Oleh: hudzai | 2 Februari 2009

Konsep Tajdid dan Arus Modernisme

KONSEP TAJDID DAN MODERNISME
(Sebuah Kajian Perbangingan)

Pendahuluan
Seorang Pendeta Kristen Dr. Eddy Paimoen dalam tulisannya di internet “Modernisme vs Postmodernisme” memberikan ilustrasi tentang beratnya pengaruh modernisme yang ditimbulkan oleh Barat dalam kehidupan beragama khususnya Kristen. Menurutnya, peralihan dari era agraris menuju era industrialisasi menyebabkan perubahan sosial yang sangat cepat sehingga tidak ada seorangpun yang mampu menghambatnya. Lahirlah kehidupan masyarakat dengan tatanan yang baru hingga penekanan kepada tatanan yang teratur dengan nilai-nilai rasionalisme yang tinggi. Manusia berusaha memuaskan otaknya sebagai otoritas tertinggi. Kemudian, puncak dari era pencerahan atau modernisme adalah kejenuhan akal budi manusia. Ternyata akal budi bukanlah segala-galanya yang dapat menjadi tumpuhan harapan manusia. Akal budi bukanlah Allah yang memiliki nilai kekekalan. Akal budi hanya akan membawa manusia kepada kegilaan. Intelektualitas yang menjadi kebanggaan dan kesombongan manusia hanya bagai embun pagi yang akan sirna ketika matahari bersinar terang.
Ilustrasi diatas menggambarkan betapa pengaruh peradaban Barat menohok siapa saja yang tidak sejalan dengan mereka. Peradaban Barat memang sesungguhnya anti terhadap kemapanan sejak ia dilahirkan. Ia juga anti terhadap strukturalisme sebagai cermin terhadap kehidupan pasca modernisme yaitu postmodernisme. Selebihnya, yang mereka anut adalah kebebasan. Dr. Yusuf Qardhawi menggambarkan kebebasan yang diserukan oleh Barat sebagai kebebasan yang bersifat individual. Mereka berpendapat bahwa kebebasan individu tidak memiliki batas kecuali jika bertabrakan dengan kebebasan orang lain. Maknanya, seseorang bebas berkehendak apapun sesuka hatinya, dan bukan melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Cerminan peradaban seperti ini sesungguhnya adalah kelanjutan dari kehidupan manusia pada zaman Yunani dan Romawi kuno. Sebagaimana yang dikatakan oleh mufakkir muslim Abul Hasan Ali al Hasan an Nadawy bahwa, peradaban Barat dewasa ini adalah kelanjutan dari peradaban Yunani dan Romawi yang telah meningalkan warisan politik, pemikiran, kebudayaan serta mencerminkan kecenderungan-kecenderungannya, gejolak kejiwaan dan ciri-ciri kehususnya. An Nadawy kemudian menyebutkan cirri-ciri khas peradaban Yunani sebagai berikut: 1. Hanya mau mempercayai seseautu yang terjangkau oleh penca indera, dan menilai rendah sesuatu yang tidak terjangau oleh panca indera. 2. Meremehkan agama dan tidak mau tunduk kepadanya. 3. Sangat mendambakan kehidupan duniawi dan menaruh perhatian yang sangat berlebihan terhadap kenikmatan dan kelezatan hidup. 4. Semangat Patriotisme.

Semenjak era agraris diganti dengan era industrialisasi (renaissance) yang ditandai dengan pekembangan ilmu dan teknologi di berbagai sektor kehidupan, semenjak itu pula rasionalitas seolah-olah menjadi sesuatu yang tak tertandingi, bahkan oleh Tuhan itu sendiri. Di era inilah, modernisme tumbuh sebagai gerakan pembaharuan tidak hanya dibidang politik, sosial, ekonomi, namun juga agama. Catatand dari seorang mantan Yahudi, Maryam Jamelah menyebutkan bahwa modernimse ini lahir akibat pengalaman corak hidup sekuler orang-orang Barat, dan menjelma pada zaman renaisaance terutama melalui falsafah politik yang dipopulerkan Niccolo Machiavelli (1469-1530). Bahkan secara vulgar Maryam mengatakan; ”Modernisme adalah pemberontakan terhadap agama dan nilai rohaniah.”
Apa yang disebutkan Maryam tanpak terlihat ketika pada mulanya modernisme menyerang keyakinan Kristen. Kristen adalah agama yang menjadi sorotan tajam atas dogma-dogma yang tidak relevan dengan sains. Barat memang sangat trauma dengan model keimanan kristen yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan. ”The Dark Ages” merupakan istilah penting untuk menggambarkan zaman buruk itu (zaman pertengahan). Zaman ini dimulai sejak runtuhnya Imperium Romawi Barat pada 476 M dan mulai munculnya gereja Kristen sebagai institusi dominan sampai dengan masuknya renaissance (Abad 14).
Setelah renaissance (Abad 18 – Awal Abad 20) dan ide-ide modernisme lahir atas pola hidup sekuler, yang terjadi adalah serangan terhadap keyakinan agama. Ensiclopedi Britannica menyebutkan bahwa sejak modernisme menjamur dalam alam Barat hinnga ke tubuh Gereja, Gereja Kristen Roma pada akhir abad 19 dan awal abad ke 20 mendapat tantangan dalam arus interpretasi terhadap Bible sebagai kitab suci mereka. Bible dianggap perlu untuk diinterpretasi ulang karena tidak sesuai lagi dengan zamannya. Masalahnya, apakah kemudian permasalahan di Barat ini dapat begitu saja ditransfer dalam ruang agama umat Islam ?. Meski secara fakta pengaruh modernisme banyak menular ke dalam tubuh para cendekiawan muslim di belahan dunia, namun sesungguhnya Islam lebih siap untuk menghadapi arus itu. Masalah yang lain adalah, timbulnya kerancuan istilah. Letak kerancuannya adalah ketika modernisme diidentikkan dengan semangat dan konsep tajdîd dalam Islam, sehingga tidak sedikit orang yang terjebak dalam menggunakannya. Tidak mampu membedakan antara Syaikh Abdul Wahhab, Syaikh Ahmad Khatib, M. Natsir, dengan Nurcholis Madjid.
Tulisan ini akan mencoba memetakan konsep pembaharuan dalam Barat (modernism) dan konsep pembaharuan yang dibawa oleh Islam (tajdîd). Apakah kedua hal tersebut memiliki perbedaan dan adakah dampaknya terhadap persoalan agama serta kemaslahatan hidup manusia.

Modernisme vs Tajdid; Secara Definitif Berbeda
Kita mulai dari paham modernisme. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah modern (artinya: terbaru) diartikan sebagai; cara berfikir dan bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Sementara istilah modern sebagai suatu faham gerakan (modernisme) diartikan sebagai; gerakan yang bertujuan menafsirkan kembali doktrin tradisional, menyesuaikannya dengan aliran-aliran modern di filsafat, sejarah, dan ilmu pengetahuan.
Memang sejatinya, kata modernisme tidak hanya berarti orientasi kepada kemodernan, tetapi lebih merupakan sebuah terminology khusus. Karena pada intinya modernisasi tersebut adalah modernisasi agama, yaitu sebuah sudut pandang religius yang didasari oleh keyakinan bahwa kemajuan ilmiah dan budaya modern membawa konsekwensi reaktualitasi berbagai ajaran keagamaan tradisional mengikuti disiplin pemahaman filsafat ilmiah yang tinggi. Dengan kata lain modernisme adalah sebuah gerakan yang bergerak secara aktif untuk melumpuhkan prisip-prinsip keagamaan agara tunduk kepada nilai-nilai kemodernan Barat.
Dalam kaca mata Harun Nasution, pada bukunya “Pembaharuan dalam Islam” ia berpendapat bahwa modernisme dalam masyarakata Barat mengandung makna pikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk mengubah paham-paham, adat-istiadat, institusi-institusi lama, dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Pikiran dan aliran ini kemudian masuk kelapangan agama, dan modernisme dalam hidup keagamaan di Barat mempunyai tujuan untuk menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama katolik dan Protestan dengan ilmu pengetahuan dan falsafat modern. Jika memang modernisme bertujuan untuk menyelaraskan faham Kristen terhadap fenomena ilmu pengetahuan, maka seseungguhnya ini adalah permasalahan lokal yang tidak harus terjadi di dalam tubuh Islam. Namun karena pengaruh modernisme seiring dengan perkembangan sains yang meliputi pula negeri-negeri muslim, maka sangat dimungkinkan adanya cendekiawan muslim yang terpengaruh terhadapnya.
Melalui pengertian di atas, nampak bahwa modernisme lehir sebagai upaya untuk menggantikan faham-faham klasik dengan sesuatu yang baru dan sesuai dengan suasana hidup serba modern. Tak perduli apapun bentuk faham klasiknya, semuanya mesti menyesuaikan diri dengan kehidupan baru yang modern baik dengan cara melepaskan diri dari keyakinan lama seutuhnya menuju ke keyakinan baru atau merubah, memoles yang lama agar sesuai dengan yang modern. Intinya adalah; menjadi beo atau bunglon.
Dalam literatur kita, banyak ditemukan istilah modernisme dan tajdîd digunakan untuk sebuah kerja yang sama. Seolah-olah keduanya tidak ada perbedaannya sama sekali. Padahal, modernisme merupakan idiologi sekaligus gerakan yang lahir secara spontan terhadap kasus-kasus parsial. Hal itu jelas berbeda dengan konsep tajdîd yang lahir dari rahim Islam, sejak ia diturunkan oleh Allah Tabaraka Wata’âlâ. Secara bahasa, kata tajdîd berasal dari bahasa Arab jadda – yajiddu yang berarti memperbaharui sesuatu sebagaimana semula. Dalam bahasa Arab, sesuatu dikatakan jadîd (baru), dengan syarat bagian-bagiannya masih erat menyatu dan masih jelas. Maka upaya tajdîd seharusnya adalah upaya untuk mengembalikan keutuhan dan kemurnian Islam kembali. Atau dengan ungkapan yang lebih jelas, Thahir ibn Asyur mengatakan, “Pembaharuan agama itu mulai direalisasikan dengan mereformasi kehidupan manusia di dunia. Baik dari sisi pemikiran agamisnya dengan upaya mengembalikan pemahaman yang benar terhadap agama sebagaimana mestinya, dari sisi pengamalan agamisnya dengan mereformasi amalan-amalannya, dan juga dari sisi upaya menguatkan kekuasaan agama.”
Pandangan mengenai tajdîd di atas juga diamini oleh tokoh Integrasi Bangsa Dr. M. Natsir, dimana ia mengartikan modernisme bukan sebagai gerakan merubah apa-apa yang telah digariskan sejara jelas oleh agama. Akan tetapi, inti dari itu semua adalah purifikasi, bukan dekonstruksi. Natsir mengatakan; ”Bagi saya modernisasi dalam Islam justeru kembali kepada yang pokok atau keaslian. Jadi, modern yang saya maksud adalah kembali kepada esensialitas Islam,” tegasnya. Sementara makna tajdîd menurut Natsir adalah; ”Mengintrodusir kembali apa yang dahulu peranah ada tetapi ditinggalkan. Yaitu membersihkan kembali Islam dari apa yang telah ditutupi oleh noda-noda.” Untuk lebih mamahami ma’na modernitas yang benar, M. Natsir merekomendasikan untuk membaca karya-karya ulama besar semisal; Ibnu Taimiyah, Ibnu Rusydi dan lain-lain.
Ditinjau dari suasana tajdîd di era modern, Fazlur Rahman menyebutkan modernisasi adalah usaha (dari tokoh-tokoh Muslim) untuk melakukan harmonisasi antara agama dan pengaruh modernisasi dan westernisasi yang berlangsung di dunia Islam. Pandangan ini sesungguhnya tidaklah tepat, jika diartikan sebagai usaha mengakomodasi nilai-nilai modernisasi dan westernisasi ke dalam tubuh Islam, kerena Islam adalah pondasi yang lengkap. Sementara menurut Bassam Tibi, dan ini cenderung lebih obyektif, kaum modernis adalah sekelompok orang yang melakukan pengintegrasian ilmu dan teknologi modern ke dalam Islam, tetapi berusaha menghindari beberapa konsekwensi negatif dari penerapannya (sekularisme, perasaan teralienasi, dan melemahnya nilai moral).
Pada awal 1968 Isma’il Al Faruqi membagi gerakan muslim modern kedalam dua katagori yang luas berdasarkan sikap mereka terhadap ilmu pengetahuan dan sains modern yaitu; Mazhab satu kitab dan Mazhab dua kitab. Mazhab pertama berpendapat, bahwa al qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan. Semua pengetahuan ilmiah dan teknoligi dapat dijustifikasikan secara langsung maupun tidak dari ayat-ayatnya. Sedangkan mazhab kedua berpendapat bahwa keesaan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kesatuan kebenaran (unity of truth), tetapi mereka mengakui adanya dua jalan yang terbuka untuk sampai kepada keduanya, yaitu jalan wahyu dan jalan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini wahyu mengajarkan mengenai realitas dengan jalan langsung dan intuitif, sementara alam adalah kaitan yang terbuka bagi mereka yang telah memiliki kecanggihan intelektual untuk membacanya.

Pandangan Para Ulama
Pandangan para ulama klasik terhadap konsep tajdîd sesungguhnya dapat menjadi cerminan bagi seorang muslim untuk mendudukkan gerakan tajdîd yang hendak diusung. Konsep tajdîd merupakan idealisme normatif sekaligus aplikatif berlandaskan al Qur’an dan as Sunnah sebagai sumber hukum dalam Islam. Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan bahwa sejak permulaan sejarahnya, Islam telah memiliki tradisi pembaharuan (tajdîd). Orang-orang Islam akan segera memberikan jawaban terhadap apa yang dipandang menyimpang dari aqidahnya. Hal ini disebabkan konsep tajdîd mendapat pembenaran dari firman Allah (QS. 7: 170, dan 11: 117) dan hadits Nabi tentang diutusnya dari umat ini seorang pembaharu disetiap abadnya (HR. Abu Daud).
Mengenai hal ini Rasulullah shalallâhu ‘alihi wasallam bersabda;
إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِاءَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَها

“Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini disetiap penghujung 100 tahun seseorang yang akan melakukan tajdîd (memperbaharui) agamanya.”
Di dalam kitab ‘Aun al Ma’bûd Syarah Sunan Abi Dâwud karya Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah, beliau menjelaskan secara panjang lebar tentang kedudukan dan maksud hadits ini. Menurut Ibnu Qayyim rahimahullâh, disetiap awal atau akhir dari periode 100 tahun kehidupan manusia, ya’ni ketika ilmu dan sunnah menjadi sedikit namun kebodohan serta perbuatan bid’ah merajalela, Allah Ta’âlâ akan mengutus kepada umat ini (atau menurut istilah beliau “ummah ad da’wah”) seseorang yang akan menjelaskan sunnah dari perbuatan bid’ah dan akan memperbanyak ilmu serta ikut menolong para ahli ilmu dan mengecilkan posisi alhul bid’ah serta menyelisihinya. Seraya mengutip pendapat Imam Al Alqamy, Ibnu Qayyim mengatakan bahwa makna tajdîd yang termaktub dalam hadits ini adalah menghidupkan kembali segala sesuatu yang telah hilang dari beramal yang sesuai dengan alqur’an dan sunnah nabi serta perkara-perkara yang sesuai dengan keduanya. Sementara itu di dalam Ensiklopedi terbitan WAMY (World Asembly of Muslim Youth) Al Mausû’ah al Muyassarah fî al Adyân wa al Madzâhib wa al Ahzâb wa al Ma’âsir menyebutkan bahwa ma’na tajdîd secara istilahi adalah; munghidupkan dan mengutus seorang penyeru agama yang berilmu untuk menjaga nash-nash yang shahih dan murni, dan membedakan mana yang berasal dari agama dan mana yang bukan, memurnikan agama dari penyelewengan dan bid’ah baik dalam lingkup paradigma (world view), amal perbuatan, serta akhlaq.
Menurut kumpulan pengertian diatas, maka makna tajdîd dapat disimpulkan sebagai sebuah upaya untuk mengembalikan agama ini dari perubahan-perubahan (bid’ah) dan penyimpangan-penyimpangan (tahrîf) kepada agama semula (murni). Hal itu sebagaimana dikatakan Dr. Yusuf Qardhawi ketika mengomentari hadits di atas dalam bukunya Ummatuna baina Qarnain. Bagi Yusuf Qardhawi, yang dimaksud dengan gerakan pembaharuan adalah memperbaharui pemahaman keimanan, komitmen terhadap ajaran-ajarannya. Dan menda’wahkan modernisasi menurut Qardhwi bukan berarti menciptakan bentuk baru dari agama dan hal-hal yang sudah mapan, yaitu (tidak) berijtihad dalam hal yang qath’i dalam akidah, Ibadah, syari’at dan akhlak.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Majmû’ al Fatâwâ ke 18 juga menyebutkan hadits di atas ketika menjelaskan tentang Islam yang bermula dalam keadaan Ghuraba (asing) . Menurut beliau, hadits ini menjadi penjelas bagi kaum muslimin bahwa ketika ghuraba terjadi di mana Islam seperti terlihat asing, maka Allah akan memperbaharuinya. Hadits ini juga memberi isyarat agar kaum muslimin tidak merasa lemah dan sempit dadanya dengan sedikitnya orang yang mengenal hakikat Islam, serta tidak ragu dengan fenomena ini sebagaimana ini juga pernah terjadi di awal datangnya Islam.
Konep tajdîd melalui pengertian di atas sesunguhnya menjelaskan kedudukan para Rasul yang Allah utus ke dunia ini, dimana mereka seluruhnya diutus dalam rangka memperbaiki umat dari zaman ke zaman, mengembalikan mereka dari penyimpangan demi penyimpangan dalam syari’at. Ayat yang menerangkan hal ini diantaranya;

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, (QS. An Nahl: 36)
Imam Ibnul Jauzi rahimahullâh menjelaskan makna kalimat “ani’budullâh” dalam firman di atas bermakna; wahhidûhu (mentauhidkan Allah). Ayat ini menjelaskan pula bahwa para Rasul diberikan tugas oleh Allah untuk menyadarkan manusia agar tetap mentauhidkan Allah. Karena pada mulanya umat ini memang berada di dalam millah yang satu namun setelah tahun berganti, penyimpangan demi penyimpanganpun terjadi. Sebagaimana tersebut di dalam al Qur’an;

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al Baqarah: 213)
Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullâh di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa berdasarkan pendapat sahabat Ibnu Abbas radhiyallâhu’anhu bahwa pada mulanya, semenjak Nabi Adam ‘alaihissalam diutus manusia seluruhnya berada mengikuti millah nabi Adam (Tauhid) hingga kemudian timbullah fitnah penyembahan berhala. Dengan sebab itulah maka diutas seorang Rasul pertama dari bani Adam pula yaitu Nabiyullah Nuh ‘alaihissalam kepada mereka. Tentu saja tugas beliau adalah memurnikan kembali ketauhidan yang telah melenceng dari jalannya. Jadi berdasarkan penjelasan ini bahwa nampaklah kedudukan para Rasul seluruhnya adalah sebagai pemurni terhadap agama yang saat terjadi penyimpangan dari zaman-ke zaman.

Pengaruh Modernisme
Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah jauh-jauh hari telah mengingatkan kita tentang dua penyakit hati yang akan menimpa manusia; 1) mardhu syubhah wa syak dan, 2) mardhu syahwah wa Ghayy. Penyakit syubhat adalah berkaitan dengan kerangka manusia dalam berfikir, memahami atau meyakini sesuatu. Dan penyakit ini tidak akan hilang kecuali setelah ia menapaki (ittiba’) jalan para Rasul. Tak dapat disangkal bahwa pengaruh modernisme menjadi syubhat tersendiri yang menjangkit di tubuh kaum muslimin. Keterperangahan terhadap apa yang dihasilkan Barat membuat sebagian mereka terlena bahkan mengekor pula. Berikut ini akan kami sebutkan beberapa tokoh yang secara sengaja maupun tidak telah terpengaruh arus besar ini.
Pertama, Syaikh Muhammad Abduh. Sebagaimana disebutkan dalam catatan Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub, gelombang modernisme telah merasuki tokoh-tokoh pergerakan pembaharuan Islam seperti Muhammad Abduh rahimahullâh. Menurut Ali Mustafa Ya’qub bahwa Muhammad Abduh menginginkan penafsiran al Qur’an yang rasional sehingga Barat tidak melihat Islam sebagai agama terbelakang dan dengan mudah memahami Islam. Muhammad Abduh menginginkan hal itu agar orang-orang Barat tertarik dengan Islam. Akan tetapi, Menurut Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub, Muhammad Abduh terlalu berani menafsirkan ayat-ayat yang sesungguhnya tidak dapat ditafsirkan secara rasional, karena nash-nashnya termasuk qath’i dan masuk dalam bidang aqidah. Salah satunya adalah pendapatnya tentang Malaikat. Menurut Abduh, makna malaikat dengan pemahaman para ulama klasik tidak dapat diterima oleh akal Barat. Ia sendiri kemudian menafsirkannya sebagai; kekuatan yang mendorong kebaikan yang ada dalam diri manusia. Dalam penafsiran mengenai sifat-sifat Allah, Abdullah Muhammad Syahatah dalam bukunya Manhaj al Imâm Muhammad Abduh fî Tafsîr al Qur’ân al Karîm menyebutkan kedekatan penafsiran Abduh dengan ide Muktazilah. Abduh mentakwilkan kata Wajh dengan ridhâ, al Kursy dengan al ‘ilm al ilahi (pengetahuan Tuhan), kata al arsy dengan makanah wa syarafun yang bisa diartikan dengan kerajaan, kekuasaan dan kemuliaan.
Kedua, Sayyid Ahmad Khan. Ia termasuk pembesar India yang menyerukan modernisme kedalam tubuh masyarakat Islam khususnya di India. Baginya, sebagaimana diterangkan Prof. Dr. Harun Nasution bahwa pinjtu ijtihad terbuka seluas-luasnya dan seseorang tidak usah terikat dengan penafsiran klasik jika memang tidak sesuai dengan zamannya. Kebebasan akal adalah faham utama Ahmad Khan sehingga banyak penafsiran-penafsiran ganjil yang dilakukannya terhadap agama ini. Ia menda’wahkan tiadanya kemulian atas sunnah Nabi, dan mengklaim sunnah Nabi kebanyakan diriwayatkan bukan untuk maksud tasyrî’. Ia bahkan menyudutkan nash-nash al Qur’an dan as Sunnah dalam masalah sosial, budaya, ekonomi hanya berlaku pada zaman Nabi saja. Untuk itu ia menolak haramnya bunga bank sebagai riba, menyatakan tidak wajibnya hukum potong tangan bagi pencuri dan dapat diganti dengan penjara, menganggap tujuan do’a adalah untuk meraih kehadiran Tuhan, dan Tuhan tidak melakukan pengabulan atas do’a. Baginya pula, aturan tentang perbudakan juga tidak ada lagi, meskipun pada masa perang. Disamping itu Ahmad Khan adalah pemuja peradaban Barat, bahkan ia mewajibkan kaum muslimin untuk mengikuti jejak langkah Inggris dan Barat dalam bidang adat-istiadat, pendidikan, politik dan seluruhnya. Khan lalai bahwa keterpesonaannya pada Barat sejatinya melupakan bahwa mereka adalah penjajah imperialis. Prof Harun pun dengan senang hati memasukkannya kedalam kelompok modernis Islam tanpa kritik.
Ketiga, Mustafa Kemal At Taturk. Ia adalah Bapak Sekulerisme dalam dunia perpolitikan di negeri-negeri Islam. Dialah yang menghapuskan kekhilafahan dari Turki Ustmani atas bantuan Inggris. Kecintaannya terhadap peradaban Barat modernlah yang menyebabkan ia melakukan modernisme diberbagai bidang kehidupan, dengan Barat sebagai kiblatnya. Menurutnya, jika kemajuan ingin dicapai oleh kaum muslimin maka tidak ada jalan lain selain mengambil keseluruhan nilai Barat tersebut. Setelah Kemal menjadi presiden ia memberikan pernyataan public bahwa; “Selama hamper 500 tahun hukum dan teori-teori ulama Arab dan tafsir para pemalas dan tiada guna telah menentukan hukum perdata dan pidana Turki. Tidak ada itu wahyu Tuhan !. Islam hanyalah rantai yang digunakan para ulama dan penguasa tiran untuk membelenggu rakyat. Penguasa yang membutuhkan agama adalah orang yang lemah. Orang yang lemah tidak boleh berkuasa !.” Lihatlah, modernisme Kemal adalah membaratkan apa yang dianggap Islam seperti; menghilangkan adzan dengan bahasa Arab dan diganti dengan bahasa Turki (1932). Menghapus tugas jama’ah dan makam (1925), sekularisasi pendidikan dan penghapusan system pendidikan Islam (1924). Menghapus peraturan sipil Islam tentang perkawinan (1926). Menggunakan tulisan latin sebagai ganti tulisan Arab (1928). Mengganti bahasa al Qur’an dengan bahasa Turki (1932). Menyerukan memakai topi koboy Barat dan melarang memakai Torbus (1925), dan lain-lain.
Sebenarnya masih banyak lagi tokoh-tokoh yang terpengaruh dengan modernisme ala Barat ini. Tiga dari tokoh yang penulis sebutkan di atas sekedar contoh saja. Dua tokoh yang terakhir jika dikaji lebih dalam memang mencerminkan keterpengaruhan secara kuat, sehingga sangat membabi buta dalam melakukan pembaharuan. Melepaskan diri dari semangat Islam yang diwarisi generasi kegenerasi. Adapun tokoh pertama, ia hanya sebuah ketergelinciran yang lahir dari cara berfikir yang salah. Namun demikian, ia begitu yakin bahwa Islam adalah sumber kekuatan untuk bangkit dari keterpurukan.

Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, penulis mencoba menyimpulkan beberapa hal di bawah ini;
1. Konsep tajdîd di dalam Islam merupakan konsep asli yang berdasarkan pada sumber asli Islam (al qur’an dan sunnah), melalui penjelasan Rasul dan diikuti oleh generasi-generasi berikutnya secara turun temurun. Artinya, konsep tajdid mengandung tashawur yang Islami dan tidak melakukan peminjaman nilai dari peradaban lain. Sementara konsep modernitas tidaklah demikian. Ia merupakan gejala pemikiran yang timbul oleh sebab kemajuan zaman. Ia juga merupakan cirri khas peradaban Yunani dan Romawi kuno yang kerap kali menerima takhayul dan menolak agama sebagai konsepsi mapan.
2. Dari sisi fungsionalnya, kedua term ini memiliki perbedaan yang sangat mencolok. Tajdîd sama sekali tidak memiliki efek negatif terhadap fondasi agama, karena aktifitasnya justru mengokohkan sendi-sendi agama itu sendiri. Sementara modernisme begitu ia diadopsi oleh sebuah agama yang tak kokoh, maka ia akan mengancam keberadaannya, merubahnya, atau bahkan menghancurkannya dan menggantikannya dengan agama tanpa agama. Sebab karakteristik yang paling menonjol pada gerakan modernisme adalah semangat dekonstruksi, bukan rekonstruksi.
3. Untuk mengklasifikasikan antara tokoh modernisme dan tokoh tajdid memeng seringkali tak sesuai dengan hakikatnya. Sebagaimana disebutkan dimuka Harun Nasution menyebutkan Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amier Ali, Taha Husein, Ali Abdur Raziq dan lain-lain sejajar dengan Muhammad Abduh, Iqbal, Rasyid Ridha. Begitu juga Prof. Dr. Abudin Nata, MA, dalam konteks dunia pendidikan, ia memasukkan tokoh-tokoh pembaharu seperti M. Natsir, Rahmat El Yunusiah, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy’ari sejajar dengan Gusdur, Prof. Dr. Az Zumardi Azra, MA, Prof. Dr. Harun Nasution, Prof. Dr, Nurcholish Majid dan lain-lain.
4. Sesungguhnya konsep Islam lebih siap menghadapi perubahan zaman beserta aksesnya. Islam memiliki konsep ijtihad untuk persoalan-persoalan kontemporer yang memang tidak disebutkan secara pasti dalam nash. Bahkan dalam ruang lingkup perkembangan duniawi, ijtihad itu sangatlah terbuka. Pintu ijtihad memberikan dorongan untuk terus melakukan penemuan baru selama tidak bertentangan dengan ka’idah-ka’idah baku agama. Islam juga tidak pernah mengalami trauma sejarah kegelapan ilmu sebagaimana terjadi di tubuh Kristen. Islam bahkan menjadi agama yang begitu kuat memberikan semangat penggunaan akal untuk berfikir, memeriksa, dan menemukan penemuan baru, selama ia tidak bertentangan dengan aqidah.

———-Wallahu A’lam bis Shawab———-

DAFTAR PUSTAKA
1. A.W Pratikya dkk, Percakapan Antar Genarasi; Pesan Perjuangan Seorang Bapak, Jakaarta-Yogyakarta, DDII & LABDA, 1989
2. Abdul Sani, Lintas Sejarah pemikiran perkembangan Modern dalam Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998
3. Abi Daud Sulaiman bin al Asy’ats as Sijistany al Azdy, Sunan Abi Dâwud, Beirut: Dâr Ibn Hazm, 1998
4. Abil Faraj Abdurrahman Ibnul Jauzi al Qurasyi, Zâd al Masîr fî al ‘Im at Tafsîr, Beirut: Al Maktabah al Islamy, 1965
5. Abil Fida’ Islam’il bin Katsir al Quraisyi ad Dimasyqi, Tafsîr al Qur’ân al ‘Adzhîm, Beirut: Maktabah al ‘Asyriyyah, 2000, Jilid I, Cet. 3, hlm. 219
6. Abu Bakar Jabir Al Jazairi, ‘Aqîdah al Mu’mîn, Ttp: Dâr al Fikr al ‘Araby, Tt,
7. Abudin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo, 2005
8. Abul Hasan Ali al Hasan an Nadawy, Kerugian Apa yang Diderita Dunia Akibat kemerosotan Kaum Muslimin, Terj. Abu Laila, Bandung: PT Al Ma’arif, 1983
9. Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat, Jakarta: Gema Insani Press, 2005
10. Ali Mustafa Ya’qub, Islam Masa Kini, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001
11. Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduhi, Jakarta: Bulan Bintang, 1993
12. At Thahir Ahmad Az Zawi, Tartîb al Qâmûs al Muhîth ‘ala Tharîqah al Misbâh al Munîr wa Asâs al balâghah, Riyadh: Dâr Alam al Kutub, 1996
13. Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1999
14. Dhabith Tarki Sabiq, Ar Rajul as Shanam Kamal At Taturk, Terj. Abdullah Abdurrahman, Jakarta: Senayan Publishing, 2008
15. Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam; Sejaran pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang, 2003
16. Herry Mohammad, (et.all), Tokoh-Tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, 2006
17. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, ‘Aun al Ma’bûd syarh Sunan Abi Dâwud, Madinah: Maktabah As Salafiyah, 1969
18. Lihat, Ahmad Syaukani, Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2001
19. M. Natsir, Capita Selecta, Jakarta: Bulan Bintang, 1973
20. M. Natsir, M. Natsir, Kebudayaan Islam dalam Prespektif Sejarah, Jakarta: PT Girimukti Pasaka, 1988
21. Madya Fadlullah Jamil, Islam di Asia Barat Moden, Selangor: Thinker’s Librarys SDN BHD, 2000
22. Majalah Islam Sabili, Edisi 11 h. XVI 1429 H, hal. 41
23. MAMY, Al Mausû’ah al Muyassarah fî al Adyân wa al Madzahib wa al Ahzâb wa al Ma’âsir, hlm. 1012-1015
24. Muhammad Hamid an Nashir, Al Ashrâniyûn Baina Mazâ’im at Tajdîd wa Mayadin at Taghrîb, Terj. Abu Umar Basyir, Jakarta: Darul Haq, 2004
25. Muhammad Ihsan, Pembaharuan dalam Islam, (PDF; Wahdah Islamiyah)
26. Robert P. Gwinn (Ed.), Encyclopaedia Britannica, Chicago: The University of Chicago, 1992
27. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmû’ al Fatâwâ, Ttp.. Majlis a Islamî Al Asiwwai; Lajnah ad ad’awah wa at Ta’lîm, 1997
28. Syamsuddin Abi Abdillah Muhammad bin Abi Bakr Az Zar’y, Zâd al Ma’âd fî Hadyi Khair al ‘Ibâd, tahqiq; Syu’aib al Arnauth, Beirut: Mu’assasah Ar Risâlah, 1997
29. Tim Penyusun, Ensiklopedi Islam 3, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000
30. WAMY, Al Mausû’ah al Muyassarah fî al Adyân wa al Madzahib wa al Ahzâb wa al Ma’âsir, Muraja’ah; Dr. Mani’ Hammad al Jahny, Riyadh: Dâr an Nadwah al ‘Alamiyah, 1997
31. Wan Mohd Nor Wan, The Educational Philosophy and Practice of syed Muhammad Naquib Al Attas, Terj. Hamid Fahmi dkk, Bandung: Mizan, 2003
32. http://www.sttcipanas.ac.id, 26 Desember 2009
33. Yusril Ihza Mahendra, Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam, Jakrta: Paramadina, 1999
34. Yusuf Qardhawi, Ummatuna baina Qarnain, terj. Yoga izza Pranata, Solo: Era Intermedia, 2001
35. Yusuf Qardhawi, Ummatuna Baina Qarnain, terj. Yoga Izza, Solo: Era Intermedia, 2001
36. Zainal Abidin, Filsafat Manusia; Memahami Manusia Melalui Filsafat, Bandung: Remaja Rosdakarya Bandung, 2003


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: