya sebagai surat kabar yang memang hanya mempunyai audiens pembaca daripada komunitas Islam sehingga ketiadaan laporan korban daripada pihak Kristen adalah sesuatu hal yang lazim, mengingat pembaca Republika akan lebih tertarik dan penasaran terhadap korban yang jatuh daripada pihak Islam atau Muslim.

Selepas penemuan hasil penelitian yang telah disebutkan di atas, maka temuan ini juga mempunyai implikasinya kepada teori yang ada, di mana dalam kerangka teori, penulis mencoba menggunakan pendekatan ekonomi politik dan kajian budaya, maka dalam hal kepemilikan media, penemuan ini semakin menguatkan teori yang ada bahwa pemilik media massa akan mempengaruhi isi maupun ideologi media tersebut. Republika sebagai surat kabar yang dididirikan oleh organisasi Islam yaitu ICMI nampaknya tidak dapat melepaskan dirinya dari keberpihakkan atau menaruh simpati terhadap kelompok – kelompok atau pihak-pihak Islam. ICMI melalui Yayasan Abdi Bangsa yang menguasai hampir 51 persen saham daripada Republika telah sangat kuat mempengaruhi cara pelaporan surat kabar Republika dalam kasus konflik Maluku ini.

Tampaknya dari temuan ini, kita dapat melihat hubungan yang cukup dinamik antara surat kabar dengan ideologi yang berlandaskan agama khususnya agama Islam. Republika sebagai surat kabar yang memang tidak dapat melepaskan dirinya daripada kecenderungannya terhadap ideologi Islam membawa tantangan baru bagi para peneliti dan pengamat media massa, di mana aspek agama di Indonesia sungguh memainkan peranan penting dalam mempengaruhi dan mendominasi corak pelaporan suatu surat kabar. Merupakan hal yang sangat menarik apabila penelitian ini dapat diperluas tidak hanya kepada surat kabar yang mempunyai keterkaitan dengan agama Islam saja tetapi dicoba untuk dibandingkan dengan surat kabar –surat kabar yang mempunyai keterkaitan dengan agama lainnya seperti Katolik atau Protestan. Oleh: Imam Zamroji, MA

DAFTAR PUSTAKA

Mulyana, Deddy, Dr , MA, Metodologi Penelitian Kualitatif : Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2006) Cet. Ke-5
Prospektus PT. Abdi Bangsa (2002).
Jurnal Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Jayabaya, Vol 04 N0. 7, 2004
Wahid, Umaimah, Dr , Diktat Mata Kuliah Dakwah dan Media Masa, Pasca Sarjana UIA Program Studi Ilmu Dakwah, 2006-2007
Sobur, Alex (2001). Analisis Teks Media : Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,
Analisis Semiotik, dan Analisa Framing. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
Hidayat, Taufik, MA, Media Masa dan Agama, Studi Ilmu Komunikasi Universitas Sains Malaysia.
Husaini Adian, MA, Gereja – Gereja Dibakar.(Jakarta: Dea Press ; 2000)
Harian Umum Republika


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: