Oleh: hudzai | 7 Januari 2009

Gender; Dalam Prespektif Islam

TINJAUAN ISLAM TERHADAP PERSOALAN GENDER

Oleh: Imam Taufik Alkhotob[1]

I. Pendahuluan

Setelah resmi menikah pada 5 Agustus 2002 di Distric’s Office, Australia, Yuni Shara (aslinya; Wahyu Setyaning Budi) dan Henry Siahaan menuai kritik dari sejumlah kalangan dan organisasi Islam terutama MUI. Sejatinya permasalahan tidak hanya pada pernikahan yang beda agama itu saja, akan tetapi pernyataan dari Henry Siahaan menunjukkan aroma dekonsturksi agama dibawah payung liberalisme, begitu hebat.

Kepada wartawan Henry menuturkan; ”Saya saat ini menyadari, saya dan Yuni ini seiman. Cuma kita beda agama saja. Tapi perbedaan ini harus disyukuri, bukannya dijadikan penghalang.” Pada majalah Suara Cantik Edisi No. 72/2002 Henry juga berkomentar; ”Yang penting bukan masuk Islam atau Kristen, tapi masuk syurga.”[2]

Dalam hal ini, Yuni bisa saja berada dalam sudut permasalahan. Mengapa ia menikahi seorang pria non muslim dimana agamanya sendiri melarang aktifitas tersebut ?. Bagi kalangan feminis yang enggan terikat dengan ketentuan-ketentuan yang bersifat normatif dan transenden, maka kisah diatas tidaklah menjadi soal. Nurul Arifin misalnya, ia menikah dengan Mayong Suryo Laksono dengan tidak merasa perlu untuk memperuncing soal-soal keyakinan. Seperti yang ia katakan sendiri kepada majalah Syir’ah bahwa perkawinannya dengan lelaki yang ia pilih tidak pernah menimbulkan permasalahan rumah tangga, justru orang lainlah yang menganggapnya bermasalah. Dengan pilihan hidup seperti itu, kaum feminis menginginkan publik untuk semakin menyadari bahwa baik pria maupun wanita memiliki kedudukan yang sama dalam menentukan sejarah hidupnya.[3]

Baik Yuni, Nurul, Amara, Emilia Contesta, Ira Wibowo, Ina Indayati dan sederetan artis lainnya telah mengajari publik (fans) bahwa dunia artis adalah icon bagi ”kemerdekaan” kaum hawa untuk mengekspresikan kehendaknya. Tidak hanya dalam lingkup pernikahan, akan tetapi juga dalam masalah-masalah lain seperti; Seni, moral, etika, politik, budaya, dan hanya sedikit dari mereka yang memposisikan diri sebagai teladan bagai masyarakat Islam.

Pada tahun 2003 sejumlah tokoh feminis dan kesetaraan gender Indonesia mencoba menggugat UU perkawinan No. 1 tahun 1974. Selama ini undang-undang tersebut dinilai bias gender dan memarginalkan peran wanita. Menurut Nursyahbani Katjasungkana (anggota DPR-RI fraksi PDIP) bahwa undang undang perkawinan selama ini sangat diskriminatif terhadap wanita. Dengan jelas undang-undang tersebut menyebutkan bahwa laki-laki adalah kepala rumah tangga dan wanita adalah ibu rumah tangga, atau dalam pasal 11 tentang masa penantian wanita yang diceraikan untuk dapat menikah kembali, atau pasal 44 yang melarang wanita muslimah menikah dengan lelaki non muslim, manun tidak demikian sebaliknya.[4]

Gugatan-gugatan seperti ini tentunya lahir dari pemikiran tentang gender yang tidak konfrehensif, atau sentimen terhadap sistem yang dibangun oleh Islam dalam masalah kewanitaan. Bahkan lebih jauh lagi, gerakan feminis yang menghusung isu kesertaraan gender ternyata hendak melampaui seluruh otoritas keagamaan dan tunduk dibawah HAM sebagai produk akal manusia. Makalah ini akan mencoba mengurai seperti apakah sesungguhnya permasalahan gender itu, bagaimana hubungannya dengan teks-teks keagamaan dan bagaimana solusinya dalam Islam.

II. Mengurai Makna Gender

2.1 Definisi Gender

Konsep penting yang perlu dipahami dalam rangka membahas masalah kaum perempuan adalah membedakan antara seks (jenis kelamin) dan gender. Pemahaman dan pembedaan terhadap kedua konsep tersebut sangat diperlukan dalam melakukan analisisa untuk memahami persoalan-persoalan ketidak adilan yang menimpa kaum perempuan. Hal ini disebabkan karena ada kaitan yang erat antara perbedaan gender (gender differens) dan ketidakadilan gender (gender inequalities) dengan struktur ketidakadilan masyarakat secara lebih luas. Dengan demikian pemahaman dan pembedaan yang jelas antara konsep seks dan gender sangatlah diperlukan.[5]

Dalam Webster’s New World Dictionary, kata gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Sementara itu di dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat.[6] Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Gender dalam artian ini dianggap sebagai bentuk rekayasa masyarakat (social constructions), bukannya sesuatu yang bersifat kodrati. Khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Pemberdayaan Perempuan ejaan “jender” diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan perempuan[7]

2.2 Perbedaan antara Sex dan Gender

Dari uraian diatas maka ada perbedaan yang sangat menonjol antara istilah sex dan gender, meski seringkali dipandang sebagai sesuatu hal yang sama-sama saja. Catatan yang disebutkan oleh Pusat Studi Gender (PSG) STAIN Purwokerto menyebutkan pada dasarnya istilah gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial budaya. Sementara sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex (dalam kamus bahasa Indonesia juga berarti “jenis kelamin”) lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek biologi seseorang, meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan karakteristik biologis lainnya. Sedangkan gender lebih banyak berkonsentrasi kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non biologis lainnya.[8]

Penjelasan ini sejalan dengan apa yang disebutkan dalam The New ensiclopaedia Britannica bahwa sex dan gender meski banyak yang menganggapnya sama namun sesungguhnya memiliki wilayah pembahasan yang berbeda; yaitu dari sisi biological, sisi psikologi serta peranannya dalam kehidupan sosial.[9] Bagan dibawah ini merupakan pembagian yang disebutkan oleh PSG dalam upaya menunjukkan perbedaan antara sex dan gender.

No

Karakteristik

Seks

Gender

1

Sumber pembeda

Tuhan

Manusia/masyarakat

2

Unsur pembeda

Biologis (alat reproduksi)

Kebiasaan/budaya

3

Sifat

Kodrat, tertentu dan tidak dapat dipertukarkan

Harkat, martabat, dan dapat dipertukarkan

4

Dampak

Terciptanya nilai-nilai kesempurnaan, kenikmatan, sehingga menguntungkan kedua belah pihak

Terciptanya norma-norma tentang pantas atau tidaknya dan sering merugikan salah satu pihak

5

Keberlakuan

Sepanjang masa, dimana saja, tidak mengenal perbedaan kelas

Dapat berubah dan berbeda antar kelas

Bagan ini tentunya tidak sepenuhnya benar. Karena menurut hemat penulis bagan ini tampak sekali mewakili paradigma Barat dalam membagi wilayah sex dan gender bagi wanita. PSG sendiri didalam aktifitas pengkajiannya seringkali menggunakan metodologi barat untuk menafsyirkan teks-teks agama dan realitas sosial. Hal itu bisa terlihat dalam pembagian gender yang disebutkan sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai-nilai tsawabith, akan tetapi selalu mutaghayyirat, sesuai dengan perkembangan zaman dan tempatnya. Sementara itu, universalitas Islam mengatur seluruh sisi kehidupan, apalagi yang berkaitan dengan peran wanita dalam strukur sosial dan kebudayaan.

2.2 Perkembangan Isu Gender dan Akar Permasalahannya

Kedudukan dan peran serta wanita di ranah publik pada zaman pertengahan Eropa khususnya dan dibagian dunia yang lain terbilang sangat rendah. Hal itu meliputi wilayah hukum perdata, sosial, ekonomi, dan politik. Kondisi ini memicu timbulnya pergerakan-pergerakan yang memperjuangkan hak-hak wanita pada akhir abad 18 M. Deklarasai tentang hak-hak wanita yang pertama kali dicetuskan adalah mealalui revolusi prancis pada 1789. Meski ditolak, perjuangan tersebut tak pernah surut. Barulah pada 1848 timbullah kembali gerakan-greakan yang teratur diberbagai negara, dan secara masif mampu diterima diberbagai kalangan.[10]

Khusus tentang Isu gender dan sangat berkaitan dengan gerakan di atas, banyak kalangan yang menyebutkan bahwa ia mulai santer dibicarakan pada awal abad ke-20. Hal ini merupakan akumulasi dari tindak kekerasan atau ketidakadilan terhadap keberadaan perempuan baik di dalam rumah tangga, tempat kerja, lingkungan sosial maupun di tingkat pemerintahan yang terjadi pada masyarakat Eropa pada waktu itu. Isu gender kemudian bukan lagi sebuah permasalahan yang temporal atau sifatnya sementara akan tetapi sudah menjadi isu yang kontemporer atau berlaku sepanjang massa. Menurut DR. Mansour Fakih, kaum feminis mengajukan konsep gender sebagai sebuah teori sosial untuk menganalisa hubungan jenis kelamin dengan ketidakadilan sosial, sebagai antitesa terhadap teori-teori lain yang cenderung menuntungkan aspek kekuasaan.[11]

Isu tentang gender sebenarnya tidak memiliki soal, bila ia tidak menimbulkan ketidak adilan dan kesewenangan terhadap kaum wanita. Persoalannya, cara seseorang memandang ketidak adilan gender itu sendiri menjadi bias bila kemudian ia lahir dari satu bentuk kultur dan pandangan hidup (worlview) tertentu, dan dipaksakan sebagai sesuatu yang rasional kepada kultur dan pandangan hidup lainnya. Sebagai contoh, Islam menetapkan tugas dan kedudukan laki-laki dalam lingkup rumah tangga sebagai kepala keluarga sedangkan istri (wanita) sebagai anggota keluarga. Dalam pandangan feminis yang mengangkat isu gender, jelas budaya hidup seperti ini tidak menguntungkan pihak wanita, dimana mereka ”merasa” diatur dan dikendalikan oleh kekuatan lelaki. Oleh karenanya, kaum feminis juga menganggap bahwa isu ketidakadilan gender sangat dipengaruhi teks-teks agama, dan agama adalah salah satu dari sarang ketidakadilan gender.[12]

Penulis mencoba menyebutkan beberapa persoalan teks keagamaan yang sering dijadikan isu ketidak adilan gender diantaranya;

1. Masalah Diturunkannya Adam dan Hawa dari Syurga. Problem ini tidak hanya di dalam teks agama Yahudi dan Kristen, bahkan mereka menuduh teks-teks agama Islam tentang turunya Nabi Adam dan Hawa ke dunia juga termasuk bias gender. Didalam Bible (PL) disebutkan bahwa Hawa (Eva) bertanggungjawab atas diturunkannya mereka ke dunia. Perempuan lebih dahulu berdosa, karena perempuanlah yang terbujuk oleh ular untuk makan buah terlarang (Kejadian 3:1-6 dan 1, Timotius 2:13 -14). Kisah yang agak sama memang disebutkan di dalam al Qur’an, hanya saja menurut Dr. Yusuf Al Qardhawi, teks al qur’an justeru menyebutkan bahwa baik Nabi Adam maupun Hawa kedua-duanya bertanggung jawab atas bisikan setan (bukan ular), karena mereka berdualah yang mengambil dan memakan buahnya secara bersama-sama, kemudian mereka berdua berobat bersama-sama pula. (QS. Al A’raf: 23, QS Al Baqarah: 36).[13] Pendapat Al Qhardawi dikuatkan pendapat Dr. Ahmad Muhammad As Syarqowi, dimana sesungguhnya yang bertanggung jawab atas kesalahan memakan buah khuldi, sebagaimana disebutkan di dalam al qur’an adalah kedua-duanya (Adam dan hawa). Kedua-duanya mendapatkan bisikan syaitah, kedua-duanya memakan buah khuldi, hingga kedua pakaian mereka tersingkap dan kedua-duanya bertaubat kepada Allah.[14]

2. Tentang penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam. Kaum feminis menganggap hal ini sebaga cerita mitos yang diguanakan oleh agamawan untuk mendudukkan wanita di kelas nomor dua karena misogini (kebencian terhadap wanita). Hal itu terbukti disebutkan didalam Bible (Kejadian pasal 2:21 -23). Bahkan di dalam Islam terdapat hadits shahih[15] yang menyebutkan hal yang sama. Riffat Hasan secara teang-terangan kemudian menggugat hadits-hadits tersebut dari sisi sanad dan matan serta kesimpulan hukumnya.[16] Dr. Daud Rasyid dalam bukunya As Sunnah fi Indûnisy: Baina Anshoriha wa Khusumiha membantah tuduhan Riffat Hasan yang mencela sanad dan matan dan kandungan hadits tersebut, yang intnya bahwa penciptaan adam dari tanah, dan Hawa dari tulang rusuk Adam tidaklah menjadikan kesimpulan miring bahwa penciptaan Adam lebih sempurna. Justru disana menunjukkan bahwa kaum laki-laki harus sanggup menjadikan wanita sebagai patner kehidupan yang berlansung harmonis antara satu dengan lainnya.[17]

3. Sejumlah Negara-negara berbasis Islam dan menjadikan teks agama sebagai undang-undang seperti Saudi Arabia, Iran, Afghanistan, Kwait dianggap sebagai pemaksaan kehendak agama atas hak-hak publik. Kenyataannya, perempuan dilarang bepergian jika tidak dengan suami atau saudara (mahram), dilarang menyopir mobil, membuka jilbab di depan umum, dan lain-lain. Kasus-kasus kekerasan seksual terhadap para buruh semakin membuat kaum feminis menaruh curiga terhadap agama. Stereotip ini terus menguat dengan penerbitan-penerbitan novel dan kisah tragis perempuan di negara-negara tersebut yang diperlakukan muslim dengan semena-mena yang menjamur di pasaran seperti The Princess, Daughter of Arabia, Beyond The Veil, Without Mercy dan masih banyak lagi.[18]

4. Penghuni Neraka kebanyakan adalah kaum wanita. Teks ini terdapat dalam literatur hadits dengan derajat shahih.[19] Wardah Hafidz menuduh bahwa hadits ini merupakan bentuk pelecehan terhadap perempuan, karena seorang wanita secara naluri adalah berprilaku jahat dan menjadi penghuni terbanyak di neraka. Tuduhan tersebut jelas tidak benar karena perempuan tidak masuk kedalam neraka disebabkan naluri kebejatan yang melekat pada dirinya. Jika dikumpulkan sejumlah hadits yang berbicara tentang hal di atas, maka hal itu lebih disebabkan keengganan bersyukur atas jerih payah suami, berkhianat jika diberi amanah, pelit jika diminta, dan memaksa (ngotot) jika meminta.[20] Artinya baik laki-laki maupun wanita, akan berdosa jika sifat-sifat diatas melekat pada dirinya.

Masih banyak lagi tuduhan-tuduhan yang dikembangkan oleh kalangan feminis yang mencurigai teks-teks agama sebagai sumber ketidakadilan gender. Oleh karenanya, ketika teks-teks tersebut diserang oleh sejumlah kalangan Barat, para cendekiawan muslim pun ada yang menjawabnya dengan metodologi yang dipengaruhi Barat dalam menafsirkan teks-teks tersebut. Misalnya Asghar Ali Engineer, cendekiawan Muslim India dalam bukunya ”Islam dan Teologi Pembebasan” (1999) berpandapat bahwa al-Qur’an (wahyu) sejatinya bersifat normatif dan sekaligus pragmatis. Atas dasar inilah, menurut Asghar Ali Engineer, bahwa turunnya wahyu harus dilihat dalam konteks dimana tempatnya turun. Dengan kata lain, memahami wahyu harus memperhatikan aspek historisitas atau dengan kata lain, penafsiran wahyu harus kontekstual atau relevan dengan latarbelakang sosio-historisnya, serta tidak dibawa-bawa kepada zaman ini. Metode tafsir historis ini digunakan Asghar untuk menjawab teks-teks alqur’an yang dinilai berbau diskriminatif.[21]

III. Tinjauan Islam terhadap Permasalahan Gender

3.1 Feminis yang Terjebak

Pada dasawarsa terakhir ini, gerakan feminis di Barat ibarat boomerang. Apa yang mereka lontarkan justeru ditolak oleh sejumlah tokoh-tokoh wanita yang menyadari keambiguan ide-ide mereka. Munculnya feminis radikal hingga ketingkat mengutuk sistem patriarki, mencemooh perkawinan, menyerukan aborsi, pesta sex, menggemborkan lesbianisme, anti laki-laki, justeru membuat keadaan semakin tak terkendali. Para wanita semakin kehilangan arah dan jatuh dalam kondisi terpuruk diberbagai sektor kehidupan. Munculnya gerakan anti-tesis datang dari sejumlah wanita umpamanya Erin Patria Pizzey (penulis buku Pron to Violence), Caitlin Flanagan (Kolumnis tetap di The Atlantic Monthly), Iris Krasnov (penulis buku Surrending to Motherhood), mantan pengacara F. Carolyn Graglia (Penulis buku Domestic Tranquality), demikian pula Lydia Sherman dan Jennie Chaney yang mendirikan yayasan Ladies Against Feminism (LAF) adalah contoh kongkrit dari kemuakan ide-ide gerakan feminis yang semakin tak rasional.[22] Maka Dr. Yusuf Qardhawi d dalam bukunya Ummatuna Baina Qarnain dengan tegas mengatakan, ”Kebebasan yang diserukan oleh Barat adalah kebebasan yang bersifat individual. Mereka berpendapat bahwa kebebasan indifidu tidak memiliki batas kecuali jika bertabrakan dengan kebebasan orang lain. Maknanya, seseorang bebas berkehendak apapun sesuka hatinya, dan bukan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.” [23]

Dengan melihat perkembangan manusia berabad-abad lamanya kita akan melihat bagaimana sesungguhnya Islam mampu melampaui pemikiran manusia, dan akan senantiasa cocok di setiap zaman. Tidak sebagaimana yang terjadi pada peradaban Barat.

3.2 Kedudukan Wanita Sebelum Tersentuh Islam

Sampai abad ke 17 Eropa masih menganggap wanita sebagai jelaman setan dan alat bagi setan untuk menggoda manusia. Sejak awal penciptaannya wanita memang dianggap sudah tidak sempurna. Dalam konsep etimologis mereka, kata wanita (female) berasal dari bahasa Yunani fe: yang artinya fides, faith (kepercayaan-iman) dan mina berarti; minus, atau kurang. Jadi femina artinya; seorang yang imannya kurang (one with less faith).[24] Dr. Mustafa As Siba’I menjelaskan dalam bukunya “Al Mar’atu baina al Fiqhi wa al Qônûn” bahwa dalam peradaban Yunani, perlakuan kaum pria terhadap wanita diilhami oleh mitos kepercayaan tentang dewa Avrodet yang berselingkuh dengan tiga bidadari istri Tuhan. Dari perselingkuhan itu maka lahirlah dewa Kupid yang disebut-sebut sebagai dewa Asmara. Atas keyakinan inilah pria Yunani meyakini eksploitasi dunia wanita merupakan hal yang sah-sah saja, sebab wanita hanyalah budak untuk menyenangkan pria. Ekspolitasi itu merambah dunia sya’ir, grafik (gamabar), pahat memahat, pasar, hingga rumah-rumah bordir. Kendati praktek perkawinan terjadi, mereka adalah wanita yang tidak dapat mewarisi harta dan suami berhak mentalaknya kapan saja ia mau.[25]

Kondisi ini begitu pula dialami oleh bangsa Romawi, wanita menjadi objek pemuas lelaki, ajang jual beli, kontes birahi,bahkan wanita-wanita yang menjadi istri seorang suami bisa saja dibunuh jika suami tidak menghendakinya. Wanita juga tidak boleh menikah dengan pria yang tidak menganut agama Zoroaster, sedangkan pria bebas sebebas-bebasnya.[26] Untuk itulah, menurut Dr. Muhammad Abu Zahroh, jika hendak dibandingkan antara hukum Islam dan hukum positif Romawi hingga abad ke 13 maka akan terlihat betapa Islam lebih maju dalam keadilan, dan hal itu tidak akan didapatkan dalam kebudayaan Romawi pada waktu itu. Ini adalah dalil; bahwa tidaklah Muhammad berbicara dengan hawa nafsunya, melainkan itu adalah wahyu yang diturunkan (Allah).[27]

Demikian halnya dengan peradaban India. Gustaff Lobon melaporkan, dalam tradisi masyarakat India dahulu jika seorang suami meninggal dunia dan dibakar, maka wanita juga harus dibakar bersamaan dengan suaminya, dalam api yang sama.[28] Keadaan ini terus demikian hingga Islam menyentuh ranah India hingga hadirnya penguasa yang shalih, sahabat Unak Dzahib radhiyallahu’anhu.[29]

Tradisi masyarakat Arab tak jauh berbeda. Karen Amstrong menyebutkan, Pembunuhan Bayi merupakan cara normal mengendalikan populasi bayi. Bay-bayi perempuan lebih bertahan hidup daripada laki-laki, dan karena tidak ada suku yang dapat menyokong lebih dari jumlah perempuan yang ditentukan, bayi-bayi perempuan dibunuhi tanpa bersalah. Para perempuan seperti budak. Tak memiliki hak-hak kemanusiaan ataupun hukum. Mereka dianggap tak ubahnya ternak. Mereka diperlakukan secara kejam dan takdapat mengharapkan perbaikan nasib mereka.[30] Apa yang disebutkan amstrom setidaknya memperkuat apa yang digambarkan Allah dalam firmanNya;

#sŒÎ)ur tÏe±ç0 Nèd߉ymr& 4Ós\RW{$$Î/ ¨@sß ¼çmßgô_ur #tŠuqó¡ãB uqèdur ×LìÏàx. ÇÎÑÈ 3“u‘ºuqtGtƒ z`ÏB ÏQöqs)ø9$# `ÏB Ïäþqߙ $tB uŽÅe³ç0 ÿ¾ÏmÎ/ 4 ¼çmä3Å¡ôJãƒr& 4’n?tã Acqèd ôQr& ¼çm”™ß‰tƒ ’Îû É>#uŽ—I9$# 3 Ÿwr& uä!$y™ $tB tbqßJä3øts† ÇÎÒÈ

Artinya: “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan Dia sangat marah.Ia Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup) ?. ketahuilah, Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An Nahl: 58-59)

Dalam riwayat Ummul Mukminin ‘Aisyah, bahkan disebutkan bahwa kebobrokan kaum lelaki dan pria di zaman itu terlihat dari model perkawian yang mereka legalkan. Dalam riwayat Imam Bukahri dan Imam Abu Daud, beliau menyebutkan empat model perkawinan jahiliyah diantaranya; Pertama, model pernikahan sebagaimana yang ada saat ini (“seperti” Islam). Kedua, model perkawinan istibdha’ dimana seorang suami mengutus istrinya untuk digauli oleh sifulan yang dimaksudkan utuk mencari kemuliaan keturunan, ketampanan, kegagahan dan lain-lain. Ketiga, model perkawinan yang dilakukan oleh sejumlah pria kurang dari 10 orang, mendatangi seorang wanita untuk digilir. Bila dikemudian hari terbukti wanita itu hamil, maka semua pria tersebut dipanggil untuk kemudian dipilih salah satunya sebagai suami. Terakhir, model pernikahan dimana seorang sejumlah besar pria mendatangi rumah-rumah wanita (pelacur) untuk menggauli mereka. Jika kemudian ada yang hamil diantara mereka maka semua pria tersebut dipanggil untuk kemudian dipilih oleh seorang paranormal (diterawang bayi ini dari spermanya siapa) sebagai suami bagi wanita tersebut.[31] Bahkan sejarawan lainnya berhasil mengungkap jenis-jenis perkawinan tak normal lainnya seperti; nikah ad dayshan, asyighar, dan al badal.[32]

Dalam kehidupan Eropa modern, masih saja terdapat peraturan-peraturan Negara yang menyudutkan hak wanita. Di Inggris misalnya, Hamka dalam bukunya “Kedudukan Perempuan didalam Islam” mengutip perkataan George Bernand Shaw bahwa; “Disaaat seorang perempuan bersuami, disaat itu pula seluruh harta miliknya menurut undang-undang Inggris menjadi milik suaminya.”[33] Di Prancis demikian halnya, para wanita yang bersuami dan ia sebagai pekerja, maka suaminya berhak atas apa yang ia usahakan dari hasil jerih payahnya. Barulah sejak Madame Shamill berhasil (lebih kurang ¼ abad) memperjuangkan hak mandiri para istri, sehingga pada 13 Juli 1918 undang-undang tentang hak hasil jerih payah istri ditetapkan.[34]

3.3 Inilah Wanita di dalam Islam

Tidak ada ketimpangan antara kewajiban yang mesti diemban dan hak yang harus diperoleh di dalam syari’at Islam.[35] Bahkan dalam aturan hidup berbangsa dan bernegara.[36] Baik pria maupun wanita, keduanya tidak berhak menepotasi, mengkorupsi, bahkan mendiskriminasi posisi masing-masing. Ketika Islam datang, sebagian orang-orang pada saat itu ada yang mengingkari sifat keinsaniahan pada diri wanita, ada juga yang meragukan kemanusiaannya, sementara yang lain mengakui kemanusiaannya akan tetapi dianggap sebagai mahluk yang dicipta untuk tunduk kepada laki-laki. Maka diantara keutamaan Islam adalah memulyakan wanita, mengukuhkan eksistensinya sebagai wanita seutuhnya, yang memiliki sifat taklif, tanggung jawab, balasan dan hak untuk masuk syurga. Islam memandang wanita sebagai makhluk yang mulia yang memiliki hak-hak yang sama dengan laki-laki, karena keduanya adalah cabang dari satu pohon, dua bersaudara yang ayahnya adalah Adan dan Ibunya adalah Hawa.[37] Berikut ini beberapa keutamaan wanita dalam Islam;

Pertama, Dr. Yusuf Qardhawi mengatakan, [38] sesungguhnya fitrah wanita tidak berbeda dengan fitrah laki-laki. Keduanya menerima kebaikan dan kejelekan, petunjuk dan kesesatan sebagaimana firman Allah:

<§øÿtRur $tBur $yg1§qy™ ÇÐÈ $ygyJolù;rsù $ydu‘qègéú $yg1uqø)s?ur ÇÑÈ ô‰s% yxn=øùr& `tB $yg8©.y— ÇÒÈ ô‰s%ur z>%s{ `tB $yg9¢™yŠ ÇÊÉÈ

Artinya: ”Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. As Sams: 7-10)

Bandingkan dengan mitos-mitos agama Yahudi dan Kristen dimana agama mereka terang-terangan menyebut wanita sebagai makhluk penyebab dosa bahkan dilarang memerintah dan mengajar laki-laki (1Timotius 2:12 ), Perempuan tidak mempunyai hak bicara dan harus tutup mulut di gereja (1Korintus 14:34 -35), derajat perempuan di bawah laki-laki dan dia harus tunduk kepada suaminya seperti ketundukan manusia kepada Tuhan (Efesus 5:22 -23).

Kedua, Wanita dilingungi dalam institusi pernikahan bernama rumah tangga dengan arahan suami. Suami berkewajiban memberikan segala hak istri (nafkah, rumah, pendidikan[39], dll), tidak menggugatnya, menjaga kehormatannya, serta memberikan perlindungan dan kasih sayang yang maksimal.[40] Penggugatan terhadap institusi ini akan berdampak buruk bagi perkembangan populilasi, ketiadaan nasab, serta implikasi buruk lainnya ditinjau dari dunia kesehatan hingga politik, sosial dan budaya. Negara-negara maju seperti Jerman, Belanda, Jepang dan Singapura kini tengah berupaya mengatasi apa yang mereka sebut dengan krisisi demografis. Laporan dari PBB menyebutkan bahwa diperkirakan pada tahun 2030 daratan Eropa akan kehilangan sekitar 41 Juta penduduknya, meskipun terus kedatangan imigran. Banyak wanita yang mencegah kehamilan dan menggugurkan kandungan dipastikan akan berdampak buruk bagi masadepan negara bersangkutan. Laporan dari majalah Stren no. 27, Edisi 28 juni 2005, jika dalam kurun waktu 50 tahun angka kelahiran selalu lebih kecil dari angka kematian seperti sekarang ini, maka pada tahun 2060 populasi Jerman diperkirakan akan didominasi oleh orang jumpo (Land Ohne Kinder).[41]

Ketiga, Setiap hamba Allah (pria dan wanita) mendapatkan balasan setimpal dari apa yang ia usahakan di dunia. (QS. Al Ahzab: 35)

¨bÎ) šúüÏJÎ=ó¡ßJø9$# ÏM»yJÎ=ó¡ßJø9$#ur šúüÏZÏB÷sßJø9$#ur ÏM»oYÏB÷sßJø9$#ur tûüÏGÏZ»s)ø9$#ur ÏM»tFÏZ»s)ø9$#ur tûüÏ%ω»¢Á9$#ur ÏM»s%ω»¢Á9$#ur tûïΎÉ9»¢Á9$#ur ÏNºuŽÉ9»¢Á9$#ur tûüÏèϱ»y‚ø9$#ur ÏM»yèϱ»y‚ø9$#ur tûüÏ%Ïd‰|ÁtFßJø9$#ur ÏM»s%Ïd‰|ÁtFßJø9$#ur tûüÏJÍ´¯»¢Á9$#ur ÏM»yJÍ´¯»¢Á9$#ur šúüÏàÏÿ»ptø:$#ur öNßgy_rãèù ÏM»sàÏÿ»ysø9$#ur šúï̍Å2º©%!$#ur ©!$# #ZŽÏVx. ÏNºtÅ2º©%!$#ur £‰tãr& ª!$# Mçlm; ZotÏÿøó¨B #·ô_r&ur $VJ‹Ïàtã ÇÌÎÈ

Artinya: ” Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin[1218], laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Keempat, tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam penetapan hukuman duniawi menurut syari’at Islam yang harus dilaksanakan oleh negara Islam seperti potong tangan, rajam, dan lain-lain.[42]

ä͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ `yJsù z>$s? .`ÏB ω÷èt/ ¾ÏmÏHø>àß yxn=ô¹r&ur cÎ*sù ©!$# ÛUqçGtƒ Ïmø‹n=tã 3 ¨bÎ) ©!$# ֑qàÿxî îLìÏm§‘ ÇÌÒÈ

Artinya: ”Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka Barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, Maka Sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. AL Ma’idah: 38-39)

èpu‹ÏR#¨“9$# ’ÎT#¨“9$#ur (#rà$Î#ô_$$sù ¨@ä. 7‰Ïnºur $yJåk÷]ÏiB sps($ÏB ;ot$ù#y_ ( Ÿwur /ä.õ‹è{ùs? $yJÍkÍ5 ×psùù&u‘ ’Îû Èûïϊ «!$# bÎ) ÷LäêZä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# ( ô‰pkôuŠø9ur $yJåku5#x‹tã ×pxÿͬ!$sÛ z`ÏiB tûüÏZÏB÷sßJø9$# ÇËÈ

Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” (QS. An Nur: 2)

Kelima, Islam memberikan tugas dan peran sesuai dengan fitrah dan jati diri masing-masing. Fungsi organ tubuh yang diciptakan berbeda secara kodrati merupakan hikmah penempatan tugas yang tidak selamanya harus sama. Semua aktifitas hidup telah diatur oleh Islam sesuai dengan kondisi masing-masing. setelah menyebutkan sejumlah dalil dari al qur’an dan sunnah mengenai wanita, Syaikh ’Ali Jum’ah menjelaskan bahwa nash-nash tersebut merupakan ta’kid (penegasan) akan tingginya kedudukan wanita di dalam Islam. Tidak ada agama samawi maupun ardhi manapun yang menempatkan kedudukan serta penjagaan terhadap wanita seperti yang terdapat dalam agama Islam. Nash-nash tersebut menerangkan bahwa pada asalnya, pria dan wanita sama dalam hal taklif (pembebanan syari’at) juga dalam hal hak dan kewajiban. Sementara perbedaan dhahir dalam hal hak dan kewajiban hanya ada dari sisi wadho’if dan khoso’is. Maka selama-lamanya perbedaan wadho’if (sifat-sifat) dan khosois (karakteristik) tidaklah dinamakan sebagai bentuk kekurangan pada bentuk tubuh manusia atau mendiskriminasikan antara satu dan lainnya.[43] Persepsi feminis tentang gender menyebabkan ketiadaan istilah proporsional. Proporsional hanya diakui jika mereka turut memainkan peran didalamnya. Itupulalah yang mengilmahi kaum homosex di Belanda untuk meminta kesamaan hak mereka. Pada 1 April 2001 pemerintah Belanda ternobatkan sebagai negara pertama yang melegalkan undang-undang pernikahan gay dan lesbian.[44]

Keenam. Islam senantiasa menjaga nama baik wanita dari tuduhan dan pencemaran nama baik. Prifasi ini benar-benar di lindungi dalam hukum Islam hingga tingkat pidana. Seseorang yang mengajukan tuduhan mesti membawa empat orang saksi. Jika penuduh tidak mampu membawanya maka ia justeru di dera 80 kali dan tidak diterima kesaksiannya untuk selamanya.

tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# §NèO óOs9 (#qè?ùtƒ Ïpyèt/ö‘rÎ/ uä!#y‰pkà­ óOèdr߉Î=ô_$$sù tûüÏZ»uKrO Zot$ù#y_ Ÿwur (#qè=t7ø)s? öNçlm; ¸oy‰»pky­ #Y‰t/r& 4 y7Í´¯»s9ré&ur ãNèd tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÍÈ žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qç/$s? .`ÏB ω÷èt/ y7Ï9ºsŒ (#qßsn=ô¹r&ur ¨bÎ*sù ©!$# ֑qàÿxî ÒO‹Ïm§‘ ÇÎÈ

Artinya: ”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik[1029] (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An Nur: 4-5)

¨bÎ) tûïÏ%©!$# šcqãBötƒ ÏM»uZ|ÁósãKø9$# ÏM»n=Ïÿ»tóø9$# ÏM»oYÏB÷sßJø9$# (#qãZÏèä9 ’Îû $u‹÷R‘‰9$# ÍotÅzFy$#ur öNçlm;ur ë>#x‹tã ×LìÏàtã ÇËÌÈ

Artinya: ”Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar.(QS. An Nur: 23)

Ketujuh, Islam memberikan kesempatan kepada pria dan wanita untuk berlomba-lomba menuju derajat terbaik terbaik di hadapan Allah (taqwa).

$pkš‰r¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) /ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\/qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu‘$yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y‰YÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz

Artinya: ”Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujuraat: 13)

Kedelapan, Islam menjaga kehormatan wanita dengan hijab yang dikenakannya. Hijab buklanlah ”baju mantel” yang hanya dipakai saat shalat saja, sebagaimana tuduhan Cak Nur (dimuat di majalah Matra, Desember 1992, hal. 18). Tapi ia merupakan penutup aurat tubuh wanita kecuali muka dan telapak tangan menurut hukum syara’.[45] Hijab dikemudian hari bahkan telah terbukti secara medis melindungi kulit wanita yang diciptakan sangat sensitif bagi berbagai penyakit kulit akibat sinar UV (ultra violet). Caryn Emoneez, kepala lembaga penelitian Dana Farber Institute yang berlokasi di Boston AS mengatakan; ”Terjadinya mutasi genetik merupakan 5-10 % penyebab kanker, tapi disaat yang sama, faktor prilalku justeru merupakan 70-80% penyebab kanker (…) menjemur muka, tangan, leher dan kaki dibawah sinar matahari.”[46] Selain fungsi medis, jilbab juga berfungsi sebagai perlindungan dari kejahatan mata, tangan dan lain sebagainya.

$pkš‰r¯»tƒ ÓÉ<¨Z9$# @è% y7Å_ºurø—X{ y7Ï?$uZt/ur Ïä!$|¡ÎSur tûüÏZÏB÷sßJø9$# šúüÏRô‰ãƒ £`ÍköŽn=tã `ÏB £`ÎgÎ6Î6»n=y_ 4 y7Ï9ºsŒ #’oT÷Šr& br& z`øùt÷èムŸxsù tûøïsŒ÷sム3 šc%x.ur ª!$# #Y‘qàÿxî $VJŠÏm§‘ ÇÎÒÈ

Artinya: ”Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)

Kedelapan, sejarah peradaban Islam mencatat peran wanita yang mengharumkan nama Islam dimata dunia. Diantara mereka ada yang turut meriwayatkan hadits, berjihad, menda’wahkan Islam, menjadi ulama, faqih dan lain sebagaianya. Kedudukan mereka dikala itu tidak ada bandingannya dengan peradaban lain yang nyaris tak mampu mengangkat derajat mereka. Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud Abu Syuqqoh dalam bukunya Tahrîr al Mar’ah fî ’asr ar Risâlah menyebutkan sejumlah dalil tentang keikut sertaan wanita dalam; pendidikan dan pengajran, meriwayatkan hadits, ibadah dengan berjamaah di Masjid, acara untuk umum, bermasyarakat, menjaga stabilitas masyarakat, berjihad, dan berkerja dengan tetap memperhatikan batasan-batasannya.[47]

IV. Penutup

Gerakan feminis radikal dengan upaya equality gender ternyata merambah kepada para mufakkir muslimah di belahan dunia dari timur tengah hingga negeri ini. Sebut saja Fatima Mernisi dari Maroko (penulis sejumlah buku diantaranya: Beyond the Veil), Nawal al Saadawi dari Mesir (penulis buku The Hidden Face of Eva), Riffat Hassan dari Pakistan (pendiri International Network for The Rights of Female Victims of Violence in Pakistan), Taslima Nasreen dari Bangladesh (penulis buku Amar Meyebela), Assia Djebar dari Al Jazair (Penulis novel La Fantasia and Loin de Midine), Amina Wadud dari Amerika Serikat dengan kasus Imam Shalatnya, Zainah Anwar dari Sis-ters In Islam (SIS) Malaysia, Siti Musdah Mulia di negeri kita dengan pelegalan homosexnya, dan lalin-lain.

Mereka terpengaruh dengan ide usang yang sejatinya banyak ditentang di negeri tempat ide itu bermunculan, sebagaimana disebut dimuka. Fakta lain juga menunjukkan bahwa apa yang mereka perjuangkan itu justeru berbalik seribu derajat dengan apa yang terjadi di negeri dimana pemikiran mereka disuarakan. Berikut ini kita lihat sejumlah kasus kriminalitas yang terjadi di Amerika Serikat berdasarkan tabel berikut. Data yang dikeluarkan FBI ini sesungguhnya tidak menggambarkan kejadian yang riil, sebab itu semua didasarkanpada laporan dan penyidikan lembaga terkait. Disinyalir masih banyak kasus-kasus yang tidak diadukan terkait rasa takut dan ancaman pelaku dan korban dari berbagai pihak.

United States Crime Rates 1960 – 2007

Please see The Disaster Center’s Rothstein Catalogue for Disaster Planning

United States Crime Rates 1960 – 2007

Year

Murder

Forciblr Rape

Robbery

Burglary

Larceny theft

Vehicle Theft

1996

19,650

96,250

535,590

2,506,400

7,904,700

1,394,200

1997

18,208

96,153

498,534

2,460,526

7,743,760

1,354,189

1998

16,914

93,103

446,625

2,329,950

7,373,886

1,240,754

1999

15,522

89,411

409,371

2,100,739

6,955,520

1,152,075

2000

15,586

90,178

408,016

2,050,992

6,971,590

1,160,002

2001

16,037

90,863

423,5557

2,116,531

7,092,267

1,228,391

2002

16,229

95,235

420,806

2,151,252

7,057,370

1,246,646

2003

16,528

93,883

414,235

2,154,834

7,026,802

1,261,226

2004

16,148

95,089

401,470

2,144,446

6,937,089

1,237,851

2005

16,740

94,347

417,438

2,155,448

6,783,447

1,235,859

Kosa Kata:

Murder : Pembunuhan , Forciblr Rape : Pemerkosaan dengan kekerasan , Robbery : Perampokan,

Larceny theft : Pencopetan ,Vehicle Theft : Curanmor , Burglary : Pembobolan rumah / gedung

Dari prosentase tahun1996 – 2005 maka kasus kejahatan perhari adalah:

Pembunuhan : 16.751,4 (46 kasus / hari)

Perkosaan dengan kekerasan : 93, 409,9 (256 kasus / hari)

Perampokan : 437.532,6 (1.199 kasus / hari)

Pembonolan rumah / gedung : 2.216.979,6 (6.074 kasus / hari)

Pencurian biasa : 6.490.270.2 (17.781 kasus / hari)

Curanmor : 1.251.056.0 (3.428 kasus / hari)

——-Wallahu A’lam bishowab ——-

DAFTAR PUSTAKA

1. Abu Syuqqoh, Abdul Halim Mahmud Tahrîr al Mar’ah fî ‘Ashr ar Risâlah, terj. Mujiyo, Bandung: Al Bayan, 1994

2. Al Istanbuli, Mahmud Mahdi & Musthafa Ab Nashr As Syibli, Nisâ’un Haula ar Rasûl, terj. Ahmad Sarbini, Bandung: Irsyad Baitu Salam, 2005

3. Al Mubarak Fury, Syaikh Shofiyurrhman, Ar Rahîq al Makhtûm, Beirut: Mu’assasah Ar Risâlah, 1999

4. Al Qardhawi, Yusuf, Hadyu al Islam Fatawa Mu’ashirah1, terj. As’ad yasin, Jakarta: Gema Insani Press, 1995

5. ————————–, Khitâbuna al Islâmy fî Ashr al Aulamah, terj. Abdillah Nur Ridho, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2004

6. ————————–, Malâmih al Mujtama’ al Islâmy al ladzi Nunsyiduhu, terj. Abdul Salam Masykur, Bandung: Era Intermedia, 2003

7. ————————–, Ummatuna Baina Qarnain, terj. Yoga Izza, Solo: Era Intermedia, 2001

8. Amstrong, Karen, Muhammad: A Biography of the Prophet, terj. Sirikit Syah, Surabaya: Risalah Gusti, 2001

9. An Nabarawy, Khadijah, Huqûq al Insân fî al Islâm, Cairo: Dâr as Salâm, 2006

10. Arif, Syamsuddin, Orentalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani Press, 2008

11. As Syarqowi, Syaikh Ahmad Muhammad, Al Mar’atu fî al Qashashi al Qur’ân, Mesir: Dâr as Salâm, 2001

12. As Syiba’i, Muthafa, Al Mar’atu baina al Fiqhi wa al Qônûn, Damaskus: Maktabah Al ‘Arobiyah bi al Habl, 1966

13. Bertens, K. Perspektif Logika; Esai-esai tentang Masalah Aktual, Yogyakatrta: Penerbit Kanisius, 2001

14. Baswedan, Sufyan bin Fu’ad, Lautan Mukjizat di Balik Balutan Jilbab, Klaten: Wafa Press, 2007

15. Farid, Ahmad, Manhajul Al Islâmî fî Tazkiyah An Nafs, Beirut: Dar Ibnu Hazm, 1997

16. Gwinn, Robert P. (Ed.), The New ensiclopaedia Britannica, Chicago: The University of Chicago, 1992

17. Hamka, Kedudukan Perempuan didalam Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1996

18. Handrianto,Budi, Perkawinan Beda Agama; Dalam Pandangan Syari’at, Jakarta: Khairul Bayan, 2003

19. Harjono, Anwar, Hukum Islam; Keluasan dan Keadilannya, Jakarta: Bulan Bintang, 1987

20. Husaini, Adian, Hendak Kemana (Islam) Indonesia ?, Surabaya: Media Wacana, 2005

21. ——————-, Wajah Peradaban Barat, Jakarta: Gema Insani Press, 2005

22. Kelawa, Andek Masnah Andek, Kepemimpinan Wanita dalam Islam; Kedudukannya dalm Syari’ah, Bangi: Universitas Kebangsaan Malaysia, 1999

23. Muhammad, Syaikh ‘Ali Jum’ah, Al Mar’atu fî al Hadhôrôh al Islâmiyah, Mesir: Dâr as Salâm, 2006

24. Qazan, Salah, Nahwa Fikrin Nisâ’iyyin Harakiyyah Munazham, terj. Khazin Abu Fakih, Solo: Era Intermedia, 2001

25. Rasyid, Daud, As Sunnah fi Indûnisy: Baina Anshoriha wa Khusumiha, terj. M. Nur Kholis Ridwan, Jakarta: Usamah Press, 2003

26. —————–, Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan, Bandung: PT Syamil Cipta Media, 2006

27. Tim Editor, Ensiklopedi Islam 5, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2000

28. Ya’qub, Ali Mustafa, Islam Masa Kini, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001

29. Zahroh, Muhammad Abu, Al Mujtama’ al Insâni fî Dzilal al Qur’ân, Beirut: Dâr al Fikr, 1970

Dari Internet

1. http://kammi.or.id

2. http://violetatniyamani.blogspot.com,

3. www. Pesantrenvirtual.com

4. http://suara-muhammadiyah.com 21 November 2008

5. http://www.hidayatullah.com, 17 November 2008.



[1] Makalah ini disampaikan pada mata kuliah Studi Ulum al Qur’an, Program Pasca di UIKA (Universitas Ibn Khaldun) Bogor, Jurusan Pendidikan Islam, Konsentrasi Pemikiran Islam. 13 Desember 2008

[2] Budi Handrianto, Perkawinan Beda Agama; Dalam Pandangan Syari’at, Jakarta: Khairul Bayan, 2003, hal. 31. dalam hal ini penulis mengutip pernyataan Henry. S, dari tulisan Adiah Husaini di harian Republika.

[3] Majalah Syir’ah Edisi ke- 25 Februari 2002 memuat laporan utama yang berjudul “Bedanya Nikah beda Agama”. Majalah milik JIL ini memuat sejumlah pendapat dan kalangan yang mengatasnamakan pemikiran ulama dan turas untuk melegitimasi perkawinan beda agama dalam kalangan artis.

[4] Adian Husaini, Hendak Kemana (Islam) Indonesia ?, Surabaya: Media Wacana, 2005, hal. 100-101

[5]Arianto Abidin, ”Merekonstruksi Paradigma Gender (Upaya Meluruskan Pemahaman tentang Gender)
http://kammi.or.id, 17 November 2008

[6]Nasarudin Umar, “Prespektif Gender dalam Islam” http://media.isnet.org/islam/. dikutip dari Jurnal Pemikiran Islam Paramadina, 17 November 2008

[8] Nasarudin Umar, “Prespektif Gender dalam Islam” http://media.isnet.org/islam/. dikutip dari Jurnal Pemikiran Islam Paramadina

[9]Robert P. Gwinn (Ed.), The New ensiclopaedia Britannica, Chicago: The University of Chicago, 1992, hal. 172

[10] Anwar Harjono, Hukum Islam; Keluasan dan Keadilannya, Jakarta: Bulan Bintang, 1987, hal. 218

[11] Arianto Abidin, ”Merekonstruksi Paradigma Gender (Upaya Meluruskan Pemahaman tentang Gender)
http://kammi.or.id, 17 November 2008

[12] Dalam buku Penafsiran Alkitab dalam Gereja: Komisi Kitab Suci Kepausan yang edisi aslinya berjudul The Interpretation of the Bible in the Church, the Pontifical Biblical Commision (Kanisius:2003), dijelaskan bahwa asal-usul sejarah penafsiran kitab suci ala feminis dapat dijumpai di Amerika Serikat di akhir abad 19. Dalam konteks perjuangan sosio-budaya bagi hak-hak perempuan, dewan editor komisi yang bertanggung jawab atas revisi (tahrif) Alkitab menghasilkan The Woman’s Bible dalam dua jilid. Gerakan feminisme di lingkungan Kristen ini kemudian berkembang pesat, khususnya di Amerika Utara. Lihat, Hendri Solahuddin, MA, ”Poligami dan Gerakan Feminisme Global”. http://www.hidayatullah.com, 17 November 2008.

[13] Yusuf Al Qardhawi, Malâmih al Mujtama’ al Islâmy al ladzi Nunsyiduhu, terj. Abdul Salam Masykur, Bandung: Era Intermedia, 2003, hal. 150-151

[14] Syaikh Ahmad Muhammad As Syarqowi, Al Mar’atu fî al Qashashi al Qur’ân, Mesir: Dâr as Salâm, 2001, hal. 106

[15] Hadits tersebut ada dalam Shahîh Bukhâri, 2/451, No: 3331, Shahîh Muslim 2/1091, No. 61, Sunan At Tirmidzi, 3/456, No. 1163, Sunan Ibnu Majah, 1/954, No.1851.

[16] Riffat Hasan menulis didalam “Harvadrd Divinity Bulletin”, edisi Januari-Mei 1987, kemudian diterjemahkan oleh Wardah Hafizh kedalam bahasa Indonesia dan dimuat dalam jurnal “Ulumul Qur’an,” No. 4, Th 1990, hal. 48-55

[17] Daud Rasyid, As Sunnah fi Indûnisy: Baina Anshoriha wa Khusumiha, terj. M. Nur Kholis Ridwan, Jakarta: Usamah Press, 2003, hal. 133-144. Penulis asal Malaysia juga menyebutkan; penciptaan Hawa dari tulang rusuk adam bukanlah suatau penghinaan yang merendahkan wanita. Tetapi ia sesungguhnya lebih menjadi bukti keagungan dan kebesaran Allah ta’ala yang mampu menciptakan manusia dari sesuatu yang hidup tanpa melalui proses kelahiran biasa, sebagaimana sebelum itu Allah juga mampu menciptakan Adam dari tahan tanpa proses kelahiran. Lihat, Andek Masnah Andek Kelawa, Kepemimpinan Wanita dalam Islam; Kedudukannya dalm Syari’ah, Bangi: Universitas Kebangsaan Malaysia, 1999, hal. 15

[18]Kuni Khairunnisa, ”Prespektif Gender Dalam Islam”. www. Pesantrenvirtual.com, 21 November 2008

[19] Hadits di atas terdapat di dalam Shahîh Bukhari, 2/432, No. 3241, 3/388, No. 5198, 4/182, No. 6449, Sunan Tirmidzi, 4/716, No. 2603, Musnad Ahmad, 4/429, Shaih Muslim, 4/2096, No. 2736 dll.

[20] Daud Rasyid, As Sunnah fi Indûnisy: Baina Anshoriha wa Khusumiha, hal. 148-152

[21] Mu’arif, “Kesetaraan Gender dalam Islam”, http://suara-muhammadiyah.com 21 November 2008

[22] Syamsuddin Arif, Orentalis dan Diabolisme Pemikiran, Jakarta: Gema Insani Press, 2008, hal. 109

[23] Yusuf Qardhawi, Ummatuna Baina Qarnain, terj. Yoga Izza, Solo: Era Intermedia, 2001, hal. 35

[24] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, Jakarta: Gema Insani Press, 2005, hal. 19

[25] Muthafa As Syiba’I, Al Mar’atu baina al Fiqhi wa al Qônûn, Damaskus: Maktabah Al ‘Arobiyah bi al Habl, 1966, hal. 13-14

[26] Mahmud Mahdi Al Istanbuli & Musthafa Ab Nashr As Syibli, Nisâ’un Haula ar Rasûl, terj. Ahmad Sarbini, Bandung: Irsyad Baitu Salam, 2005, hal. 33-34

[27] Muhammad Abu Zahroh, Al Mujtama’ al Insâni fî Dzilal al Qur’ân, Beirut: Dâr al Fikr, 1970, hal. 86

[28] Mahmud Mahdi Al Istanbuli & Musthafa Ab Nashr As Syibli, Nisâ’un Haula ar Rasûl, 37

[29]Mahmud Mahdi Al Istanbuli & Musthafa Ab Nashr As Syibli, Nisâ’un Haula ar Rasûl, 37-38. Penulis merujuk kepada tulisan Gustaf Lobbon dalam bukunya Hadharatul Hindi, hal. 644-666, dan Dr. Mustafa As Siba’i, Al Mar’ah wa al Qanun.

[30] Karen Amstrong, Muhammad: A Biography of the Prophet, terj. Sirikit Syah, Surabaya: Risalah Gusti, 2001, hal. 63

[31] Syaikh Shofiyurrhman al Mubarak Fury, Ar Rahîq al Makhtûm, Beirut: Mu’assasah Ar Risâlah, 1999, hal. 33-34.

[32] Dr. Syamsudin Arif dalam bukunya Orientalis dan Diabolisme Pemikiran mengutip dari; Dorothy van Ess, Fatima and Her Sisters (New York, 1961), Magila Morsy, Les Femmes du Prophete (Paris, 1989) dan D.A Spellberg, Politics, Gender, and The Islamic Past; the Legacy of Aisha binti Abi Bakr (New York, 1994)

[33] Hamka, Kedudukan Perempuan didalam Islam, Jakarta: Pustaka Panjimas, 1996, hal. 60-61

[34] Salah Qazan, Nahwa Fikrin Nisâ’iyyin Harakiyyah Munazham, terj. Khazin Abu Fakih, Solo: Era Intermedia, 2001, ha. 98

[35] Khadijah An Nabarawy, Huqûq al Insân fî al Islâm, Cairo: Dâr as Salâm, 2006, hal. 11

[36] Khadijah An Nabarawy, Huqûq al Insân fî al Islâm, hal. 631

[37] Yusuf Al Qardhawi, Khitâbuna al Islâmy fî Ashr al Aulamah, terj. Abdillah Nur Ridho, Jakarta: Pustaka Al Kautsar, 2004, hal. 225

[38] Yusuf Qardhawi, Hadyu al Islam Fatawa Mu’ashirah1, terj. As’ad yasin, Jakarta: Gema Insani Press, 1995, hal. 532

[39] Contohnya, dalam masalah pendidikan, nabi telah mengabulkan permintaan para muslimah untuk diberikan pendidikan secara khusus sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam shahihnya. Lihat, Ali Mustafa Ya’qub, Islam Masa Kini, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001, hal. 144

[40] Dr. Ahmad Farid menyebutkan setidaknya ada tiga hal hikmah pernikahan ditinjau dari sudut tazkiyah an nafs; 1) Tahqiq as sakan an nafsy(terwujudnya ketenangan di dalam jiwa) (QS Ar Ruum; 21), 2) Tahsin an nafs (Perbaikan jiwa) (HR. Bukhari dari Ibnu Mas’ud, Bab man lam yastathi’ al ba’ah, Juz 6, no. 117) 3) At Ta’awun baina Zaujaini fi Tho’atillah (tolong menolong kedua pasangan dalam ketaatan kepada Allah) (QS. Taha: 132 & At Tahrim : 6) Lihat, Ahmad Farid, Manhajul Al Islâmî fî Tazkiyah An Nafs, Beirut: Dar Ibnu Hazm, 1997, hal. 438-444.

[41] Syamsuddin Arif, Orentalis dan Diabolisme Pemikiran, hal. 108. Dikutip dari Miwa Suzuki, “Dolls Give Elders a New Leas on Life,” The Age (Australia), 24 Februari 2005.

[42] Tim Editor, Ensiklopedi Islam 5, Jakarta: Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2000, hal. 186

[43] Syaikh ‘Ali Jum’ah Muhammad, Al Mar’atu fî al Hadhôrôh al Islâmiyah, Mesir: Dâr as Salâm, 2006, hal. 17

[44] K. Bertens, Perspektif Logika; Esai-esai tentang Masalah Aktual, Yogyakatrta: Penerbit Kanisius, 2001, hal. 156-157. Nama Prof, Dr. K. Bertens dilahirkan di Nederland tahun 1936. Setelah menyelesaikan program doktoralnya di Belgia. Sejak tahun 1968 mengajar filsafat diberbagai perguruan tinggi di Indonesia. Sejak 1983 termasuk staf Pusat Pengembangan Etika di Universitas Atmajaya.

[45] Daud Rasyid, Pembaruan Islam dan Orientalisme dalam Sorotan, Bandung: PT Syamil Cipta Media, 2006, hal. 51

[46] diantaranya yang menggejala sejumlah negara di Eropa adalah; sunburn (kulit terbakar), solar keratoses (kulit terkelupas), squamous cell carcinoma (tumor sel gepeng), in ditu squamous cell carcinoma (tumor sel gepeng yang terkolasir), photosensitivity (penyakit peka cahaya) solar urticaria (gatal-gatal akibat terbakar cahaya) dan melanoma (kanker melamin). Sufyan bin Fu’ad Baswedan, Lautan Mukjizat di Balik Balutan Jilbab, Klaten: Wafa Press, 2007, hal. 65-88

[47] Abdul Halim Mahmud Abu Syuqqoh, Tahrîr al Mar’ah fî ‘Ashr ar Risâlah, terj. Mujiyo, Bandung: Al Bayan, 1994, hal. 125-161


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: