Oleh: hudzai | 8 Januari 2009

Islam; Misi Tazkiyah an Nafs

ISLAM DAN MISI TAZKIYAH AN NAFS

“Dialah (Allah) yang mengutus seseorang rasul, kepada kaum yang buta huruf (ummî) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah meskipun sebelumnya mereke berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al Jum’ah:2)

Iftitah

Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah di dalam menjelaskan tentang urgensi dasar tauhid mengatakan bahwa “asas” ad dîn (agama) ini ada dua hal; pertama, mengenal Allah, mengenal perintahNya, serta nama-nama dan sifat-sifatNya dengan benar, dan kedua, memurnikan ketundukan hanya kepadaNya dan kepada RasulNya, tidak kepada yang lainnya. (Ibnu Qayyim, Badâ’iul Fawâ’id, hal. 204). Kedua asas inilah yang menjadi kerangka berfikir setiap muslim dalam melahirkan karya dan aktifitas hidup. Artinya, apapun hasil yang akan dilahirkan oleh manusia, semuanya tidak terlepas dari ka’idah dasar dan prinsip-prinsip yang dibangun berdasarkan dua landasan di atas, karena landasan tersebut tidak lain adalah bentuk tauqif (berdasarkan penetapan dalil syar’i) dari Allah ‘Azza Wajalla.

Oleh karena itu pulalah, Islam mengatur setiap dimensi kehidupan manusia yang tegak di atas prinsip at tawâzun (keseimbangan). Di atas prinsip inilah keberadaan manusia diatur dengan sebaik-baiknya agar terwujudlah cita-cita untuk mencapai kebahagiaan di dunia juga di akhirat. Salah satu konsep Islam yang memberikan kekuatan untuk menjaga keberadaan manusia agar terhindar dari kepincangan akibat fitnah yang ditimbulkan oleh kehidupan dunia yang tidak seimbang dengan kehidupan akhirat adalah konsep; tazkiyatun nafs (pensucian jiwa).

Mengenai konsep ini Dr. Anis Ahmad Karzun mengatakan bahwa konsep tazkiyatun nafs yang disebutkan oleh Allah dalam Al qur’an pada dasarnya dinisbatkan kepada empat hal. Pertama, tazkiyah yang dinisbatkan kepada Allah ‘Azza Wajalla, dengan makna Dialah yang mensucikan manusia dengan diberikannya hidayah dan taufiq kepada hamba-hambaNya di dunia (QS.an Nisa:49, al Baqarah: 174). Kedua, tazkiyah yang dinisbatkan kepada Rasulullah karena fungsi beliau sebagai murabbi (pendidik), muzakki (pembersih jiwa umat dari kejahiliyahan) dan mursyîd (penunjuk jalan) kepada yang benar. (QS.al Baqarah:101, âli ‘Imrân:164, at Taubah:103). Ketiga, tazkiyah yang dinisbatkan kepada hambaNya, karena ia membersihkan jiwanya pribadi dengan al îman dan al mujâhadah (kesungguhan) (QS.as Sams:9, al Kahfi:19, al Baqarah:43). Keempat, tazkiyah yang dinisbatkan kepada al Qur’an dan as Sunnah karena telah menjelaskan makna tazkiyah, di mana dengan informasi yang ada di dalamnya manusia berusaha keras menuju keshalihan dan ketaqwaan. (QS.an Nisa:49 dan Hadits Imam Muslim: Kitâbul îman. No:8). (Manhajul Islam fî Tazkiyatin Nafsi, hal. 12)

Keterangan di atas memberikan landasan bahwa konsep tazkiyatun nafs sejatinya adalah milik Islam yang bersumberkan langsung pada al Qur’an dan as Sunnah. Pernyataan ini akan mempertegas perbedaannya dengan konsep-kosep lain yang mencoba menawarkan hal yang sama namun dengan kerangka dasar yang berbeda atau mungkin percampuran antara konsep dasar Islam dengan pandangan hidup idiologi lainnya; seperti tasawuf, filasafat, kebatinan, ruhbaniyyah (kependetaan) dan lain-lain.

Tazkiyah; sebagai misi kerasulan.

Al qur’an telah menyebutkan bahwa konsep tazkiyah merupakan misi utama dari da’wah para Rasul yang Allah utuskan ke dunia. Ayat-ayat yang menjelaskan misi ini semuanya bermuara kepada satu kepentingan utama yang menjadi landasan keimanan seorang muslim yaitu pemurnian (tasfiyah) terhadap aqidah; at tauhid. Salah satu ayat yang dengan tegas menyebutkan perihal di atas adalah firman Allah ‘Azza Wajalla: QS.al Jum’ah:2. Allah berfirman yang maknanya:

“Dialah (Allah) yang mengutus seorang rasul, kepada kaum yang buta huruf (ummi) dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, mensucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah meskipun sebelumnya mereke berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. al Jum’ah:2)

Di dalam menjelaskan makna ayat ini, Al Hâfidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa, meskipun ayat ini berbicara dalam konteks bangsa Arab yang ummi (mayoritas buta huruf), namun secara khusus ayat ini sama sekali tidak menafikan kaum selain mereka. Hanya saja, mereka (bangsa Arab) telah diberikan nikmat yang lebih dari umat-umat lainnya. (Tafsîr Ibnu Katsir, jilid IV, hal.56) Kata; “wa yuzakkîhim” (mensucikan mereka) pada ayat ini memberikan kejelasan misi kerasulan yang pada intinya adalah upaya untuk membersihkan manusia dari noda-noda kesyirikan, kejahiliyahan dan keyakinan lainnya yang menyimpang, dan demikian ini adalah penafsyiran jumhur ulama. (Imam As Syaukani, Fathul Qadhîr, jilid IV, hal.275). Melalui keterangan ini dapatlah ditarik benang merah kesimpulan di mana kedudukan tazkiyah di dalam Islam adalah berfungsi sebagai upaya untuk membersikan jiwa manusia dari sesuatu yang dapat mengotori tauhid dari keyakinan yang salah, syirik, khurafat, bid’ah serta dosa-dosa lainnya yang disebabkan penyimpangan dari jalan yang lurus. Oleh karena itu segala bentuk konsep tazkiyah (atau yang sering dikenal dengan manajemen qalbu) yang dilakukan oleh individu maupun jama’ah mesti mengedepankan misi dan prinsip di atas.

Kesalahan fatal yang sering timbul dalam upaya mewujudkan pensucian jiwa ini adalah justeru timbulnya praktik-praktik ibadah yang memiliki tujuan dan cara yang tidak disyari’atkan. Ambil salah satu contohya adalah metode yang dikembangkan dalam konsep tasawuf. Konsep ini menawarkan jalan yang telah dibuat sedemikian rupa untuk meraih apa yang disebut dengan ma’rifah (melihat Allah), kasyaf (Terbukanya tabir antara Allah dan hambaNya), dan fanâ (lenyapnya keberadaan Hamba dalam diri Allah). Pada dasarnya konsep ini membenarkan upaya penyatuan diri dengan Allah sebagai tujuan akhir, baik dalam bentuk hulûl (mengklaim; Allah menyusup pada diri hamba), ittihâd (kesatuan manusia dengan Allah secara jasadiyah) atau wihdatul wujûd (mengklaim; alam ini adalah eksistensi dari wujud Allah).

Secara tegas, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengkritik faham ini akibat pengaruh yang ditimbulkan dari filsafat kalam Yunani, dan ia mengkafirkan pelakunya karena bahaya syirik akbar yang ditimbulkan darinya. (Ibnu Taimiyah, Minhâjus Sunnah, jilid 3/95-94, Majmu’Ar Rasâ’il wal Masâ’il, hal. 88)

Menda’wahkan Tazkiyah

Umat harus faham bahwa Islam dengan sangat hati-hati melakukan tindakan prefentif agar manusia tidak terjatuh kepada sikap berlebihan (ghuluw) dalam urusan dunia maupun agama. Untuk itulah dituntut ketelitian seorang da’i dalam menjelaskan bagaimana Islam mengatur dan mensikapi kehidupan rohani yang tidak mungkin lepas dari diri manusia itu sendiri. Secara umum, syarat mutlak yang harus di miliki oleh seorang da’i dalam hal ini adalah keharusan untuk memiliki; al ‘ilmu (ilmu) yang mampu menarik garis tegas antara kebenaran dan kebatilan, antara konsep Islam dan yang bukan dari Islam. Keharusan berilmu ini dibangun di atas tiga landasan yaitu; al ‘ilmu yang mengetahui al haq (kebenaran), da’wah menuju al haq, dan teguh di atas al haq. (Syaikh ‘Ali bn Hasan bin ‘Ali bin Abdul Hamid al Halaby, At Tasfiyah wat Tarbiyah wa Atsaruhumâ fî Isti’nafi al Hayâtil Islamiyyah, hal. 12)

Di Indonesia, fenomena manajeman qalbu telah mengambil tempat yang strategis di hati umat. Maka bermunculanlah metode-metode yang di ketengahkan oleh para tokoh untuk menarik perhatian seperti dengan melakukan zikir berjama’ah, muhasabah berjama’ah, dan bentuk-bentuk lainnya. Dengan fenomena tersebut, keadaannya menjadi semakin jelas bahwa metode yang dibangun oleh konsep ilmu yang salah maka akan mempengaruhi pola fikir manusia kearah ‘amal ibadah yang tidak disyari’tkan. Padahal kepentingan Islam dalam memandang kebersihan diri seseorang adalah melekatnya pribadi shaleh dengan disertai ‘amal yang benar.

Salah satu contoh tokoh di Indonesia yang pernah dengan gigih menda’wahkan konsep tasawuf dari kalangan kaum modernis adalah Buya Hamka. Buya Hamka membuat sensasi baru dalam dunia tasawuf dengan istilah yang terkenal ia gunakan yaitu; “Tasawuf Modern.” Meskipun terlahir dari kalangan modernis yang anti syirik, bid’ah dan khurafat akan tetapi ia dengan sangat yakin berpendapat bahwa tasawuf itu bersumberkan dari Islam dan konsekwensinya adalah menda’wahkan tasawuf tersebut. Ciri khas yang sering di kumandangkan Hamka adalah bahwasanya konsep tasawufnya merupakan sebuah model kehidupan kerohanian yang bebas dari kesyirikan dan ritual-ritual bid’ah yang mengotori syari’at. Tapi jika dikaji lebih jauh, ternyata konsep yang Hamka ketengahkan masih memberikan peluang penyimpangan dalam aqidah. Hamka masih banyak menggunakan istilah-istilah tasawuf yang ia sendiri tidak dapat menjelaskannya secara independen berdasarkan konsep Islam. Oleh sebab itulah, pakar tasawuf di Indonesia, Prof. Dr. Simuh menegaskan bahwasanya “upaya untuk membelokkan tasawuf kepada makna yang lain hanya akan menyebabkan penelitain tentang tasawuf menjadi kabur, sebab ciri utama dalam tasawuf adalah upaya untuk mencapai titik kasyaf dan fana.” (Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, hal. 12)

Uraian di atas pada intinya bermuara pada keutuhan memandang keseluruhan konsep di dalam Islam di mana Islam adalah kerangka kehidupan yang memberikan aturan dan penjelasan dalam setiap masalah, baik lahiriyah maupun batiniyah. Segala bentuk faham yang telah bercampur dengan pandangan hidup di luar Islam hanya akan menyebabkan kerusakan. Oleh sebab itu, telaah kita pada uraian ini terletak pada upaya untuk melindungi konsep Islam dalam pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) dari ilmu-ilmu yang mengacaukannya. Untuk itulah al Imam at Thahawi memberikan nasihatnya kepada kita bahwa; “Barang siapa yang mencoba mempelajari ilmu yang terlarang, tidak puas pemahamannya untuk pasrah kepada Al qur’an dan as Sunnah, maka ilmu yang dipelajarinya itu akan menutup jalan baginya dari kemurnian tauhid, kejernihan ilmu pengetahuan, dan keimanan yang benar. (Syarah Aqidah Tahawiyah. Hal. 233)

Wallâhu’a’lam.

Imam al Khattab

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: