Oleh: hudzai | 6 Januari 2009

M. Natsir; Pendidikan dan Sians

PENDIDIKAN DAN SAINS DALAM PRESPEKTIF DR. MOHAMMAD NATSIR
Oleh: Imam Taufik Alkhotob
I. Pendahuluan
Pada tanggal 10 November 2008 bersamaan dengan diperingatinya hari pahlawan, perintah Indonesia telah menetapkan Dr. Mohammad Natsir (akrab dengan panggilan Pak Natsir/bergelar Datok Sinaro Panjang) sebagai Pahlawan Nasional untuk bangsa Indonesia. Meski terkesan lama, namun usaha Panitia refleksi Seabad Natsir dan seluruh komponen umat anak idiologis Natsir akhirnya tercapai. Semua merasa gembira sekaligus terharu sebab meski telah wafat sejak 6 Februari 1993 , nama Natsir tetap menjadi icon pergerakan ummat.
Tokoh pergerakan Islam internasional yang akrap dipanggil oleh Raja Faisal dengan sebutan “Mujahid Kabir” ini adalah figur ummat yang melegenda.

Raja Faisal sendiri kemudian menganugerahkan “Faisal Award” sebagaimana ia juga memberikannya kepada Syaikh Abul A’la Al Maududi, Syaikh Abdullah Ibnu Baz, Syaikh Abul Hasan An Nadawi dan lain-lain atas jasa-jasanya dalam berkhidmat kepada dunia Islam.
Peta biografi M. Natsir telah banyak ditulis oleh berbagai kalangan baik akademisi maupun non akademisi dari beragam sisi. Keberagaman sisi itu menunjukkan betapa luasnya bidang perjuangan yang ia geluti. Salah satu hal yang cukup menarik untuk dikaji dalam hal ini adalah pemikiran beliau tentang pendidikan dan sains (ilmu pengetahuan). Topik ini akan senantiasa relevan untuk terus dikaji, bukan hanya karena masalah pendidikan masih menjadi isu sentral ditengah-tengah usaha umat memperbaiki kondisi negara yang sakit, lebih dari itu pengakuan Natsir sendiri menyebutkan bahwa ranah perjuangan pertama yang digelutinya adalah dalam dunia pendidikan. Dihadapan para guru Pendis (Pendidikan Islam) Medan 20 September 1951 Natsir mengatakan; “Sekarang saya berada ditengah-tengah saudara-saudara yang rasanya saya berada kembali pada tangga saya sendiri. Sebab takkala saya keluar dari bangku pelajaran, maka yang mula-mula saya hadapi dalam lapangan pekerjaan dan perjuangan, ialah lapangan pendidikan Islam.”
Pengkajian tentang pendidikan dalam prespektif Natsir akan semakin terasa lengkap jika pemikiran beliau tentang sains ikut diurai. Hal itu karena Natsir terkenal dengan sosok legendaries di dunia pendidikan yang tidak membeda-bedakan antara sains Barat atau Timur selama itu adalah al haq (kebenaran).

II. Biografi M. Natsir
Untuk mengetahui peta pemikiran Natsir maka riwayat hidup dibawah ini akan banyak membantu dalam melihat bagaimana keudukan Natsir baik sebagai inspirator, penggerak, ataupun pelaku pendidikan tersebut.
2.1 Masa Kelahiran dan Pendidikan
2.1.1 Masa Kelahiran dan Kondisi Sosio Kultural
Tepatnya 17 Juli 1908 pasangan Idris Sutan Saripado (pegawai pemerintahan Belanda) dan Khadijah (keturunan Chainago) melahirkan Natsir kecil di bumi Alahan Panjang Minangkabau Sumatera Barat. Natsir kecil kemudian tumbuh dalam setting sejarah yang penuh dengan gejolak sosial dan keagamaan. Sejak abad ke XIX, Minangkabau merupakan basis utama gerakan pembaharuan dan kebangkitan Islam yang dipelopori kaum Padri. Gerakan ini melahirkan dinamika sosial tersendiri karena memicu perdebatan intelektual antara kaum adat dan tokoh pembaharuan agama, Natsir menyaksikan dan menjadi bagian dinamika itu. Bahkan untuk membangun inteaksi dengan agama sesuai dengan apa yang dipahami, orang-orang minang membangun kebiasaan (Floksways) melepaskan anak-anaknya untuk tidur disurau-surau. Dalam asuhan orang tua dan para asatidz di masa kecilnya, Natsir telah memulai perjalanan hidupnya dengan sentuhan Islam modernis.
Dimasa itu pulalah, tokoh-tokoh seperti Buya Hamka, juga mengalami hal yang sama. Apalagi ayahanda Buya Dr. Abdul Karim Amrullah adalah tokoh yang paling populer ketika itu menghusung paham Islam modernis.
2.1.2 Natsir Mengenyam Pendidikan
Sekolah Rakyat (SR). Orang jawa sering menyebutnya dengan sekolah ”ongko loro” (nomor dua). Sebuah sekolah rendahan tempat memisahkan kalangan buruh dan nigrat. Disinilah Natsir pertama kali mengenyam pendidikannya hingga ke kelas dua. Belum sempat tamat, Natsir harus pindah tepatnya di Hollandsch Inlandsche school (HIS) Adabiyah di Padang dan tinggal bersama pamannya; Ibrahim. HIS Adabiyah Padang adalah sekolah partikelir yang didirikan oleh Haji Abdullah Ahmad pada 23 Agustus 1915, dan oleh Belanda sering disebut sebagai sekolah liar (Wilde School). Sesungguhnya Natsir berharap dapat bersekolah di HIS yang didirikan oleh pemerintah Belanda untuk anak-anak pribumi kelas atas. Namun hal itu tidak memungkinkan oleh sebab kedudukan orangtuannya yang pegawai rendahan. .
Belum sempat Natsir menyelesaikannya di kelas satu, Natsir kembali dipindahkan oleh ayahnya. Kali ini ke Solok dan tinggal dengan seorang saudagar kaya bernama Haji Musa. Di kota ini ternyata satu sekolah HIS milik Pemerintah baru dibuka. Oleh ayahnya Natsir coba didaftarkan. Karena kelas satu sudah penuh, Natsir kemudian mencoba mendaftar di kelas dua. Karena kepintarannya Natsir ternyata layak untuk duduk di kelas dua. Disinilah awal pertamakali Natsir berinteraksi dengan pendidikan sistem kolonial. Di Solok, selain belajar di HIS, sore harinya Natsir juga belajar agama di Madrasah Diniyah Tuanku Mudo Amin, seorang pengikut Haji Rasul. Lagi-lagi di kota ini Natsir tidak dapat menyelesaikan HIS-nya. Karena ketika kelas empat ia kembali pindah ke Padang atas ajakan kakaknya, Rabi’ah. Di Padang Natsir diterima di kelas lima HIS milik Pemerintah, sekolah yang dulu pernah menolaknya karena status ayahnya. Akhirnya di sekolah inilah Natsir menyelesaikan HIS dengan nilai memuaskan .
Setamatnya dari HIS, karena nilai-nilainya yang baik, Natsir mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah ke tingkat MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) milik pemerintah Hindia dan setingkat SMP di Padang. Ia mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 20 perbulan. Natsir sekolah di MULO dari tahun 1923-1927 dan disini Ia kembali menyelesaikan studi dengan nilai memuaskan. Semasa di MULO inilah Natsir juga tercatat sebagai anggota JIB (Jong Islamieten Bond) pimpinan Sanusi Pane, seorang sastrawan terkenal di Indonesia yang bergerak dibidang kepemudaan Islam.
Karena Natsir mendapatkan nilai yang baik di MULO, maka ia kembali mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat AMS (Algemene Midlebare School) setingkat SMA sejak 1927 hingga 1930. Karena di Padang belum ada sekolah tingkat AMS, maka Natsir memutuskan untuk melanjutkan sekolah AMS nya di Bandung, Jawa Barat. Di AMS ini Natsir mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 30 perbulan. Disinilah Natsir berjumpa dengan A. Hasan kemudian secara intens memperdalam studinya tentang Islam dibawah asuhan beliau antara tahun 1927 hingga tahun 1932. A. Hasan adalah tokoh tersendiri yang mewarnai pemahaman keagamaan Natsir. Natsir mengatakan; ”Kami merasa sangat beruntung mendapat didikan dan bimbingan beliau itu, yang sesungguhnya takkan kami lupakan dan sia-siakan … sungguh kehidupan kami banyak di pengaruhi oleh cara hidup tuan A. Hassan.”
Ketika belajar di AMS Natsir kembali aktif di JIB Bandung. Karena piawai dalam berorganiasai ia kemudian diangkat menjadi ketua (sejak 1928-1932). Selepas tamat dari AMS, Natsir mendapat tawaran beaiswa untuk meneruskan pendidikannya ke Fakultas Hukum Jakarta atau Fakultas Ekonomi di Rotterdam Belanda. Namun ia menolak kedua tawaran itu, dan lebih memilih untuk menjadi pegawai di majalah Pembela Islam, sebuah majalah milik Persis dibawah asuhan Tuan A. Hasan. Perhatiannya terhadap kondisi penjajahan dan nasib bangsa yang tertindas menjadi sebab utama mengapa ia tindak ingin mengambil studi ke Belanda. Beberapa tahun kemudian, karena keinginannya mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam, Natsir mengikuti kursus guru Diploma LO (Lager Onderwijs) (1931-1932) di Bandung.

2.1.3 Natsir Berkiprah di Dunia Pendidikan
“Sebagai segelintir orang yang terdidik, kamu harus memerdekakan bangsamu” demikian pesan Dr. Van Bessem orang belanda yang pernah memimpin (rector) AMS kepada Natsir saat masih studi di sekolah tersebut. Pesan ini tertancap kuat pada diri Natsir, dan menjadi salah satu penyemangat dirinya untuk tetap menyuarakan perjuangan menuju kemerdekaan.
Ketertarikan Natsir untuk memperjuangkan kemerdekaan dimulai dari peran aktifnya membangun dunia pendidikan. Langkah ini ia ambil karena Natsir sadar betul kedudukan pendidikan bagi masa depan bangsa. Mengenai hal itu Natsir mengatakan; “Maju atau mundurnya salah satu kaum bergantuang sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada suatu bangsa yang terbelakang menjadi maju, melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka.”
Berikut ini adalah beberapa peran terpenting Natsir dalam dunia pendidikan.
a. Sebagai guru di Madrasah
Ketika duduk di kelas tiga Madrasah Diniyah Tuanku Mudo Amin, Natsir diminta menjadi Guru bantu kelas satu. Hal ini karena kepintaran dan prestasinya. Namun karena ketika kelas empat ia pindah ke Padang, maka iapun tidak lagi berkesempatan untuk mengajar.
b. Membuka kursus-kurus
Sebelum melahirkan Pendis Natsir pernah mengajar di MULO dengan tanpa gaji. Motivasinya ketika itu hanyalah ingin mengajarkan agama Islam. Dikediamannya ia juga membuka kursus-kursus belajar yang kemudian terus-menerus berkembang.
c. Mendirikan Pendis
Begitu selesai AMS dengan nilai memuaskan, Natsir tidak mengambil semua tawaran bekerja dan sekolah oleh Belanda. Ia lebih memilih untuk terus belajar kepada A. Hassan dan kemudian mendirikan Pendis (Pendidikan Islam). Pendis adalah sebuah sekolah partikelir dengan sistem pendidikan integral dari tingkat dasar hingga MULO. Apa yang dilakukan Natsir dengan Pendis ini menjadi penting karena beberapa hal. Pertama, secara konsisten Natsir menerapkan visi pendidikiannya dalam kurikulum pengajaran dalam bentuk yang integral. Natsir menempatkan pelajaran-pelajaran dasar agama sejajar dengan pelajaran-pelajaran lainnya. Kedua, Natsir tidak menempatkan Pendis sebagai satu-satunya model pendidikan yang harus dikembangkan. Secara konsisten Natsir juga menyokong berdirinya Pesantren Persatuan Islam pada tahun 1936 atas inisiatif A. Hassan. Natsir pula ikut merumuskan kurikulum dan menjadi pengajar di sini. Sesuai dengan visinya, pesantren yang baru berdiri itu tidak hanya mengajarkan disiplin ilmu agama secara mendalam, tapi juga memperkenalkan pengetahuan-pengetahuan umum seperti pengetahuan sosial, Bahasa Belanda, Bahasa Inggris, Ilmu Mengajar, dan sedikit ilmu-ilmu Alam. Jumlahnya tentu tidak sebanyak di Pendis karena tujuannya hanya untuk memperluas wawasan santri. Ketiga, visi dan prinsip yang dipegang Natsir ini, terus dipegang sepanjang hayatnya nanti, dalam posisi apapun. Pendis didirikan sejak 1932 dan berakhir pada 1942 karena ditutup oleh pemerintahan Jepang.
d. Menjadi Sekretaris Sekolah Tinggi Islam Jakarta (sekarang Universitas Islam Indonesia, Jogjakarta).
e. 1942-1945 Diangkat sebagai Kepala Biro Pendidikan Kotamadya Bandung (Bandung Syiakusyo)
f. Natsir memimpin kabinetnya pada tahun 1950 untuk memprakarsai kerjasama antara Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dalam penerapan kurikulum pendidikan agama. Dalam SKB tersebut ditetapkan bahwa Pendidikan umum harus mengajarkan pendidikan agama, dan pendidikan agama harus mengajarkan pendidikan umum.
g. Mendirikan Lembaga Pendidikan Dakwah Islamiyah (LPDI)
Ketika menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Da’wah, Natsir berinisiatif mendirikan sebuah lembaga sebagai tempat pengkaderan para penerusnya. Lembaga ini berbentuk lembaga pendidikan dengan nama Lembaga Pendidikan Dakwah Islamiyah atau lebih dikenal dengan sebutan LPDI. Dari rahim LPDI inilah banyak lahir kader-kader muda Mohammad Natsir. Kini para kader itu sudah banyak berkecimpung di dunia dakwah, baik di Dewan Da’wah maupun di lembaga da’wah lainnya. Dewan Dakwah pada tahun 1999 kemudian mengembangkan kampus LPDI dari program diploma ke strata satu dengan sebuah perguruan tinggi baru dengan nama Universitas Islam Mohammad Natsir. Namun karena kondisi yang hingga kini masih belum memungkinkan, maka universitas tersebut berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir.
h. Ikut mendirikan sembilan Universitas di Indonesia.
Mohammad Natsir tercatat ikut mendirikan sembilan universitas di berbagai kota di Indonesia. Diantaranya adalah UIKA Bogor, UISU Medan, UNISBA Bandung, UMI Makassar, UNISSULA Semarang, UII Yogyakarta, UIR Riau dan Universitas al-Azhar Indonesia Jakarta .
i. Ketua Badan Penasehat Yaysasan Pesantren Pertanian Darul Falah Bogor. Dan pada tahun 1984 masuk sebagai Ketua Badan Penasehat Yasayan Pondok Pesantren Indonesia.
i. Anggota Dewan Kurator sejumlah Universitas Internasional.
Karena ketokohannya di tingkat Internasional, Natsir juga mendapatkan kehormatan untuk menjadi anggota Dewan Kurator di tiga universitas Internasional, yaitu: International Islamic University Malaysia (IIUM), International Islamic University Islamabad (IIUI) Pakistan (1957), dan The Oxford Centre of Islamic Studies (1987), London.
Besarnya peran Natsir dalam dunia pendidikan sebagaimana diterangkan diatas adalah bukti bahwa ia benar-benar menjadikan persoalan ini sebagai suatu hal yang asasi. Bahkan sebagaimana yang ditulis oleh Soebadio Sastrosatomo bahwa M. Natsir selaku pribadi, muslim, dan pemimpin bangsa, sangat besar minat dan perhatiannya kepada dua aspek; Pendidikan dan Da’wah.
2.1.4 Sekilas Kiprah Natsir dalam Perjuangan Politik
Ketika tahun 1928-1932 Natsir sudah aktif di JIB cabang Bandung dan menjadi ketua. Kemudia pada tahun 1937 ia diangkat menjadi wakil ketua organiasai Persis (Persatuan Islam). Pada tahun 1938 ia kemudian diamanahi untuk menjadi Ketua Partai Islam Indonesia (PII) cabang Bandung. Kemudian pada tahun 1940-1942 ia juga masuk kedalam Anggota Dewan Rakyat (Volksraad) Kabupaten Bandung. Tahun 1945-1946 Natsir masuk dalam anggota Badan Perkerja KNIP. Karir Natsir terus naik dan sempat menjadi anak kesayangan Soekarno. Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Penerangan R1 untuk tiga kabinet sejak 1946-1949.
Setelah tidak setuju dengan Konfrensi Meja Bundar (KMB) yang menghasilkan RIS (Repuplik Indonesia Serikat), Natsir menggagas ”Mosi Integral” dalam sidang parlemen RIS (3 April 1950) dan melobi negara-negara serikat untuk kembali kepangkuan NKRI. Usha ini meski cukup panjang, namun akhirnya tercapai. Pada tahun 1949-1958 Natsir memimpin Partai Masyumi. Setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan, Natsir diangkat menjadi Perdana Mentri pertamanya (1950-1958). Tahun 1950-1958 ia juga tercatat sebagai anggota parlemen RI Fraksi Masyumi. Tahun 1956-1961 Natsir masuk sebagai anggota konstituante RI.
Karena Soekarno mulai bermesraan dengan komunis dan menimbulkan gejolak diberbagai sektor pemerintahan, M. Natsir meninggalkan jakarta ke Bukit Tinggi bersama Syafrudin Prawiranegara mendirikan pemerintahan PRRI/Permesta sebagai penyelamat idiologi negara (1958-1961). Setelah PRRI dibekukan oleh Pemerintahan RI maka Natsir beserta rekan-rekannya dibui dua tahun lamanya (1962-1964). Kemudian tahun 1964-1966 karena masih dianggap berbahaya, ia kembali menjalani masa tahanan RTM (Rumah Tahanan Militer) di Jakarta. Setelah keluar pada bulan Juli, Natsir mendirikan DDII (Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia), tepatnya pada bulan Februari 1967 bersama dengan para senior Masyumi dan para tokoh-tokoh lainnya. Dewan Da’wah kemudian menjadi kendaraan Natir karena dilarang untuk berpolitik praktis. Beliau menjadi ketua Umum sejak 1967 – 1993. Pada 5 Mei 1980 Natsir turut serta dalam penandatanganan Petisi 50 yang berakibat pencekalan selama orde baru. Kemudian Bersama KH. Masykur pada tahun 1989 mendirikan FUI (Forum Ukhuwah Islamiyah)

2.1.5 Kiprah Natsir di Luar Negeri
a. Pada tahun 1952, sebagai pimpinan Masyumi, Natsir mengunjungi beberapa negara Timur Tengah. Setelah meletakkan jabatan sebagai PM (Perdana Menteri) RI
b. Memimpin sidang Muktamar Alam Islam di Damaskus Syiria (1956)
c. Menggerakkan solidaritas masyarakat Indonesia untuk membantu perjuangan kemerdekaan Afrika Utara (1956)
d. Melakukan kunjungan ke negara-negara Timur tengah atas undangan Raja Saudi Arabia, Yordania, dan Kwait (1967)
e. Sebagai presiden pada Kongres Dunia Islam yang bermarkas di Karachi Pakistan (1967)
f. Masuk kedalam Majelis Ta’sisi Rabithah Alam Islami berpusat di Makkah (1969)
g. Anggota Dewan Masjid Sedunia berpusat di Makkah (1976), bersama dengan syaikh Harakan dan Syeikh Abdullah Ibnu Baz
h. Menjadi ketua Tim Penyelesaian masalah muslim Moro Filiphina Selatan (1978)
i. Anggota Pendiri International Islamic Cahitable Organization (1986) Kwait

III. Mengelaborasi Pemikiran Natsir tentang Pendidikan dan Ilmu
Ketokohan M. Natsir bila dilihat dari sudut manasaja tidak dapat dilepaskan dari jatidirinya sebagai penghusung gerakan Islam modernis dan tajdid. Modernitas Islam dan tajdid yang difahami Natsir bukanlah berangkat dari kacamata Barat yang mengusung modernitas dan pembaruan ‘ala ma’na sekuler dan liberal. Tapi sebagaimana yang dikatakan Natsir, modernitas itu bermakna kembali kepada Islam yang murni. Natsir mengatakan; ”Bagi saya modernisasi dalam Islam justeru kembali kepada yang pokok atau keaslian. Jadi, modern yang saya maksud adalah kembali kepada esensialitas Islam,” tegasnya. Sementara makna tajdid menurut Natsir adalah; ”Mengintrodusir kembali apa yang dahulu peranah ada tetapi ditinggalkan. Yaitu membersihkan kembali Islam dari apa yang telah ditutupi oleh noda-noda.” Prinsip inilah yang kemudian mendasari aktifitas Natsir, baik didunia pendidikan, da’wah, politik dan sebagainya.
3.1 Pandangan Natsir tentang Ilmu
Islam tidak mengenal pemisahan antara ilmu pengetahuan dan agama. Kondisi ini jelas berbeda dari apa yang pernah terjadi di Barat (Kristen), dimana ilmu pengetahuan pernah menjadi musuh besar agama. Kasus Galileo Galilei menjadi sejarah yang dijadikan tamsil oleh Natsir. Bagi Natsir, umat Islam harus bersyukur karena telah mendapat kehormatan dari Allah untuk maju dan berkembang pesat serta tampil sebagai contoh sekaligus sumber kemajuan peradaban untuk dunia. Bagi Natsir, masa-masa kejayaan itu tidak lain disebabkan oleh ajaran Islam sendiri yang memerintahkan prinsip-prinsip hidup berikut ini;
a) Akal dihormati, dimana Islam meletakkan akal pada tempat yang terhormat sebagai alat berfikir dan memeriksa (QS. Ali ’Imran: 191).
b) Islam mewajibkan kepada umatnya untuk menuntut ilmu (QS. Al Mujadalah: 11)
c) Islam melarang umatnya untuk bersikap taklid buta (QS. Al Isra’: 36)
d) Islam menyuruh pemeluknya untuk bersikap inisiatif (membuat penemuan baru) dalam hal keduniaan bagi mashalat masyarakat. (Al Hadits)
e) Islam menyuruh pemeluknya mencari keridhoan Allah melalui semua ni’mat yang ditermianya dan diperintahkan untuk dipergunakan haknya dalam urusan dunia diatas landasan agama. (QS. Al Qassash: 77)
f) Islam memerintahkan pemeluknya untuk pergi meninggalkan kampung halaman guna pertukaran silaturahim, pengetahuan, pemandangan, dan perasaan (QS. Al Hajj: 46)
Dalam sebuah pidato yang mempembicaraan tentang ”Agama dan Moral”, Natsir menyinggung secara panjang lebar tentang ilmu, dan fungsinya.
Fungsi ilmu tidak lain adalah sebagai pembeda antara al haq dan al bathil. Hal itu didasarkan oleh Natsir kepada salah satu unsur risalah Muhammad yaitu pembeda antara yang haq dan yang bathil. Natsir mengatakan; ”Salah satu alat untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil adalah ilmu. Oleh sebab itulah maka Rasulullah menyuruh kepada ummatnya untuk mencari ilmu, memmupuk ilmu. Dengan ilmu dapat dipisahkan antara yang hak dan yang bathil dan atara yang baik dan yang buruk.”
Akan tetapi, permasalahan lain kemudian muncul. Dengan ilmu yang dimiliki seseorang, baik ia muslim ataupun kafir, tidak bisa serta merta menyelamatkannya dari penyelewengan yang berakhir kepada kerusakan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh ilmu tersebut telah terjadi dibelahan negara-negara maju semisal Amerika Serikat, kata Natsir. Oleh sebab itu, maka yang akan menyelamatakan itu semua sesungguhnya adalah apa yang disebut Natsir dengan; akhlak atau moral. Namun timbul kembali permasalahan; moral manakah yang dapat kita pegang ?. Sebab sejak dahulu masalah moral sudah dibincangkan oleh para ahli falsafah semisal Machiavelli, sementara yang timbul adalah; masalah moral menjadi relatif tergantung siapa yang memandang, tergantung pula pada keadaan dan tempatnya.
Untuk menyelesaikan permasalahan diatas, maka dengan tegas Natsir menyebutkan bahwa diperlukan patokan yang jelas, dan garis yang tegas, yang akan memandu moral untuk mendorong seseorang mengawal ilmunya. Patokan itu adalah; wahyu Ilahi (QS. Al Furqon: 33-34). Melalui ayat ini Natsir menjelaskan bahwa hawa nafsu manusia bisa saja mengalahkan kebenaran yang telah ia terima. Oleh karenanya, bimbingan Ilahi menjadi satu-satunya kekuatan untuk menundukkan nafsu tersebut. Natsir kemudian menyimpulkan dalam kalimat yang lebih umum bahwa patokan itu tidak lain adalah agama. ”Ilmu bisa dijadikan pokrol untuk mengatakan yang buruk itu baik. Maka agama diperlukan utnuk mengawal ilmu itu, supaya dia jangan dijadikan pembela untuk mempertahankan hal-hal yang buruk dan merusak,” demikian menurut Natsir.
Dari penjelasan diatas, Natsir jelas sekali menghindari ilmu pengetahuan dari masuknya faham relativisme. Adapun yang diinginkan Natsir adalah, ilmu harus memiliki landasan berpijak yang dapat memberikan pedoman bagi ilmuan untuk tidak terjerumus pada penggunaan kearah yang merusak, serta penafsiran akal kepada keinginan nafsu manusia secara sefihak, dan itu ada pada agama.
3.2 Ma’na dan Urgensi Pendidikan Menurut Natsir
“Islam adalah agama pendidikan dan pencerdasan ummat.” Demikian pandangan Natsir. Pandangan ini terlihat dari tulisan Natsir ketika membantah buku yang ditulis Dr. I.J. Brugmans yang berjudul Geschiedenis van het Onderwijs in Ned Indie (Sejarah Pendidikan di Hindia Belanda) yang mengatakan bahwa Islam adalah agama penaklukan yang disebarkan dengan pedang . Untuk menangkis kesimpulan itu, Natsir membuat tulisan dengan judul “Hakikat Agama Islam: Tangkisan atas Kritik Tajam daro Dr. I.J Brugmans” dan dimuat dalam majalah Panji Islam bulan Oktober 1938. Dalam tulisan ini Natsir menjelaskan secara panjang lebar bahwa Islam tidak dapat dikatakan sebagai agama yang tersebar dengan pedang lantaran ia memiliki syari’at tentang jihad. Islam harus dilihat secara konfrehensif dimana ia juga merupakan agama yang mengajarkan tentang pendidikan dan hal-hal yang berkaitan dengannya secara kuat.
Di dalam buku Capita Selecta 1, pikiran-pikiran Natsir tentang pendidikan sebagian besar terkumpul disana. Didalamnya tersebutlah tentang ma’na pendidikan. Ma’na pendidikan itu dijelaskan oleh Natsir dengan bahasa sederhana namun memukau; “Yang dinamakan didikan ialah suatu pimpinan jasmani dan rohani yang menuju kepada kesempurnaan dan lengkapnya sifat-sifat kemanusiaan dengan arti yang sesungguhnya. Pimpinan semacam ini sekurangnya antara lain perlu kepada dua perkara: a. Satu tujuan yang tertentu tempat mengarahkan didikan. b. Satu asas tempat mendasarkannya” . Disini terlihat jelas bahwasanya Natsir melihat pendidikan sebagai usaha untuk mengisi nilai-nilai positif baik bagi jasmani maupun rohani yang menuju kepada terwujudnya manusia yang ideal (insan kamil) dengan kesempurnaan sifat-sifatnya.
Natsir memahami bahwa pendidikan adalah modal utama untuk bangkit dan berubah kearah yang lebih baik. Dengan demikian pendidikan adalah sesuatu yang sangat-sangat urgen. Dalam salah satu tulisannya Natsir menegaskan; “Masalah pendidikan ini adalah masalah masyarakat, masalah kemajuan yang sangat penting sekali, lebih penting dari masalah yang lainnya” . Urgensi pendidikan tersebut akan semakin jelas terlihat ketika Natsir mengaitkannya dengan kemunduran dan kemajuan suatu bangsa. Hal itu sebagaimana yang diungkapkannya; “Maju atau mundurnya salah satu kaum, bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada satu bangsa yang terbelakang menjadi maju, melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka .” Sebuah contoh yang kemudian disebutkan Natsir saat itu adalah perbandingan antara Negara Jepang dengan Negara Spanyol. Lebih jelasnya Natsir mengatakan; “Bangsa Jepang, satu bangsa di Timur yang sekarang jadi buah mulut orang seluruh dunia lantaran majunya, masih akan tinggal terus dalam kegelapan sekiranya mereka tidak mengatur pendidikan bangsa mereka … (sementara) Spanyol, satu negeri di benua Barat, yang selama ini masuk golongan bangsa kelas satu, jatuh merosot ke kelas bawah, sesudah enak dalam kesenangan mereka dan tidak mempedulikan pendidikan pemuda-pemuda yang akan mengganti pujangga-pujangga bangsa di hari kelak” .
Urgensi pendidikan juga didasarkan pada analisa Natsir bahwa Islam memerlukan sekelompok orang yang memang menerjunkan dirinya secara serius dibidang tersebut. Kelompok tersebut disebutkan dalam al Qur’an sebagai ummat yang bertafaqquh fid din berdasarkan firman Allah dalam surah At Taubah (ayat: 122). Umat inilah yang nantinya akan kembali kepada kaumnya untuk mengadakan pengajaran dan memberi peringatan dengan ilmunya. Natsir mengatakan ”Ummat Islam harus mempunyai satu golongan, satu corps, memusatkan perhatian dan kegiatannya kepada menggali kebenaran-kebenaran yang tersimpan didalam ajaran agama Islam dan memperlengkapi tubuh umat Islam dengannya.”
Semasa hidupnya, Natsir melihat sebuah kenyataan dimana belanda tidak hanya tampil menjajah secara fisik, akan tetapi juga pemikiran. Ketika Belanda berupaya menggiring pola fikir anak bangsa agar berkiblat ke Den Haag Natsir tampil mengkritik kebijakan itu. Natsir mengatakan;
“Salah satu usaha pemerintah kolonial Belanda yang juga merupakan tantangan adalah apa yang dikenal sebagai asimilasi atau se-Indonesianisasi, yaitu upaya untuk mengajak segolongan elit Indonesia agar merasa dan menganggap sebagai orang Belanda yang sama-sama berkiblat ke Den Haag, … Murid-murid sekolah yang otaknya brilian dititipkan kepada keluarga belanda atau keluarga yang beragama Kristen. Salah satu korbannya adalah Amir Syarifuddin yang lahir sebagai anak Islam, namun kemudian menjadi seorang Kristen Protestan.”

Dari fenomena di atas maka pendidikan tidak hanya dipandang perlu untuk menyelamatkan Negara, tetapi juga penting untuk menyelamatkan aqidah.
3.3 Tujuan dan Landasan Pendidikan
Sebagaimana disebutkan dalam definisi pendidikan menurut Natsir, maka persoalam Tujuan dan Landasan Pendidikan adalah mutlak ditentukan.
3.3.1 Tujuan Pendidikan
Nampak sangat jelas bahwa Natsir tidak membedakan antara tujuan pendidikan dan tujuan diciptakannya manusia. Bahkan menurutnya, tujuan pendidikan itu harus sesuai dengan tujuan hidup manusia. Dalam pidatonya pada rapat Persatuan Islam di Bogor Natsir mengatakan:
”Apakah tujuan yang akan dituju oleh didikan kita? Sebenarnya tidak pula dapat dijawab sebelum menjawab pertanyaan yang lebih tinggi lagi, yaitu ”Apakah tujuan hidup kita di dunia ini?”. kedua pertanyaan ini tidak dapat dipisahkan, keduanya sama (identik). ”Tujuan didikan ialah tujuan hidup”. Qur`anul Karim menjawab pertanyaan ini begini: Dan Aku (Allah) tidak jadikan jin dan manusia, melainkan untuk menyembah Aku (QS. Adz-Dzariat: 56). ”

Jadi menurut Natsir, tujuan pendidikan adalah sama dengan tujuan hidup ya’ni menjadi hamba Allah. Mengenai hamba Allah ini Natsir menjelaskan: ”Menyembah Allah itu melengkapi semua ketaatan dan ketundukan kepada semua perintah Ilahi, yang membawa kepada kebesaran dunia dan kemenangan akhirat, serta menjauhkan diri dari segala larangan-larangan yang meghalang-halangi tercapainya kemenangan dunia dan akhirat itu” . Sesungguhnya apa yang disebutkan Natsir tentang ketundukan dan ketaatan ini merupakan dimensi terpenting dari keislaman seseorang. Dimana inti dari syari’at ini adalah tunduk terhadap perintah dan larangan. Bahkan hal itu sangat terlihat jelas kaitannya dengan penjelasan tentang ma’na Islam sebagaimana yang disebutkan Natsir berikut ini; ”Islam artinya damai, juga berarti menyerahkan diri dalam hal ini, yaitu menyerahkan diri, jiwa dan raga seluruhnya kepada Ilahi. Seorang muslim ialah seorang yang mematuhi dengan sesungguhnya akan segala suruhan Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya, baik yang berkenaan dengan kewajiban terhadap-Nya atau terhadap sesama manusia.” .
Bagi Natsir, istilah hamba Allah yang haqiqi tidaklah mudah disandangkan begitu saja kepada setiap insan. Sebab baginya, menjadi hamba Allah itu mesti memiliki prasarat utama yaitu; memiliki ilmu serta tidak mengasingkan diri untuk kepentingan rohani pribadi sendiri saja. Sebab dengan mengasingkan diri ia justeru akan jauh dari pencarian dan pengamalan ilmu itu sendiri. Natsir melandaskan pendapatnya pada firman Allah surah Al Fathir yang artinya;
”Bahwa yang sebenar-benarnya takut kepada Allah itu, ialah hamba-hamba-Nya yang mempunyai ilmu, sesungguhnya Allah itu Berkuasa lagi Pengampun.” (QS. Al Fathir: 28).
Pada kesempatan yang lain, Natsir juga menyebutkan bahwa tujuan pendidikan yang diinginkan al Qur’an adalah usaha untuk membentuk pribadi-pribadi yang tidak lalai dengan perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah. Artinya, ketaatan kepada Allah benar-benar mampu mengalahkan segala bentuk kelalaian yang menjauhkan ia dari Allah. Natsir menyebutkan bahwa pribadi-pribadi yang tidak lalai tersebut melakukan itu semua dalam rangka bersyukur atas ni’mat yang dikaruniakan kepada Allah. Hal itu ia dasarkan pada firman Allah surah An Nur (ayat: 37) yang sesungguhnya memiliki inti dan ma’na yang sudah disebutkan Natsir di atas sebagai seorang ”hamba Allah”.
3.3.2 Landasan Pendidikan
Mohammad Natsir memandang bahwa yang harus menjadi landasan dalam pendidikan adalah tauhid. Ini misalnya terlihat pada pidato Natsir dalam rapat Persatuan Islam di Bogor pada tanggal 17 Juni 1934 dengan judul ”Ideologi Didikan Islam”. Juga terlihat dalam tulisannya di Pedoman Masyarakat pada tahun 1937 dengan judul ”Tauhid Sebagai Dasar Didikan”. Menurut Mochtar Naim, dalam dua tulisan tersebut dengan gamblang Natsir menggariskan bahwa ideologi pendidikan ummat Islam harus bertitik-tolak dari dan berorientasi kepada Tauhid . Keyakinan untuk bertauhid dengan segala konsekwensinya merupakan pokok dari aqidah, sementara aqiedah itu sendiri menurut Natsir memiliki fungsi pokok yaitu; sumber motivasi, sumber inspirasi, sumber kekuatan, titik tolak dalam berbuat, dan pegangan hidup yang akan dibawa mati.”
Sebuah kasus menarik yang bertalian antara aqidah dan pendidikan pernah terjadi. Ketika berlangsung zaman orde baru, pemerintah pernah mengeluarkan buku pedoman moral berlandaskan semangat Pancasila PMP sebagai buku wajib di sekolah-sekolah. Buku tersebut dilahirkan sebagai upaya penanaman dasar-dasar nilai toleransi antar sesama versi pemerintah. Maka Pada tanggal 23 Agustus 1982, Natsir bersama sekitar 53 orang pemimpin dan tokoh masyarakat mendatangi DPR untuk menuntut ditariknya buku tersebut dari peredaran karena dinilai menyesatkan aqidah Islam. Mereka menyampaikan kepada DPR/MPR untuk meninjau secara menyeluruh dan mendasar buku tersebut. Sebagai contoh, pada halaman 14 buku tersebut menyebutkan;” Semua agama di Indonesia adalah baik dan suci tujuannya.” Jelas hal tersebut sangat berbau pluralisme dan bertentangan dengan ka’idah ubudiyah dalam Islam. Prof. Dr. Abuddin Nata menganalisa bahwa sikap Natsir diatas sesunggunya memiliki keterkaitan dengan konsep Tauhid sebagai dasar pendidikan sebagaimana yang diyakininya.
Menurut Natsir, sesungguhnya Risalah tauhid sebagai risalah awal yang diturunkan kepada manusia ini mengandung nilai kemerdekaan jiwa. Kemerdekaan jiwa yang dimaksud adalah jiwa yang tidak merasa takut kepada sesuatu yang tidak pantas untuk ditakuti. Kebebasan dari penyembahan terhadap mahluk yang merupakan penghinaan dan pelanggaran martabat manusia. Disini mengandung makna bahwa kebebasan itu terikat dengan nilai-nilai pengabdian kepada Allah semata.
Bagi Natsir, tauhid harus dijadikan landasan pendidikan sekaligus orientasi pendidikan tersebut. Mereka yang kehilangan orientasi ini dan berada pada pihak anti agama akan mengalami kekacauan dilubuk hatinya. Prof. Ehrenfest adalah contoh yang diberikan Natsir. Prof. Ehrenfest adalah ilmuan yang sangat memuja perkembangan sains dan tehnologi dan tampil sebagai pakar brilian. Namun riwayat tragis menimpa dirinya berikut anaknya. Ia bunuh anaknya, baru kemudian ia bunuh dirinya sendiri. Peristiwa ini oleh Natsir disebutkan sebagai contoh pendidikan yang kehilangan dasar (tauhid). ”Ia putar balikkan antara alat dan tujuan,” Kata Natsir
3.3.3 Karakter Pendidikan Islam
Yang dimaksud dengan karekter pendidikan Islam disini adalah ciri-ciri khusus atau khas yang terdapat didalam pendidikan tersebut. Kekhasan tersebut menurut Natsir ada pada beberapa hal berikut ini;
1. Universal. Pendidikan dengan sifat seperti ini diuraikan Natsir dalam bentuk penerimaan sumber datangnya ilmu antara Timur dan Barat. Sejak terlibat dalam dunia pendidikan Natsir berusaha meluruskan pemahanan umat Islam ketika itu yang sering mengantagoniskan antara dunia Timur dan Barat. Natsir memahami bahwa hal itu merupakan reaksi terhadap sketsa pendidikan Barat dimasa itu yang begitu pro terhadap kolonilisme, dan budaya Barat. Justeru bagi Natsir sesungguhnya Barat dan Timur adalah sama, dimana kedua-duanya makhluk Allah yang bersifat baru (huduts). Pendapatnya ini didasarkan kepada karakter Islam yang tidak mengantagoniskan antara Barat dan Timur. Bagi Natsir, Islam hanya mengantagoniskan antara hak dan bathil. Sehingga apa yang datang dari Timur jika itu bathil maka harus disingkirkan dan apa yang datang dari Barat jika itu hak maka harus diterima. Data-data berikut ini merupakan dasar kesimpulan diatas.
a) Natsir mengatakan; ”Bahwa kemunduran dan kemajuan itu tidaklah tergantung pada ketimuran dan kebaratan, dan tidak tergantung pada putih kuning, atau hitamnya warna kulit, tetapi bergantung pada ada atau tiadanya sifat-sifat atau bibit-bibit kesanggupan dalam … menduduki tempat yang mulia diatas dunia ini. ”
b) ”Ada yang menganggap bahwa didikan Islam itu ialah didikan Timur, dan didikan Barat itu ialah lawan dari didikan Islam. Boleh jadi, ini reaksi terhadap didikan ”kebaratan” yang ada dinegeri kita yang memang sebagian dari akibat-akibatnya tidak mungkin kita menyetujuinya sebagai umat Islam.”
c) ”Seorang pendidik Islam tidak usah memperdalam-dalam dan memperbesar-besarkan antagonisme (pertentangan) antara Barat dan Timur itu. Islam hanya mengenal antagonisme antara hak dan batil.”
2. Integral. Artinya pendidikan itu tidak mengenal pemisahan antara jasmani dan ruhani, serta dunia dan akhirat. Sehingga pendidikan Islam itu mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan dalam menghambakan diri kepada Allah dan dalam rangka membina hari esok yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat. Mengenai sifat pendidikan yang integral ini Natsir mengacu kepada firman Allah dalam surat al-Baqarah: 143. Berdasarkan ayat ini, Natsir memahami bahwasanya pendidikan itu mesti memiliki nilai-nilai keseimbangan. Natsir menjelaskan; ”jasmani dan rohani, dunia dan akhirat, bukanlah dua barang yang bertentangan yang harus dipisahkan, melainkan dua hal serangkai yang harus lengkap-melengkapi dan dilebur menjadi satu susunan yang harmonis dan seimbang.”
Pada tulisan lainnya di Panji Masyarakat tahun 1972 Natsir membagi bentuk keseimbangan itu kedalam tiga hal; 1) keseimbangan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi, 2) keseimbangan antara badan dan roh, dan 3) keseimbangan antara individu dan masyarakat. Sifat keseimbangan ini sejatinya adalah upaya Natsir dalam menolak ide-ide sekularisme yang berupaya memisahkan masing-masing unsur diatas. Tercapainya kebahagian dunia dan akhirat dalam kerangka pengabdian kepada Allah inilah yang sejatinya menjadi fasafah pendidikan Natsir.
Kedua sifat pendidikan ini direlisasikan Natsir melalui lembaga pendidikan yang didirikannya dimana-mana.
Mohammad Nasir sebagimaan juga kita, dihadapkan pada permasalahan dikotomi ilmu, antara ilmu umum dan ilmu agama. Menghadapi hal ini Natsir mencoba menjembataninya dengan mengisi kekurangan yang satu dengan kelebihan yang lain. Jadi sistem pendidikan yang bersifat universal, integral dan harmonis ini tidak lagi mengenal dikotomi antara pendidikan umum dan agama. Semua dasarnya adalah agama, apapun bidang dan disiplin ilmu yang dimasuki.
Pikiran Natsir diatas muncul setelah ia melihat kenyataan di lapangan pada masanya, bahwa praktik pendidikan yang dihadapi ummat, satu sama lain saling menegasikan dan bersebrangan. Di satu sisi, pendidikan klasikal ala Belanda yang baru diperkenalkan kepada masyarakat muslim Indonesia pada akhir abad 19 dan awal abad 20, terutama melalui kebijakan Politik Etis Belanda, sama sekali tidak mengajarkan dan menyentuh aspek-aspek agama. Sekularisme begitu jelas membayang-bayangi sistem pendidikan baru ini. Sementara di sisi lain, pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua dan asli Indonesia bersikap antipati terhadap semua yang berbau Belanda. Sikap ini mudah untuk difahami, mengingat sepanjang abad 19, pihak Pesantren dengan penuh semangat jihad fi sabilillah mengerakan berbagai elemen ummat dan masyarakat untuk berperang melawan penjajah Belanda. Oleh sebab itu apapun yang berbau Belanda dianggap buruk, termasuk sistem pendidikan yang ditawarkannya. Adapun kelebihan Natsir dalam menghadapi keadaan seperti itu adalah bahwa ia mengenal dengan baik kedua sisi praktik pendidikan yang dihadapi ummat saat itu, bahkan ia juga terlibat secara langsung.
3.3.4 Peran Pendidik
”Memang, kalau uang yang hendak dicari, bukan dimuka kelas tempatnya”. (Tulisan M. Natsir, dari Panji Islam dan Pedoman Masyarakat, 1938). Dalam biografi sebelumnya telah disebutkan sejumlah peran Natsir di dunia pendidikan baik sebagai guru maupun pembangun lembaga pendidikan. Sedangkan dibawah ini adalah beberapa uraian pemikirannya.
Mohammad Natsir sangat memperhatikan masalah dan peran pendidik (guru). Bahkan untuk menyoroti para aktifis pendidikan yang berupaya mempertahankan eksistensinya, ia menyebut meraka sebagai para mujahidin. Peran guru dalam pandangan Natsir tidak hanya bagi mereka yang berada pada komunitas lembaga pendidikan formal. Justeru orang tua disebutkan oleh Natsir sebagai pihak yang paling penting memerankan diri sebagai guru. Orang tua dalam hal ini memiliki hukum fardu ’ain untuk mendidik buah hatinya sebelum masyarakat lainnya. Menurut Natsir anak-anak adalah amanah yang diberikan Allah Ta’ala kepada orang tua, sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah dalam salah satu haditsnya bahwa setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Dan orangtuanyalah yang menentukan akan menjadi apa anaknya itu kelak, Yahudikah, Nasranikah atau Majusikah. Kemudian Natsir menjelasakan bahwa kewajiban mendidik anak bukan hanya kewajiban yang sifatnya fardu ’ain bagi setiap orang tua, tapi juga fardu kifayah bagi segolongan dari ummat Islam ini. Natsir mendasarinya dengan nash al Qur’an surah Ali ’Imron (ayat: 104).
Pada tahun 1938 Natsir menulis artikel di dalam majalah Panji Islam dengan judul ”Perguruan Kita Kekurangan Guru.” Tulisan Natsir ini mencerminkan kondisi sekolah-sekolah partikelir yang jumlahnya semakin berkembang, namun sangat minim tenaga pengajar. Kondisi itu semakin diperparah ketika pemerintah kolonial tidak memperhaitikan kedudukan mereka, yang sesungguhnya sedikit-banyak membantu pemerintah itu sendiri.
Tulisan Natsir dimajalah tersebut pertamakali diawali dengan kritikan terhadap seorang guru yang berpindah profesi kepada pekerjaan lain dan berhenti dari dunia pengajaran hanya karena alasan duniawi. Padahal Natir memandang bahwa kebutuhan akan kehadiran guru di negeri ini belumlah mencukupi. Dari permintaan sekolah-sekolah yang meminta guru pengajar hanya 20 % saja yang sanggup didatangkan, itupun dengan susah payah, dan dengan imbalan sekedarnya. Lulusan-lulusan sekolah pemerintahan Belanda ketika itu banyak yang hanya menjadikan identitas guru sebagai batu loncatan menunggu dibukanya pekerjaan di instansai-instansi pemerintahan dengan gaji yang lebih besar tentunya. Lalu Natsir mempertanyakan; ”Bagaimana kita akan membangun perekonomian dan pergerakan politik dalam kalangan bangsa kita yang bermiliunan itu, apabila mereka masih belum saja 5 % yang pandai tulis baca.” kemudian Natsir mengutip perkataan mendiang Dr. G.J Nieuwenhuis sekembalinya mengadakan penelitian di Philipina; ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada diantara bangsa itu segolongan guru yang suka berkurban untuk keperluan bangsanya.”

DAFTAR PUSATAKA
1. Natsir, M, Capita Selecta 1, Bulan Bintang, Jakarta: 1973
2. Natsir. M, Capita Selecta 2, Jakarta: PT. Abadi, 2008
3. Natsir, M, Politik Melalui Jalur Da’wah, Jakarta: Media Da’wah, 2008
4. M. Natsir, Kebudayaan Islam dalam Prespektif Sejarah, Jakarta: PT Girimukti Pasaka, 1988
5. Natsir, M, Ummat Islam di Persimpangan Jalan, Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, 1968
6. Natsir, M, Agama dan Moral, Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, 1972
7. Natsir, M, Pendidikan, Pengorbanan, Kepemimpinan, Primordialisme dan Nostalgia, Jakarta: Media Dakwah, 1987
8. Natsir, M, Marilah Shalat, Jakarta; Media Da’wah, 2006
9. Natsir, M, Asas Keyakinan Agama Kami, Jakarta: Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, 1982
10. Natsir, M, Fiqhud Da’wah, Jakarta: Media Da’wah, 2000
11. Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam 3, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000
12. Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam 4, Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 2000
13. Anton, Raja Juli (Ed.), Aba: M. Natsir Sebagai Cahaya Keluarga, Jakarta: PT. Abadi, 2008
14. Haryono, Anwar, dkk, Pemikiran dan Perjuangan Mohammad Natsir, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001
15. Haryono, Anwar dkk, M. Natsir, Sumbangan dan Pemikirannya untuk Indonesia, Jakarta: Media Da’wah, 1995
16. Rosyidi, Ajip, Mohammad Natsir: Sebuah Biografi, Jakrta: Giri Mukti Pasaka, 1990
17. Hamka, Ayahku, Jakarta: Umminda, 1982
18. Nata, Abuddin, Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005
19. Chaplin, J.P. Kamus Psikologi, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005
20. Abdullah, Yusuf Puar dkk, Muhammad Natsir 70Ttahun Kenang-kenangan Kehidupan dan Perjuangan, Jakarta: Pustaka Antara, 1978
21. Suhelmi, Ahmad, Soekarno Versus Natsir, Jakarta: Darul Falah, 1999
22. Syam, Firdaus, Yusril Ihza Mahendra; Perjalanan Hidup, Pemikiran dan Tindakan Politiknya, Jakarta, PT. Dyatama Milenia, 2004
23. Mohammad, Henry dkk, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, 2006
24. Federsipel, Howard M., Persatuan Islam; Pembaharuan Islam Abad XX, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1996
25. Wildan, Dadan, Yang Da’i yang Politikus; Hayat dan Perjuagnan Lima Tokoh Persis, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1997
26. Djaja, Tamar, Riwayat Hidup A. Hasan, Jakarta: Penerbit Mutiara, 1980
27. A, Windi, 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia, Jakarta: PT. Buku Kita, 2007
28. Buletin Konsisten, Litbang STID Mohammad Natsir
29. Majalah Al-Mujtama’; Edisi 3 Th I/14 Rajab 1429/17 Juli 2008
30. Panitia Refleksi Seabad Pak Natsir, Mosi Integral Natsir; Dari RIS ke NKRI, Jakarta: Media Da’wah, 2008
31. Kahin, George Mc Turnan dan Lukman Hakiem, PRRI: Pergolakan Daerah Atau Pemberontakan ?, Jakarta: Media Dakwah, 2008.
32. Mas’oed Abidin, Tausyiah Dr. Mohammad Natsir; Pesan Dakwah Pemandu Umat, Padang: Tp, 2000
33. Lukman Hakim, Pemimpin Pulang: Rekaman Peristiwa Wafatnya M. Natsir, Jakarta: Yayasan Piranti Ilmu, 1993
34. Pratikya, A.W dkk, Percakapan Antar Genarasi; Pesan Perjuangan Seorang Bapak, Jakaarta-Yogyakarta, DDII & LABDA, 1989
35. Mohammad, Hery dkk, Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, 2006
36. Buletin Da’wah yang diterbitkan oleh DDII masjid Al Munawarah , 27 September 1968, dengan judul; Khotbah Jumát di Masjid Tokyo,
37. Wasrun, Mohammad, Pemikiran Natsir tentang Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, “Skripsi” di Universitas Indonesia, fakultas Sastra, Tahun, 1987


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: