Oleh: hudzai | 7 Januari 2009

Kritik Hadits M. Ghazali

(Telaah Kitab As Sunnah An Nabawiyah Karya Syaikh Muhammad Al Gazali) [1]

Oleh: Imam Taufik Alkhotob

I. Pendahuluan

Menurut Prof. Dr. Muhammad Mustahafa ‘Azami, MM kehadiran hadits ditengah-tengah umat sesungguhnya telah menyajikan suatu kebutuhan esensial bagi seorang muslim agar mereka menjadi individu dan masyarakat yang baik. Dalam hal ini, hadits-hadits yang dibawa oleh Rasulullah shalallâhu ‘alaihi wasallam merupakan sumber hukum, menjelaskan al Qur’an, wajib ditatati, dan teladan untuk masyarakat Muslim.

[2] Dengan demikian, memperlakukan hadits tidak hanya sebatas penghafalan dan pembacaan saja, akan tetapi diperlukan studi yang mendalam untuk mengungkap keabsahan suatu hadits agar dapat diamalkan baik dalam lingkup tata nilai keimanan, maupun ubudiayah seorang hamba kepada Allah dalam arti yang seluas-luasnya.[3]

Pada perjalanannya, pemahaman para ulama terhadap hadits dikemudian hari tidaklah satu. Hal itu mempengaruhi pemahaman mereka terhadap istimabth al ahkâm dalam dunia ilmu fiqih, karena hadits merupakan sumber primer dalam ilmu fiqih. Penentuan shahîh dan dha’îf, penafsiran matan hadits, hingga pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari, merupakan perbincangan yang terus mewarnai studi ilmu hadits dalam dunia Islam. Dalam tradisi ulama salaf, itu semua terjadi justeru karena kahati-hatain mereka meriwayatkan dan menarik kesimpulan dari suatu hadits. Berbeda halnya dengan kelompok-kelompok menyimpang lainnya yang justeru hal diatas lahir karena mengikuti tiupan hawa nafsu.

II. Tinjauan Penulisan

Dalam makalah ini, penulis akan membedah sebuah buku yang ditulis oleh seorang ulama pergerakan Al Ikhwan al Muslimun di Mesir; Syaikh Muhammad Al Ghazali rahimahullâh yang berjudul “As Sunnah an Nabawiyyah baina Ahl al Fiqh wa Ahl al Hadits.” Bedah yang dimaksudkan oleh penulis adalah, sebuah upaya pembacaan ulang atas hadits-hadits yang dianalisa oleh Syaikh Al Ghazali sebagai sesuatu yang irasional atau menyalahi pendapat dirinya. Pembacaan ulang tersebut disajikan dalam bentuk Naqd (kritik), baik dengan menukil karya-karya mu’ashirah (kontemporer) maupun mutaqaddimin (tempo dulu). Kajian ini tentunya tetap pada posisi meletakkan objek kajian pada keumuman perkataan para ulama dalam menghadapi perbedaan pendapat. Sebagaimana Al Imam Ibn Abdil Barr rahimahullâh berkata; “Tidak seorang ulamapun yang selamat dari kesalahan, barangsiapa yang kesalahannya sedikit dan kebenarannya banyak maka ia adalah seorang yang ‘alim, dan barangsiapa kebenarannya sedikit dan kesalahannya banyak maka ia adalah jahil”.[4]

Penulis mencoba membahas empat point dari keseluruhan isi buku tersebut, dimana penulis merasa perlu untuk mengkajinya yaitu; 1) masalah karasukan jin pada tubuh manusia, 2) penolakan terhadap periwayatan hadits dari jalur Nafi’ maula Ibnu Umar, 3) kehujjahan atas hadits ahad, dan 4) kedudkan hadits Nisfu Sya’ban dan Nyanyian

III. Biografi Singkat Syaikh Muhammad Al Ghazali

Lahir di kampung Naklah al Inab, Itay Al Barud, Buhairah, Mesir, 22 September 1917. Tokoh yang diberi nama oleh ayahnya dengan Muhammad Al Ghazali ini tumbuh sebagai penghafal al Qur’an pada usia 10 tahun dibawah asuhan ayahnya yang juga hafal al Qur’an. Ia diberi nama Al Ghazali karena ayahnya sangat gandrung dengan profil Imam Abu Hamid Al Ghazali (penulis kitan Al Ihyâ’) dan sangat terobsesi dengan fikiran tasawufnya.[5] Awal pendidikan Al Ghazali diterima di kota Iskandariyan dari tingkat dasar hingga menengah, kemudian pindah ke kairo melanjutkan kuliah di Fakultas Ushuluddin. Setelah lulus tahun 1361 H 1943 M, ia mengambil spesialisasi Da’wah wa al irsyâd dan mendapt gelar Magister pada 1362 H/1943 M. Para guru yang sangat berpengaruh saat ia studi adalah; Syaikh abdul Aziz Bilal, Syaikh Ibrahim al Gharbawi, Syaikh Abdul ‘Azhim az Zarqani, dan lain-lain.[6] Atau menurut apa yang ia sendiri katakan, Al Ghazali mengomentari tentang dirinya; “Jika Imam al Ghazali terpengaruh dengan otak para filusuf dan Ibnu Taimiyah teropengaruh degan otak ahli fiqih maka saya menganggap diri saya adalah murid dari sekolah filsafat dan fiqih dalam waktu yang sama. Saya sangat dipengaruhi oleh syaikh Abdul Azim Az Zarqani dan Muhammad Saltut, akan tetapi saya lebih dipengaruhi oleh Hasan Al Banna.[7]

Semasa kuliah ia direkrut oleh Syaikh Hasan Al Banna (pendiri Al Ikhwan al Muslimin)[8] hingga menjadi seorang anggota, tokoh, dan terkenal sebagai juru bicara Ikhwanul Muslimin yang paling jujur. Semasa hayatnya ia pernah menjadi penasihat dan pembimbing di Kementrian Wakaf, ketua Dewan Kontrol Masjid, Ketua Dewan Da’wah, dan terakhir menjadi Wakil Menteri Wakaf dan Urusan Dakwah Mesir. Selain itu syaikh juga menjadi guru besar disejumlah universita seperti Al Azhar (Mesir), Ummul Qura (Makkah), King Abdul Aziz (Jeddah), Qathar, dan Al Jazair. Karya tulis yang dihasilkannya lebih dari 60 buah buku dari sudut pandang pemikiran, syari’at dan akhlaq.[9]

Al Ghazali memang dikenal temperamen, kemarahannya cepat meluap. Hal ini karena kebenciannya yang sangat pada kezaliman dan kehinaan. Baik hal itu ada pada dairinya atau orang lain. Dr. Yusuf al Qardhawi mengatakan; “ Mungkin anda berbeda pandangan dengan al Ghozali, atau ia beerbeda pendapat dengan anda dalam masalah-masalah kecil atau besar, sedikit atau banyak masalah. Tapi apabila anda mengenalnya dengan baik, anda pasti mencintai dan menghormatinya. Karena anda tau keikhlasan dan ketundukannya pada kebenaran, keistiqomahan orientasi dan ghirahnya yang murni untuk Islam.”[10]

Mengenai ketegasannya dalam bersikap, pernyataan kafir atas Faraj Faudah yang telah menghina Islam adalah buktinya. Tentang kedudukan Faraj Faudah syaikh al Ghazali pernah dipanggil oleh Mahkamah Negara Mesir untuk ditanyai tentang beberapa perkara menyangkut hukum Islam dalam Negara, dan kedudukan orang-orang yang berlepas diri dari hukum Islam, baik karena bercanda atau kesungguhannya. Dr. Yusuf Qhardawi dalam bukunya Syaikh Al Ghazali Kamâ ‘Araftuhu[11] mengisahkan cerita tersebut dalam sub judul As Sahâdah fI Muqtali Faraj Faudah bahwa Al Ghazali berpendapat bahwa wajib hukumnya menegakkan hukum Islam dalam tubuh sebuah Negara, dan orang-orang yang menolaknya baik ia bercanda maupun ia sungguh-sungguh dalam hal itu, maka ia keluar dari millah (murtad).[12]

Ketokohan Syaikh Al Ghazali kemudian menjadi banyak rujukan dimana-mana. Sejumlah buku yang ia karang tidak hanya membangkitkan semangat kaum muslimin dalam melawan penajajahan Barat dan Kebusukan hati orang-orang Yahudi, namun juga membuahkan kritik. Kritik-kritik tersebut datang dari sejumlah tokoh-tokoh pergerakan da’wah yang menganggap pendapat-pendapat Al Ghazali mengenai hadits banyak yang bertentangan dengan apa yang telah dijelaskan oleh jumhur para ulama ahlu sunnah (salaf as shôlih).

IV. Beberapa Point Catatan atas Buku As Sunnah An Nabawiyah baina Ahl al Fiqh wa ahl Al Hadits

Berikut ini penulis coba menyebutkan beberapa permasalahan dalam hadits berikut uraiannya menurut pandangan Syaikh Al Ghazali. Hadits-hadits tersebut kemudian dipandang sebagai sesuatu yang kontroversial, karena ternyata menyalahi pendapat mayoritas jumhur ulama ahlu sunnah.

a. Masalah masuknya jin kedalam tubuh manusia

Syaikh al Ghazali menyebutkan dalam halaman 144 tentang dirinya yang didatangi oleh seorang pemuda dan memohon bantuan agar mengeluarkan Jin dari tubuh saudaranya.[13] Namun ia justeru menolak dan berargumen bahwa Jin tidak dapat memasuki tubuh manusia. Ia kemudian berargumen dengan keumuman sifat Jin terhadap manusia bahwa Jin hanya melakukan tindakan membisikkan was-was atau membuat seseorang terlena saja sebagaimana terjadi pada Nabiyullâh Adam ‘alaihissalam. Argumentasi ayat al Qur’an yang digunakan adalah:

ø—Ì“øÿtFó™$#ur Ç`tB |M÷èsÜtGó™$# Nåk÷]ÏB y7Ï?öq|ÁÎ/ ó=Î=ô_r&ur NÍköŽn=tã y7Î=ø‹sƒ¿2 šÎ=Å`u‘ur óOßgø.͑$x©ur ’Îû ÉAºuqøBF{$# ω»s9÷rF{$#ur öNèdô‰Ïãur 4 $tBur ãNèd߉Ïètƒ ß`»sÜø‹¤±9$# žwÎ) #·‘rãäî ÇÏÍÈ

Artinya: “Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (QS. Al Isrâ’: 64)

tA$s%ur ß`»sÜø‹¤±9$# $£Js9 zÓÅÓè% ãøBF{$# žcÎ) ©!$# öNà2y‰tãur y‰ôãur Èd,ptø:$# ö/ä3›?‰tãurur öNà6çFøÿn=÷zrsù ( $tBur tb%x. u’Í< Nä3ø‹n=tæ `ÏiB ?`»sÜù=ߙ HwÎ) br& ÷Lälè?öqtãyŠ óOçGö6yftGó™$$sù ’Í< ( Ÿxsù ’ÎTqãBqè=s? (#þqãBqä9ur Nà6|¡àÿRr& ( !$¨B O$tRr& öNà6ÅzΎóÇßJÎ/ !$tBur OçFRr& †ÅÎŽóÇßJÎ/ ( ’ÎoTÎ) ßNöxÿŸ2 !$yJÎ/ ÈbqßJçGò2uŽõ°r& `ÏB ã@ö7s% 3 ¨bÎ) šúüÏJÎ=»©à9$# öNßgs9 ë>#x‹tã ÒOŠÏ9r& ÇËËÈ

Artinya: “Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (QS. Ibrahim: 22)

ô‰s)s9ur s-£‰|¹ öNÍköŽn=tã ߧŠÎ=ö/Î) ¼çm¨Ysß çnqãèt7¨?$$sù žwÎ) $Z)ƒÌsù z`ÏiB tûüÏZÏB÷sßJø9$# ÇËÉÈ $tBur tb%Ÿ2 ¼çms9 NÍköŽn=tã `ÏiB ?`»sÜù=ߙ žwÎ) zNn=÷èuZÏ9 `tB ß`ÏB÷sムÍotÅzFy$$Î/ ô`£JÏB uqèd $yg÷YÏB ’Îû 7e7x© 3 y7š/u‘ur 4’n?tã Èe@ä. >äóÓx« Ôá‹Ïÿym ÇËÊÈ

Artinya: “Dan Sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. dan Tuhanmu Maha memelihara segala sesuatu.” (QS. Saba: 20-21)

Kemudian ia menolak dalil yang digunakna para ulama dalam surah al Baqarah ayat 275 dan menolak beberapa hadits diantaranya[14];

اِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ اْلِإنْسَانِ مَجْرِى الدَّامِ

Artinya: “Sesungguhnya setan mengalir pada diri manusia seperti mengalirnya darah.”[15]

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ إِلَّا نَخَسَهُ الشَّيْطَانُ فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ إِلَّا ابْنِ مَرْيَم

Artinya: “Tidaklah setiap bayi itu lahir kecuali Syaithan akan disundut setan hingga ia menangis keras akibat dari sundutan tersebut kecuali putera Maryam.”[16]

Dalam pandagan Al Ghazali, hadits ini bertentangan dengan rasio manusia, dan bertentangan pula dengan ayat-ayat yang disebutkan diatas.

Analisa

Pada dasarnya eksistensi Jin dan Syaithan telah disebutkan secara gamblang didalam nash al Qur’an. Bahkan Allah memberikan satu surat dengan menggunakan nama mereka (al Jin). Syaikh Wahid Abdus Salam Bali meneliti kata Jin disebutkan di dalam al Qur’an sebanyak 22 kali, kata al Jann disebtukan 7 kali, kata syaithân disebutkan 68 kali dan kata sayâthîn disebutkan 10 kali.[17]

Hadits yang digunakan oleh Al Ghazali sesungguhnya memang tidak sepesifik untuk menyebutkan bahwa Jin atau setan tidak masuk keadalam tubuh manusia. Sebenarnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullâh bahwasannya para ulama ahlu sunnah meyakini kemampuan Jin merasuki tubuh manusia. Syaikh menyebutkan di dalam Fatâwâ al ‘Aqîdah bahwa kerasukan Jin merupakan realita yang telah ditetapkan oleh al Qur’an dan As Sunnah serta kenyataan dilapangan. Adapaun kelompok yang mengingkarinya datang dari firqoh Mu’tazilah. Hal itu didasari juga dengan pendapat para ulama ahlu sunnah, bahkan merupakan al umûr al ma’lûm bi al Hiss wa al Musyâhadah (perkara yang dikatahui melalui panca indera dan pengelihatan) manusia dan perkara yang ditangkap oleh panca indera itu sendiri merupakan dalil.[18] Penegasan mengenai hal ini disebutkan pula oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmû’ al Fatâwâ yang menyebutkan Ijma’ ulama ahlu sunnah tentang kemampuan Jin memasuki tubuh manusia.[19]

Komentar serupa datang dari Al Imam As Syibli rahimahullâh di dalam karyanya Ahkâm al Jînn. Imam As Syibli menjelaskan bahwasannya kelompok yang menginkari masuknya Jin kedalam tubuh manusia datang dari firqoh Mu’tazilah semisal Al Juba’i, Abu Bakar Ar Razi, Muhammad bin Zakaria dan lain-lain. Pendapat mereka ini menurut Imam As Sibli tidak benar sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Al Asy’ari rahimahullâh di dalam kitab Alhu Sunnah wa al Jamâ’ah. Imam Al Asy’ari berkata; “Sesungguhnya Jin memasuki badan seseorang berdasarkan firman Allah (QS. Al Baqarah: 275).” Imam As Sibly juga mengutip sebuah riwayat dimana Abdullan bin Ahmad bin Hanbal (anak Imam Ahmad) berkata kepada ayahnya; “Sesungguhnya sekelompok kaum mengatakan, sesungguhnya Jin tidak dapat masuk kedalam badan seseorang manusia.” Maka berkatalah Imam Ahmad; “Wahai anakku mereka bohong. Yang berbicara melalui lidahnya itu adalah salah satu dari mereka (jin tersebut).”[20]

Sejumlah riwayat tentang bagaimana Nabi melakukan ruqyah[21] terhadap orang yang kerasukan Jin dapat dijumpai dalam kitab-kitab Hadits. Salah satunya adalah sebuah riwayat yang disebutkan oleh Imam Ibnu Qayyim di dalam kitab Zâd al Ma’âd, sebagaimana di-tahqîq Syaikh Al Arnauth. Imam Ahmad meriwayatkan dari Waki dari Ya’la ibn Murrah bahwa seorang perempuan membawa anak laki-lakinya yang kesurupan kepada Nabi. Nabi kemudian berkata; “Pergilah musuh Allah, aku Rasulullah.” Anak itu kemudian sembuh dan ibunya memberikan Nabi hadiah dua ekor domba betina dan beberapa aqat (dadih kering) dan lemak. Rasulullah berkata (kepada sahabatnya); “Ambillah aqatnya, lemak dan satu ekor doma dan kembalikan yang lainnya.”[22]

b. Menolak periwayatan Nafi’ maula Ibnu Umar

Al Ghazali melakukan analisa yang keliru terhadap hadits yang diriwayatkan oleh Nafi maula Ibnu Umar rahimahullâh tentang peperangan Bani Musthaliq dimana hadits tersebut menyebutkan tentang kaum muslimin menyerang Bani Musthaliq tanpa da’wah terlebih dahulu. Menurut Al Ghazali, tidak mungkin hal itu dilakukan oleh Rasulullah. Sedangkan riwayat Nafi’ yang kedua berkaitan dengan anggapan bahwa Nafi’ mambolehkan seseorang menggauli istrinya dari lubang duburnya. Bahkan Al Ghazali telah mengatakan bahwa Nafi’ adalah perawi yang kacau fikirannya. Ia berkata; “Sekalipun demikian, masih saja diantara kita ada orang yang lupa akan semua hal ini, hanya karena percaya kepada seorang rawi yang kacau pikirannya (râwin tâ’ihin), dimana dia menganggap bahwa dakwah kepada Islam hanyalah di awal Islam saja kemudian dihapus. Lantas siapa yang menghapusnya !.[23]

Analisa

Analisa berikut ini akan melihat apakah hadits yang diriwayatkan Nafi’ memiliki kekuatan hukum ataukah tidak. Adapun tulisan ini tidak menyimpulkan kedudukan fiqih tentang perang tanpa indzar (peringatan) dan kedudukan seseorang yang menggauli istri dari duburnya.[24] Hanya saja, secara singkat fiqih atas kedua hal tersebut agaknya disalah mengerti oleh Al Ghazali, karena apa yang diucapkan Nafi’ sangat global dan tidaklah demikian kesimpulannya. Al Imam Ibnu Katsir telah menjelaskan kesalaffahaman tersebut dalam kitabnya Tafsîr al Qur’ân al Adzhim dalam membahas surah al Baqaran ayat 223.[25]

Pertama, mengenai celaan Al Ghazali terhadap pembesar tabi’in ini dengan mengatakan “seorang rawi yang kacau pikirannya” adalah hal yang sesungguhnya tidak perlu diucapkan. Dalam hal ini Al Ghazali jelas sekali jatuh kedalam kesalahan yang fatal meskipun dimungkinkan ini sebuah kekhilafan. Padahal, Al Ghazali sendiri memiliki tulisan sebuah buku bertemakan akhlaq dengan berjudul Khuluq al Muslim. Di dalam buku tersebut ia bahkan berkata; “Ucapan yang indah selalu Indah, baik berhadapan dengan kawan maupun lawan, ia mempunyai buah yang manis rasanya. Ucapan indah bersama kawan dapat melanggengkan persahabatan dan menutup tipu daya setan yang berusaha untuk memutuskan tali persaudaraan.” Kemudian Al Ghazali mengutip ayat al Qur’an surah al Baqarah ayat 83.[26] Pertanyaannya, mengapa terhadap seorang kibar tabi’in ia justeru berkata tidak baik ?.

Kedua, tentang kesepakatan ahli hadits untuk menerima periwayatan sahabat Nafi’ merupakan hujjah terkuat untuk menolak pendapat Al Ghazali. Penulis mencoba menyebutkan sejumlah pendapat para ulama yang dinukil oleh Al Hafidz Abi al Hajjaj Yusuf al Mizzi rahimahullâh (Imam Al Mizzi) dalam kitabnya Tahdzîb al Kamâl fî Asmâ’ ar Rijâl.[27] Berikut ini komentar-komentarnya;

1. Imam Muhammad bin Sa’ad dalam Thabaqahnya didalam tahabah ke tiga ahlul madinah mengatakan; “ Nafi’ seorang yang stiqah, meriwayatkan banyak hadits.” (Thabaqah, Jilid IX, hal. 192)

2. Berkata Imam Al Bukhari, “Sanad yang paling shahih” yakni sanad dari Malik, dari Nafi’ dari Ibnu Umar.

3. Basyar bin Umar Az Zahrani mengatakan, Malik bin Anas mengatakan; “Bila aku mendengar hadits dari Nafi’ dari Ibnu Umar, maka aku tidak akan perduli untuk tidak mendengar selainnya.” (Al Bukhari, Târîkh Kabîr, jilid VIII, hal. 2270)

4. Nu’aim bin Hammad juga berkata, bahwa Sufyan bin ‘Uyainah berkata; “Aku mendengar Ubaidillah bin Umar berkata; ‘Sunnguh Allah telah menganugerahkan kepada kita dengan Nafi’.’” (Jarah wa at Ta’dîl, jilid VIII, hal. 2070)

5. Disebutkan pula oleh ‘Arim dari Ubaidillah bin Umar bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengutus Nafi’ ke negeri Mesir untuk mengajarkan sunnah. (Ibnu Sa’ad, Thabaqah, Jilid IX, hal. 162)

6. ‘Ali bin ‘Amru al Anshari berkata dari Hatsim bin ‘Adi bahwa hadits Nafi’ diriwayatkan oleh al Jama’ah. (Al Jarah wa at ta’dîl, jilid VIII, hal. 2070 dan Jilid V, hal. 467)

Selain itu, di dalam muqaddimah kitab Ulûm Al Hadîts karya Imam Ibnu Shalah disebutkan bahwa; “Sanad yang paling shahih adalah riwayat Nafi’ dari Ibnu Umar.” (Ibnu Shalah, Ulûm al hadîts, hal. 85). Sementara itu didalam kitab Tahdzîb at Tahdzîb Al Khalili berkata; “Nafi’ termasuk imamnya para tabi’in di Madinah, imam dalam ilmu, disepakati akan kepercayaannya, riwayatnya shahih, sebagian para ulama ada yang mendepankan Salim atasnya dan diantara mereka ada yang menyetarakannya dengan Salim, dan tidak diketahui bahwa ia memiliki kesalahan dalam periwayatannya.” (Tahdzîb at Tahdzîb, Jilid X, hal. 370)

Dengan ini, penolakan Al Ghazali terhadap periwayatan melalui jalur Nafi’ dapat dikatakan tidak tepat.

c. Penolakan terhadap hadits Ahad dalam masalah pokok Agama

Al Ghazali menyatakan dirinya bahwa selama ia berada di Al Azhar selama kurang lebih setengah Abad dan belajar di Al Azhar kira kira 10 tahun ia berkesimpulan bahwa hadits ahadhanya memberikan faedah dhan amaly. Hadits tersebut dapat digunakan dalam masalah hukum, selama tidak ada yang lebih kuat dari padanya. Adapun dalil yang terkuat sebenarnya dapat dirujuk pada al Qur’an melalui dalil-dalil yang jauh maupun yang dekat, atau dari hadits yang mutawatir, atau perbuatan penduduk madinah. Dan ia juga menyebutkan bahwa masalah aqidah, rukun-rukunnya, serta pokok ilmu dalam agama hanya diambil dari hadits yang mutawatir, adapun hukum-hukum furu’ (cabang) dibolehkan menggunakan hadits ahad.[28]

Analisa

Dalam bukunya Fiqh as Shîrah Al Ghazali juga berpendapat bahwa hadits ahad bukanlah hujjah dalam aqidah. Ia mengatakan; “ Oleh karena itulah para ulama ahli penelitian hadits-hadits berpendapat bahwa hadits-hadits ahad harus ditolak jika ia berlainan dengan lahiriyahnya al Qur’an dan keumuman nash, atau tidak sejalan dengan qiyas yang didasarkan pada hukum-hukum al Qur’an itu sendiri. Mereka membedakan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh ulama ahli fiqih dan hadits-hadits yang hanya diriwayatkan oleh tokoh-tokoh penghafal hadits.[29] Terlihat sekali bahwa Al Ghazali mengedepankan hukum-hukum yang ada didalam al Qur’an jika kemudian realitas akal manusia melihat hadits-hadits Nabi bertentangan dengan apa yang disebutkan al Qur’an, meskipun hadits itu shahih. Pendapat seperti ini dikritik oleh Prof. Dr. Muhammad Mustafa ‘Azami di dalam bukunya “Studies in Early Hadith Literature” dan menyebut mereka yang berpendapat seperti ini sebagai Ahlul Qur’an.[30]

Prof. Dr. ‘Azami kemudian melakukan analisa dan sanggahan kelompok seperti ini dengan analisa sebagai berikut;[31]

1. Alasan bahwa hadits ahad itu bersifat dhanny (dugaan kuat) sedangkan kita diperintahkan mengikuti yang pasti (yaqin) maka sesungguhnya al Qur’an sendiri, meskipun kebenarannya telah diyakini namun tidak semua ayat memberikan faedah yakin. Sebab banyak juga ayat-ayat yang masih mengandung unsure dhan ad dilâlah.

2. Perbuatan yang dikecam Allah adalah mengikuti dhann, padahal ada yang pasti. Dhann yang diikuti adalah dhann yang berlawanan dengan al haqq (kebenaran) yang sudah jelas dan tegas. Dalam hal memakai hadits, justeru kita memakai dhann sesuai dengan perintah Allah, dan tidak berarti menentang kebenaran yang sudah pasti.

Prof. Dr. ‘Azami menggunakan hujjah sebagaimana yang pernah dikatan oleh Imam As Syafi’I rahimahullâh takkala ditanya tentang; “Apakah ada dalil yang besifat dhanni yang dapat menghalalkan suatu masalah yang telah diharamkan dengan dalil yang qath’i (yakin).” Imam Asyafi’i kemudian menjawab dengan balik melontarkan pertanyaan; “Bagaimana pendapatmu terhadap orang yang membawa harta yang ada disebelah saya ini, apakah orang itu haram dibunuh dan haratanya haram dirampas ?.” Mereka menjawab; “Ya demikian, haram dibunuh dan hartanya haram dirampas.” Imam As Syafi’i bertanya lagi; “Apabila ada dua orang saksi yang mengatakan bahwa orang tersebut baru saja membunuh orang lain dan merampok hartanya, bagaimana pendapatmu ?”. Mereka menjawab; “Ia mesti diqishas dan hartanya harus dikembalikan kepada ahli waris orang yang terbunuh tadi.” Imam As Syafi’i bertanya lagi; “Apakah tidak mungkin dua orang saksi tadi bohong atau keliru.” Mereka menjawab; “Ya mungkin.” Imam As Syafi’i melanjutkan; “Kalau begitu kamu telah membolehkan membunuh (mengqishas) dan merampas harta dengan dalil yang dhanny, padahal dua masalah itu sudah diharamkan dengan dalil yang pasti.” Mereka berkata lagi; “Ya, karena kita diperintahkan untuk menerima kesaksian.”[32]

Tentang hadits ahad ini, Al Ghazali juga menyebutkan pendiriannya tersebut didalam bukunya yang lain seperti; Qazâif al Haqq.[33] Di dalamnya terlihat jelas pula bahwa al Ghazali lebih mengedepankan akal untuk melihat hadits-hadits yang menurutnya bertentangan dengan akal. Seperti penolakannya terhadap hadits lalat dalam bejana, dimana menurutnya ia baru akan mempercayai hal itu bila penelitian ilmuan serangga berhasil menyebutkan bahwa sayap lalat adalah obat bagi bakteri yang dibawanya.[34] Padahal, sebagaimana yang dikatakan Dr. Muhammad Abu Syahbah dalam kitabnya Difâ’ ‘an as Sunnah menyebutkan keotentikan hadits lalat tersebut sebagaimana dua orang pakar hadits Dr. Mahmud Kamal dan Dr. Muhammad Abdul Mun’in Husein telah melakukan tahqiq secara mendalam dan berkesimpulan hadits bahwa tersebut shahih. [35] Kemudian Dr. Abu Syahbab menunjukkan sejumlah riset ilmiah baik dari dalam negeri (Mesir) maupun luar negeri seperti Inggris, serta penelitian-penelitian lainnya bahwa lalat memiliki bakteri dan anti bakteri sekaligus di dalam sayapnya.

Penjelasan tentang apakah hadits ahad benar-benar tidak dapat dijadikan hujjah dalam masalah aqidah sebenarnya tidaklah mesti demikian. Buktinya, banyak ulama bersepakat untuk menerima as shaihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) sebagai sumber hukum yang qath’i padahal ma’ruf diketahui bahwa banyak sekali didalamnya termuat hadits-hadits ahad. Syaikh Salim bin Ied al Hilaly mengumpulkan pendapat para ulama tersebut dalam kitabnya Al Adillah wa as Syawahid ‘ala Wujûb al Akhdi bikhabar al Wâhid fî al Ahkâm wa al ‘Aqâ’id. Berikut beberapa kutipannya;[36]

1. Imam Abu Ishaq al Isfiraini (W. 418 H) mengatakan; “Barang siapa menetapkan hukum yang berbeda dengan salah satu hadits yang terdapat dalam kitab shahihain dengan tanpa ta’wil yang benar, niscaya kita akan menolak hukum tersebut. Sebab hadits-hadits tersebut sudah diterima oleh seluruh umat (Lihat. As Syakhawi, Faht al Mughits, Jilid I, hal. 51).

2. Imam al Haramaian al Juwainy (W. 478 H) mengatakan; “Jika seseorang bersumpah untuk menceraikan istrinya, berdasarkan hadits yang terdapat dalam shahihain yang diriwayatkan dari Rasulullah, maka ia wajib menceraikan istrinya, karena adanya ijma’ ulama terhadap keshahihan hadits tersebut.” (Lihat, Tadrîb ar Râwi, Jilid I, hal. 131, 132)

3. Imam Ibnu as Shalah (W. 643 H) mengatakan; “Para ahli hadits sering menyebut hadits-hadits Bukhari dan Muslim dengan shahîh muttafaq ‘alaih, maksudnya ialah kesepakatan Imam al Bukhari dan Imam Muslim saja. Bukan kesepakatan seluruh umat. Tapi kesepakatan umat tentu pasti ada dan memang pasti terjadi. Karena mereka sepakat untuk menerima apa yang telah disepakati kedua ulama tersebut.” (Ibnu as Shalah, Ulûm al Hadîts, hal. 24, 25)

4. Imam Ibnu Taimiyah (W. 728) mengatakan; “Mayoritas hadits yang terdapat dalam shahih al Bukhari dan Muslim bisa dipastikan merupakan hadits yang pernah disabdakan oleh Rasulullah, karena memang demikian adanya. Para ulama sepakat untuk menerima dan membenarkannya. Umat Muhammad tidak pernah sepakat untuk merubah kesalahan. Kalau seandainya hadits tersebut bohong, lalu umat mempercayai dan menerimanya, berrati mereka telah sepakat dalam perkara dusta. Kesepakatan seperti ini adalah salah lagi terlarang … oleh karena itu jumhûr ‘ulamâ dari berbagai golongan berpendapat bahwa hadits Ahad yang diterima oleh umat, baik dengan mempercayainya ataupun mengamalkannya, mengangung pengertian pasti (‘ilmu). Inlah yang disebutkan oleh para penulis ushul fiqih baik yang bermazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i maupun Ahmad, kecuali beberapa golongan kecil yang menolak hal tersebut karena mengikuti alur fikiran serta pendapat kelompok mutakallimin. Meski demikian banyak juga diantara ahli kalam yang sependapat dengan para ahli fuqaha, ahli hadits dan ulama salaf dalam hal ini. Diantaranya adalah mayorias ulama’ As ‘Ariyah seperti; Abu Ishak dan Ibnu Furaq. Demikianlah yang disebut oleh Syaikh Abu Hamid, Abu Tayib, Abu Ishaq dan Ulama’ Syafi’iyah sekaliber mereka juga. Juga Syamsuddin as Sarakhsiy serta ulama Hanafiyah lainnya. Abu Ya’la, Abu al Khattab, Abu al Hasan As Saguni, dan ulama Hambali lainnya. Qadhi Abdul Wahhab dan ulama’ Maliki lainnya. Kalau seandainya ijma’ itu untuk membenarkan kepastian sebuah hadits, maka standar dalam hal ini adalah ijma’ para ulama’ yang mengetahui tentang perintah, larangan dan kebolehan.” (Lihat, Muqaddimah fî Ushûl at Tafsîr, hal. 66-69, Majmû’ al Fatâwâ, Jilid XVIII, hal. 40-48)

Di dalam kitab Syarah Al Bâ’its al Hastîst oleh Syaikh Ahmad Syakir rahimahllâh, menyebutkan sejulah pendapat para ulama tentang kedudukan hadits shahih yang periwayatannya ahad seprati; Mazhab Daud Ad Zhahiri, Husain bin Ali al Karabisi, Harist bin Asad al Muhasibi, Imam Malik, Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnu Shalah, Imam Daruquthni, Al Hafidz Muhammad bin Thahir al Maqdisi Abi Hamid Al Asyfaraanaini, dan lain-lainnya dengan kesepakatan bahwa hadits ahad memiliki kekuatan ‘ilmu yaqîn dan ilmu nadharî. Adapun bencana pembedaan antara al ‘ilmu dan adz Dzhann datang dari kelompok mutakallimin yang menginginkan penyelewengan makna dari apa yang tidak seharusnya.[37]

d. Pendapat al Ghazali tentang hadits malam Nisfu Sya’ban lebih kuat dari hadits musik

Dalam halaman ke 81 dari buku Al Ghazali yang dibahas disini, ia mengatakan bahwa hadits-hadits yang berbicara tentang malam Nisfu Sya’ban lebih kuat dari pada hadits-hadits tentang larangan mendengar musik. Dalam mengkritik hadits-hadits tentang musik, mayoritas pendapat Al Ghazali bepedoman dengan perkataan Imam Ibnu Hazm rahimahullâh yang mengatakan bahwa hadits-hadits seputar pelarangan mendengar muslik adalah lemah.[38]

Analisa

Pada keterangan ini penulis akan menyoroti dua hal perbincangan; 1) kedudukan hadits tentang malam Nisfu Sya’ban, dan 2) kedudukan hadits tentang mendengar musik kaitannya dengan apa yang disebutkan Ibnu Hazm sebagai rujukan utama Al Ghazali.

Pertama, Dr. A’idh Al Qarni di dalam bukunya Al islâm wa Qadâya al ‘Ashr menyebtukan sejumlah keritik terhadap pemikiran Al Ghazali, termasuk masalah komentarnya tentang hadits malam Nisfu Sya’ban. Menurut Al Qarni, perkiraan Al Ghazali bahwa hadits tentang malam Nisfu Sya’ban itu kuat kedudukannya melebihi hadits tentang mendengar nyanyian adalah tidak benar. Sebab, hadits-hadits yang menyebtukan keharaman nyanyian ada beberapa hadits yang kedudukannya shahîh. Sementara itu, keutamaan malam Nisfu Sya’ban tidak seorang imampun yang menyatakan shahîh kecuali Syaikh Al Bany rahimahullâh.[39]

Masih tentang hal diatas, Syakh Abdullah bin Abdul Aziz At Tuwaijiry didalam bukunya Al Bida’ al Hauliyah menyebutkan beberapa alasan mengapa ibadah di malam itu termasuk dalam katagori bid’ah.

1. Tidak ada dalil yang menjelaskan tetang kemuliaah malam itu dan tidak ada riwayat yang kuat –menuerut pelacakan saya- dari Rasulullah bahwasannya beliau meramaikannya (menghidupkan). Begitu juga para sahabat dan tabi’in, kecuali beberapa orang yang memuliakan dan meramaikanya. Mereka adalah tiga orang, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Rajab[40]. Walaupun demikian, hal itu tidak dapat menjadi bukti atas kemuliaan malam itu karena merupakan perkara baru setelah Nabi dan sahabat sehinggga dikategorikan dalam bid’ah, tidak ada asalnya baik dari Al Qur’an, sunnah maupun ijma’. Abu Syamah berkata; “Al Hafidz Abu Khithab bin Dahiyah berkata dalam bukunya Ma Jâ’a fî Syahri Sya’ban, ‘Ahli Jarh wa at Ta’dîl berkata, Tidak ada keuatamaan pada malam Nisfu Sya’ban yang menjelaskan berdasarkan hadits yang shahih. (Al Ba’its, hal. 33)

2. Ibnu Rajab berkata bahwa shalat malam Nisfu Sya’ban tidak ada dalilnya, baik dari Nabi maupun para sahabat. Akan tetapi itu hanya merupakan tradisi peninggalan tabi’in dari fuqaha penduduk Syam. (Lathaif al Ma’ârif, hal. 145) Ibnu Rajab sendiri selaku orang yang menukil riwayat dari sebagian tabi’in yang memuliakan malam ini di masjid-masjid dengan dzikir mengatakan bahwa riwayat-riwayat yang mereka jadikan sandaran adalah hadits-hadits Isrâ’iliyât.

3. Para ulama mutaakhir juga telah mengingkari hal ini sebagaimana hal itu dilakukan oleh Atha’ bin Abu Rabah sebagai mufti pada masanya. Sedangkan Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhu mengomentari kepribadian Abu Rabah dengan mengatakan; “Mengapa kalian menanyakan masalah ini padaku, sedangkan kalian memiliki seorang alim bernama Ibnu Abu rabah rahimahullâh. (Al Jarh wa At Ta’dîl, Jilid VI, hal. 230)

4. Begitu juga dengan pendapat mantan Ketua Lajnah Da’imah Saudi Arabiya Syaikh Abdul Aziz bin Baaz dimana beliau mengatakan; “Yang menjelaskan tentang kemuliaan malam Nisfu Sya’ban hanyalah hadits-hadits dha’îf yang tidak boleh dijadikan sandaran.” (At Tahdzîr min Al Bida’, hal. 11)

Demikian halnya dengan penegasan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam Al Fatâwâ al Kubrâ di mana beliau menyimpulkan bahwa shalat sunnah berjamaah semisal shalat Ragha’ib di awal hari jum’at dari bulan Rajab, shalat Alfiyah diawal Rajab, shalat Nisfu Sya’ban, serta shalat pada malam ke 27 di bulan Rajab dan semisalnya, ini semua tidak disyari’atkan (ghairu masyrû’) dengan kesepakatan Imam-imam kaum muslimin, sebagaimana di tekankan oleh para ulama’ mu’tabar. Dan hanya orang jahil mubtadi’ (pembuat bid’ah) saja yang menyelisihinya.[41]

Dibawah ini penulis mencoba menyebutkan satu hadits tentang malam Nisfu Sya’ban yaitu;

إِنَّ اللهَ لَيَطَّلِعُ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ، إِلَّا لمُِشْرِكٍ أًوْ مَشَاحِنٍ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menampakkan dari pada malam Nisfu Sya’ban, lalu mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik atau pendengki.”[42]

Kedua, tentang kedudukan hadits-hadits nyanyian yang disebutkan al Ghazali sebagai hadits yang lemah dan tidak masuk akal. Berikuti ini penulis mencoba menguraikan tulisan Ahmad bin Husein Al Azhari dalam kitabnya An Nûr al Kâsyif fî Bayâni Hukmu Ghinâ’ wa al Ma’adzib.

Memang benar, didalam kitab Majmû’ Rasâ’il Imam Ibnu Hazm rahimahullâh berkata; “Adapun hadits Al Bukhari, beliau tidak menyebutkan sanadnya secara utuh, ia hanya mengatakan; Hisyam bin Amr berkata…”. (Majmû’ Rasâ’il, Jilid I, hal. 434). Begitu pula di dalam kitab Al Muhalla Ibnu Hazm berkata; “Sanad ini terputus, tidak bersambung antara Al Bukhari dan Shadaqah bin Khalid.” (Al Muhalla, Jilid IX, hal. 59). Apa yang disebutkan oleh Ibnu Hazm ini lemah dari berberapa sisi diantaranya;[43]

1. Al Bukhari telah bertamu dengan Hisyam bin Ammar dan telah mendengar darinya. Jika Al Bukhari berkata; Hisyam bin Ammar berkata…, maka ucapan ini sama kedudukannya dengan perkataannya; Dari Hisyam bin Ammar.

2. Kalaupun Al Bukhari belum mendengar dari Hisyam, tentu tidak boleh bagi Al Bukhari mencantumkannya dengan shighah jazm, sementara Al Bukhari bukanlah seorang mudallis.

3. Beliau meriwayatkannya secara mu’allaq dengan shighah jazm bukan shighah tamridh.

4. Banyak komentar ulama lain yang mengatakan sanad hadits ini bersambung. Al Hafidz Ibnu Shalah di dalam kitab Ulûm al Hadîts mengatakan; “Tidak perlu diperhatikan lagi alasan yang diungkap oleh Ibnu Hazm Az Zhahiri dalam menolak riwayat Al Bukhari dari hadits Abu Amir atau Abu Malik Al Asy’ari … karena Al Bukhari telah meriwayatkannya dan mengatakan dalam riwayatnya; “Hisyam bin Ammar berkata” kemudian beliau menyebutkan sanadnya.[44]

5. Sesungguhnya hadits tersebut tidak terputus sanadnya sebagaimana klaim Ibnu Hazm. Sebab Hisyam bin Ammar adalah guru Al Bukhari, ia telah bertamu dengannya dan mendengar hadits darinya. Al Bukhari juga telah menyebutkan dua hadits melalui riwayat Hisyam selain hadits ini. Dengan demikian hadits ini sudah memenuhi syarat Al Bukhari.

Al Ghazali dalam paragraf yang lain juga menolak tafsiran para sahabat atas surah Luqman ayat 6 juga dengan menggunakan hujjah Ibnu Hazm. Allah berfirman;

z`ÏBur Ĩ$¨Z9$# `tB “ÎŽtIô±tƒ uqôgs9 Ï]ƒÏ‰ysø9$# ¨@ÅÒã‹Ï9 `tã È@‹Î6y™ «!$# ΎötóÎ/ 5Où=Ïæ $ydx‹Ï‚­Gtƒur #·râ“èd 4 y7Í´¯»s9ré& öNçlm; Ò>#x‹tã ×ûüÎg•B ÇÏÈ

Artinya: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan Perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Lukman: 6)

Mengenai ayat ini Ibnu Hazm mengatakan, tidak ada hujjah dalam tafsir ini ditinjau dari bebreapa sisi: pertama, Tidak ada hujjah siapapun selain Rasulullah. Kedua, Hal ini telah diselisihi oleh para sahabat dan tabi’in lainnya. Ketiga, Nash ayat membatalkan hujjah mereka, Karena ayat ini menceritakan tentang sifat orang-orang yang mempergunakan perkataan sia-sia untuk menyesatkan manusia dari Jalan Allah Ta’ala tanpa ilmu dan menjadikannya sebagai bahan permainan. Ini adalah sifat, barang siapa memiliki sifat ini, maka ia kafir tanpa ada perbedaan pendapat.[45]

Perkataan ini dapat dianalisa dan dibandingkan dengan berapa pernyataan sebagai berikut;

Pertama, yang dimaksud dengan lahwul hadîts menurut tafsiran para sahabat justru adalah nyanyian.[46] Sebagaimana dinukil oleh Imam At Thabari bahwa sahabat Ibnu Mas’ud ditanya tentang ayat ini dan beliau menjawab; “Itu adalah nyanyian, Demi Yang tiada sesambahan selain-Nya. Beliau mengucapkan (sumpah itu) tiga kali.” [47] Demikian pula dengan sahabat Ibnu Abbas radhiyallâhu ‘anhum ketika menafsirkan ayat itu beliau mengatakan; “Itu adalah nyanyian dan yang semacamnya.”[48] Demikian halnya dengan ungkapan generasi tabi’in seperti Mujahid, Hasan al Bashri, Al Wahidi dan lain-lain.[49]

Kedua, pendapat jumhur ulama adalah menerima periwayatan atau perkataan para sahabat sebagai hujjah. Imam Ibnu Qayyim di dalam kitab I’lâm al Muwaqqi’în ‘an Rabb Al ‘Alamîn mengatakan; “Para Imam kaum muslimin seluruhnya menerima perkataan para sahabat.”[50] Kemudian beliau mengutip surah At Taubah ayat 100 sebagai dalil utama.

V. Kesimpulan

Dari pemaparan di atas, maka penulis mencoba menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut;

1. Imam Ibnul Jauzi dalam kitabnya Talbîs al Iblîs mengatakan bahwa pada hakikatnya tipu daya setan juga menjangkau kalangan ulama diberbagai bidang ilmu. Termasuk para pakar hadits dan para pakar fiqih. Diantara mereka ada yang meriwayatkan hadits-hadits maudhû tanpa menjelaskan kemaudhû’annya. Diantara mereka ada juga yang menarik kesimpulan sebuah permasalahan fiqih tanpa mengetahui pemahaman ayat yang sebenarnya dan tidak mengetahui ilmu tentang kuat atau lemahnya riwayat hadits.[51] Dengan demikian, jika seseorang mengaku dirinya ahli hadits dan ahli fiqih, maka seyogyanyalah ia menunjukkan kekuatan ilmu di atas jalan yang telah ditempu oleh jumhur ulama dan mayoritas ulama salaf.

2. Sifat rasionalitas yang dimiliki Al Ghazali dalam memahami agama memang membawanya kepada ketidak percayaan terhadap hadits-hadits yang menurut relaitas tidak lazim atau tidak tepat. Al Ghazali memang cenderung kepada apa yang mudah menurut keumuman manusia

3. Dari bebarapa pendapatnya, banyak sekali ulama yang mengkritik dan menjelaskan betapa kesalahan Al Ghazali dan menganggapnya terlalu mudah menyimpulkan perkara tanpa kekuatan hujjah, sebagaimana yang pernah di singgung oleh Aidh Al Qarni.

4. Meski demikian, sejumlah tokoh-tokoh ulama modern khususnya di Mesir melihat bahwa sepat terjang Al Ghazali merupakan conoth bagi gerakan Islam di kota tersebut, oleh karenanya tidak banyak dari mereka yang mengkritik pemikirannya.

——- Wa Allâhu A’lam bi as Shawâb ——

DAFTAR PUSTAKA

1. Abdul Adzîm al Dîb, Yûsuf al Qardhawi; Kalimât fî Takrîmihi wa Buhûtun fî Fikrihi wa Fiqhihi, Mesir: Dâr as Salâm, 2004, Jilid I

2. Abdurrahman Ibn al Jauzy al Baghdadi, Talbîs al Iblîs, tahqiq, Dr. Ahmad Hijazi As Saqa’, ttp. Maktabah ats Tsaqâfah ad Dîniyah, tt

3. Abu Aminah Bilal Philips, Essay on The Jinn (Demons), Terj. Eldin M. Akbar, Jakarta: Cendekia Sentra Muslim, 2002.

4. Ahmad bin Husein Al Azhari, An Nûr al Kâsyif fî Bayâni Hukmu Ghinâ’ wa al Ma’adzib.terj. Abu Ihsan Al Atsari, Surakarta: Dâr an Naba’, 2007

5. Ahmad Muhammad Syakir, Al Bâ’its al Hatsîts Syarah Ikhtishâr ‘Ulûm al Hadîts, Mesir: Dâr at Turâts, 1979

6. Aidh Al Qarni, Al islâm wa Qadâya al ‘Ashr, terj. Abu Umar Basyir, Solo: Wacana lmiah Press, 2007

7. Al Hafidz Abi al Hajjaj Yusuf al Mizzi, Tahdzîb al Kamâl fî Asmâ’ ar Rijâl,Tahqîq, Dr. Bashar ‘Awwad Ma’ruf, Beirut: Mu’assasah ar Risâlah, 1996, Jilid XXIX

8. Al Hâfidz Ibnu Katsir, Tafsîr al Qur’ân al Adzîm, Muraja’ah, Syaikh Khalid Muhammad Muharram, Beirut: Maktabah al ‘Ashriyyah, 2000, jilid I

9. Al Mustayar Abdullah Al – Aqil, Min ‘Alâmi al Harakah wa Ad Da’wah Al Islâmiyah Al Mu’âsyirah, Terj. Khozin Abu Faqih, Jakarta: Al I’tishom, 2003

10. Ali Abdul Halim Mahmud, Manhaj At Tarbiyah ‘inda al Ikhwân al Muslimîn, terj. Syarif Halim, Jakarta: Gema Insani Press, 1977

11. Hendri Mohammad, et, all., Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, 2006

12. Heri Sucipto, Ensiklopedi Tokoh Islam; Dari Abu Bakar sampai Nashr dan Qardhawi, Bandung: Hikmah, 2003

13. Ibnu Jarir At Thabari, Jâmi’ al ‘Ulûm fî Tafsîr al Qur’ân, Beirut: Dâr al Jîl, 1987, Jilid, X

14. Ibnu Qayyim Al Jauziyah, I’lâm al Muwaqqi’în ‘an Rabb al ‘Alamîn. Beirut: Dâr al Jîl, tt, Jilid, IV

15. Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Zâd al Ma’âd, Beirut: Mu’assasah Ar Risâlah, 1998, Jilid IV

16. Taqiyuddin Ibnu Taimiyah al Harani, Mafhûm al ‘Ubudiyyah fî al Islâm, Takhrij Muhammad as Syîmi Sahât, Iskandariyah: Dâr as Syahâb, 1994

17. Majalah Al Furqon edisi ke 9 tahun ke V, Mei 2006

18. Muhamamad bin Abu Syahbab, Difâ’ ‘an as Sunnah wa Radd Syubhah al Mustasyriqîn wa al Kuttâb al Mu’asyirîn, Beirut: Dâr al Jîl, 1991

19. Muhammad Al Ghazali, As sunnah an Nabawiyah baina Ahl Fiqh wa Ahl Hadîts, Mesir: Dâr as Surûq, 2003

20. Muhammad Al Ghazali, Fiqh As Sîrah, Terj. Abu Laila, Bandung: Al Ma’arif, tt

21. Muhammad Al Ghazali, Khuluq al Muslim, Kuwait: Dâr al Bayân, 1970

22. Muhammad Al Ghazali, Qadzâif al Haqq, Mesir: Dâr Dzât al Salâsil, 1976

23. Muhammad bin Abdullah As Sibli, Ahkâm al Jânn, Beirut: Dâr Ibn Zaidûn, 1985, Tahqîq, Dr. Sayyid al Jamili

24. Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, Fadhlullâh ash Shamad fî Tawdhîh al Adâb al Mufrâd, Suria: Al Maktabah al Islâmiyah, 1969, Jilid II

25. Muhammad bin Shalih al Utsaimin, Fatâwâ al ‘Aqîdah, Mesir: Dâr Ibn Haitsam, 2002

26. Muhammad Mustafa ‘Azami, Studies in Early Hadith Literature, terj. Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub, Jakarta: Pustaka firdaus, 2000

27. Muhammad Mustafa ‘Azami, Studies in Hadith Methodology and Literature, terj. A. Yamin, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996

28. Muhammad Sa’id Myrsi, ‘Adzoma’ al Islâm, terj. Khoirul Amru, Pustaka Al Kautsar, 2007

29. Muslim Atsari, Adakah Musik Islami, Solo: At Tibyan, 2003, hal. 33-34

30. Nuruddin ‘Atar, Manhaj an Naqd fI ‘Ulûm al Hadîts, Beirut: Dâr al Fikr al Ma’âshir, 1997

31. Salim bin al Ied al Hilali, Al Adillah wa as Syawahid ‘ala Wujûb al Akhdi bi Khabar al Wâhid fî al Ahkâm wa al ‘Aqâ’id, terj. Normal sho’iman, Jakarta: Pustaka as Sunnah, 2006

32. Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badar, Rifqan Ahl as Sunnah bi Ahl as Sunnah, terj. Abu Shalih, Bandung: Titian Hidayah Ilahi, 2004

33. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmû’ al Fatâwâ, Ttp.. Majlis a Islamî Al Asiwwai; Lajnah ad ad’awah wa at Ta’lîm, 1997, Jilid XXIV

34. Taqiyuddin Ibnu Taimiyah al Harani, Al Fatâwâ al Kubrâ, Beirut: Dâr al Qalâm, 1987, Jilid II

35. Wahid Abdus Salam Bali, As Shrim al Bathâr fî at Tashaddi lissaharati al Asyrâr, terj. Annur Rafiq Shaleh, Jakarta: Rabbani Press, 2002

36. Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, Ruqyah; Mengobati Guna-guna dan Sihir, Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2005

37. Yusuf Al Qardhawi, Syaikh Al Gazali Kamâ ‘Araftuhu, Beirut: Dâr Syurûq, 2000

38. Zaenal Abidin Suamsuddin, Ensiklopedi Penghujatan Terhadap Sunnah, Jakarta: Pustaka Imam Abu Hanifah, 2007



[1] Makalah ini dibuat untuk menyelesaikan tugas perkuliahan Studi Ilmu Hadits pada Program Pasca Sarjana, Jurusan Pendidikan, Konsentrasi Pemikiran Islam, Universitas Ibn Khaldun.

[2] Muhammad Mustafa ‘Azami, Studies in Hadith Methodology and Literature, terj. A. Yamin, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996, hal. 27 & 22-23

[3] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan ma’na ibadah adalah sesagala sesuatu yang mencakup apa-apa yang dicintai dan di ridhai Allah baik berupa perkataan maupun perbuatan lahiriyah dan bathiniyah. Lihat, Ibnu Taimiyah, Mafhûm al ‘Ubudiyyah fî al Islâm, Takhrij Muhammad as Syîmi Sahât, Iskandariyah: Dâr as Syahâb, 1994, hal. 1

[4] Imâm Ibnu Rajab Al Hanbali, Jami al Bayân Fadhl al Ilmi, Jilid II, hal. 48. Kalimat ini dikutip oleh Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badar dalam kitabnya Rifqan Ahl as Sunnah bi Ahl as Sunnah. Lihat, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abbad Al Badar, Rifqan Ahl as Sunnah bi Ahl as Sunnah, terj. Abu Shalih, Bandung: Titian Hidayah Ilahi, 2004, hal. 59

[5] Zaenal Abidin Suamsuddin, Ensiklopedi Penghujatan Terhadap Sunnah, Jakarta: Pustaka Imam Abu Hanifah, 2007, hal. 265

[6] Al Mustayar Abdullah Al – Aqil, Min ‘Alâmi al Harakah wa Ad Da’wah Al Islâmiyah Al Mu’âsyirah, Terj. Khozin Abu Faqih, Jakarta: Al I’tishom, 2003, hal. 16-17

[7] Muhammad Sa’id Myrsi, ‘Adzoma’ al Islâm, terj. Khoirul Amru, Pustaka Al Kautsar, 2007, hal. 329-330

[8] Hasan Al Banna mendirikan Ikhwan al Muslimin setelah didatangi oleh enam orang yang mengaku tertarik dengan dakwahnya. Pendirian itu sendiri pada mulanya sangatlah sederhana. Ikhwan tercatat didirikan pada bulan Dzul Qa’idah 1346 H / Maret 1928 M. Lihat, Ali Abdul Halim Mahmud, Manhaj At Tarbiyah ‘inda al Ikhwân al Muslimîn, terj. Syarif Halim, Jakarta: Gema Insani Press, 1977, hal. 25

[9] Heri Sucipto, Ensiklopedi Tokoh Islam; Dari Abu Bakar sampai Nashr dan Qardhawi, Bandung: Hikmah, 2003, Hal. 341

[10] Hendri Mohammad, et, all., Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20, Jakarta: Gema Insani Press, 2006, hal. 236

[11] Pertemuan al Ghazali dengan Dr. Yusuf al Qardhawi dimulai sejak tahun 1949 M di Turisaina bersama dengan 1000 orang mu’min lainnya. Ketika itu al Qardhawi masih sebagai mahasiswa di Al Azhar sedangkan al Ghazali adalah seorang da’i dari masjid ke masjid. Al Ghazali mengatakan; pertemuan dan perkumpulan ketika mereka bertemu adalah untuk sebuah perjuangan mengakkan Islam yaitu syari’ah dan aqidahnya. Lihat. Abdul Adzîm al Dîb, Yûsuf al Qardhawi; Kalimât fî Takrîmihi wa Buhûtun fî Fikrihi wa Fiqhihi, Mesir: Dâr as Salâm, 2004, Jilid I, hal. 31

[12] Yusuf Al Qardhawi, Syaikh Al Gazali Kamâ ‘Araftuhu, Beirut: Dâr Syurûq, 2000, hal. 280-283

[13] Muhammad Al Ghazali, As sunnah an Nabawiyah baina Ahl Fiqh wa Ahl Hadîts, Mesir: Dâr as Surûq, 2003, hal. 114

[14] Al Ghazali menyebutkan dua hadits tersebut tampa menyebutkan rawi dan kedudukannya. Lihat, Muhammad Al Ghazali, As sunnah an Nabawiyah baina Ahl Fiqh wa Ahl Hadîts, hal. 116

[15] Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di dalam Fath al Bari, Jilid II, hal. 253, Imam Muslim dalam Syarah Nawawi, Jilid IV, hal. 168

[16] Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di dalam Fath al Bari, Jilid VIII, hal. 212, Imam Muslim dalam Syarah Nawawi, Jilid XV, hal. 121

[17] Wahid Abdus Salam Bali, As Shrim al Bathâr fî at Tashaddi lissaharati al Asyrâr, terj. Annur Rafiq Shaleh, Jakarta: Rabbani Press, 2002, Jal. 14

[18] Muhammad bin Shalih al Utsaimin, Fatâwâ al ‘Aqîdah, Mesir: Dâr Ibn Haitsam, 2002, hal. 200

[19] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmû’ al Fatâwâ, Ttp.. Majlis a Islamî Al Asiwwai; Lajnah ad ad’awah wa at Ta’lîm, 1997, Jilid XXIV, hal. 272. Kajian pemikiran Syaikhul Islam tentang Jin dapat dilihat dalam tulisan Abu Aminah Bilal Philips Essay on The Jinn (Demons). Tulisan yang diselesaikan di Riyadh 1988 ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Lihat, Abu Aminah Bilal Philips, Essay on The Jinn (Demons), Terj. Eldin M. Akbar, Jakarta: Cendekia Sentra Muslim, 2002.

[20] Muhammad bin Abdullah As Sibli, Ahkâm al Jânn, Beirut: Dâr Ibn Zaidûn, 1985, Tahqîq, Dr. Sayyid al Jamili, hal. 143-144

[21] Kata ruqyah jama’nya adalah ruqâ, yaitu bacaan-bacaan untuk pengobatan yang syar’I, yang berdasarkan pada riwayat yang shahih atau sesuai denagn ketentuan-ketentuan yang dijelaskan syari’at. Lihat, Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, Ruqyah; Mengobati Guna-guna dan Sihir, Bogor: Pustaka Imam Syafi’I, 2005, hal. 1

[22] Riwayat ini dishahihkan oleh Al Arnaut dalam takhrij kitab Zâd al Ma’âd. Lihat, Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Zâd al Ma’âd, Beirut: Mu’assasah Ar Risâlah, 1998, Jilid IV, hal. 62. Ibnu Asakir juga telah mencatat riwayat dari Usamah bin Zaid, sama dengan hadits dari Ya’la dalam kitab Al Ahkâm al Murjân fi Ahkâm al Jânn, hal. 14. Imam Ahmad mengeluarkan pula hadits ini dalam musnadnya, Jilid IV, hal. 170, 171, 172.

[23] Muhammad Al Ghazali, As sunnah an Nabawiyah baina Ahl Fiqh wa Ahl Hadîts, hal. 127-129

[24] Majalah Al Furqon edisi ke 9 tahun ke V, Mei 2006 dalam rubrik “Hadits” yang ditulis oleh Abu Ubaidah Al Atsari mengupas persoalan ini. Dalam hal ini penulis banyak merujuk kepada tulisan beliau.

[25] Al Hâfidz Ibnu Katsir, Tafsîr al Qur’ân al Adzîm, Muraja’ah, Syaikh Khalid Muhammad Muharram, Beirut: Maktabah al ‘Ashriyyah, 2000, jilid I, hal. 233-226

[26] Muhammad Al Ghazali, Khuluq al Muslim, Kuwait: Dâr al Bayân, 1970, hal. 94

[27] Al Hafidz Abi al Hajjaj Yusuf al Mizzi, Tahdzîb al Kamâl fî Asmâ’ ar Rijâl,Tahqîq, Dr. Bashar ‘Awwad Ma’ruf, Beirut: Mu’assasah ar Risâlah, 1996, Jilid 29, hal. 3003-306

[28] Muhammad Al Ghazali, As sunnah an Nabawiyah baina Ahl Fiqh wa Ahl Hadîts, hal. 74-76

[29] Muhammad Al Ghazali, Fiqh As Sîrah, Terj. Abu Laila, Bandung: Al Ma’arif, tt, hal. 73

[30] Muhammad Mustafa ‘Azami, Studies in Early Hadith Literature, terj. Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub, Jakarta: Pustaka firdaus, 2000, hal. 55

[31] Muhammad Mustafa ‘Azami, Studies in Early Hadith Literature, hal. 57-59

[32] Muhammad Mustafa ‘Azami, Studies in Early Hadith Literature, hal. 58. Prof. Dr. Mustafa Azami mengutip dari kitab Al Umm, Jilid VII, hal. 252

[33] Muhammad Al Ghazali, Qadzâif al Haqq, Mesir: Dâr Dzât al Salâsil, 1976, hal. 124

[34] Muhammad Al Ghazali, Qadzâif al Haqq, hal. 125

[35] Muhamamad bin Abu Syahbab, Difâ’ ‘an as Sunnah wa Radd Syubhah al Mustasyriqîn wa al Kuttâb al Mu’asyirîn, Beirut: Dâr al Jîl, 1991, hal. 345-350

[36] Salim bin al Ied al Hilali, Al Adillah wa as Syawahid ‘ala Wujûb al Akhdi bi Khabar al Wâhid fî al Ahkâm wa al ‘Aqâ’id, terj. Normal sho’iman, Jakarta: Pustaka as Sunnah, 2006, hal.196- 205

[37] Ahmad Muhammad Syakir, Al Bâ’its al Hatsîts Syarah Ikhtishâr ‘Ulûm al Hadîts, Mesir: Dâr at Turâts, 1979, hal. 29-31. Dr. Nuruddin ‘Atar juga mengatakan bahwa kedudukan hadits shahih adalah wajib untuk diamalkan, meskipun ia diriwayatkan secara ahad atau tidak mencapai derajat mutawatir. Hal itu berdasarkan ijma’ para ulama ahli hadits, ahli ushul dan para fuqaha. Lihat, Nuruddin ‘Atar, Manhaj an Naqd fI ‘Ulûm al Hadîts, Beirut: Dâr al Fikr al Ma’âshir, 1997, hal. 244

[38] Muhammad Al Ghazali, As sunnah an Nabawiyah baina Ahl Fiqh wa Ahl Hadîts, hal. 81-85

[39] Aidh Al Qarni, Al islâm wa Qadâya al ‘Ashr, terj. Abu Umar Basyir, Solo: Wacana lmiah Press, 2007, hal. 262

[40] Khalid bin Ma’dan, Makhul, dan Luqman bin Amir rahimahumullâh.

[41] Taqiyuddin Ibnu Taimiyah al Harani, Al Fatâwâ al Kubrâ, Beirut: Dâr al Qalâm, 1987, Jilid II, hal. 6

[42] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah didalam sunanya, Jilid ke 1, halaman 455 dalam kitab Iqâmah ash Shalâh hadits nomor 1390. Al Bushiri berkata dalam Zawâ’id Ibnu Majah jilid ke 2 halaman 10, sanad hadits Abu Musa ini lmeh karena Abdullah bin Luhai’ah lemah dan Al Walid bin Muslim dinilai sebagai Mudallas. Imam At Tabrani meriwayatkan dalam Al Mu’jam al Kabîr dari sahabat Mu’adz bin Jabal, Jilid XX, halaman 107-108. Sementara itu Al Haitsami mengomentari dalam Masma’ az Zawâ’id, jilid ke 8 halaman 65, At Tbrani dalam Al Kabir wa Al Ausath, keduanya rijal tsiqah dan Ibnu Hibban dalam shaihnya. Lihat Mawarid Adz Zam’an, hal. 486, kitab Al Adab hadits no. 1980. Meski demikian, hadits ini sama sekali bukanlah pengkhususan malam Nisfu Sya’ban, dengan malam-malam lainnya kerna betentangan dengan hadits-hadits shahih lainnya.

[43] Ahmad bin Husein Al Azhari, An Nûr al Kâsyif fî Bayâni Hukmu Ghinâ’ wa al Ma’adzib.terj. Abu Ihsan Al Atsari, Surakarta: Dâr an Naba’, 2007, hal. 78

[44] Ahmad bin Husein Al Azhari, An Nûr al Kâsyif fî Bayâni Hukmu Ghinâ’ wa al Ma’adzib, hal. 79

[45] Muhammad Al Ghazali, As sunnah an Nabawiyah baina Ahl Fiqh wa Ahl Hadîts, hal. 84-85

[46] Muslim Atsari, Adakah Musik Islami, Solo: At Tibyan, 2003, hal. 33-34

[47] Ibnu Jarir At Thabari, Jâmi’ al ‘Ulûm fî Tafsîr al Qur’ân, Beirut: Dâr al Jîl, 1987, Jilid, X, hal, 39. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahîh.

[48] Muhammad bin Isma’il Al Bukhari, Fadhlullâh ash Shamad fî Tawdhîh al Adâb al Mufrâd, Suria: Al Maktabah al Islâmiyah, 1969, Jilid II, hal. 690 (hadits. No. 1265). Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkannya dengan sanad yang shaîh.

[49] Lihat pula kitab Al Bukhari dalam Târikh, Jilid II, hal. 217.

[50] Ibnu Qayyim Al Jauziyah, I’lâm al Muwaqqi’în ‘an Rabb al ‘Alamîn. Beirut: Dâr al Jîl, tt, Jilid, IV, hal. 123

[51] Abdurrahman Ibn al Jauzy al Baghdadi, Talbîs al Iblîs, tahqiq, Dr. Ahmad Hijazi As Saqa’, ttp. Maktabah ats Tsaqâfah ad Dîniyah, tt, hal. 167-176

About these ads

Responses

  1. thanks tulisannya

  2. thanks tulisannya

  3. Sama-sama kawan…. semoga bermanfaat ya ?


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: